
Singkat cerita, hari ini pasangan Abiseka dan Faiha akan bertandang ke salah satu negara eropa yaitu Prancis untuk berbulan madu. Pasangan pengantin baru itu sudah berada di bandara di antar oleh orang tua mereka termasuk eyang Retno yang memaksa untuk ikut mengantar kepergian cucu dan cucu menantunya.
"Baik-baik di sana ya,sayang. Selamat bersenang-senang dan yang giat membuatkan cucu untuk kami!"
"Iya Ma, terima kasih dan..."
"Pasti Ma, kami akan berusaha.Tunggu kabar baik dari kami, oke." Itu Abiseka yang menanggapi pertanyaan dari sang Mama.
Mama Malika dan Eyang Retno pun terkekeh geli melihat putra dan cucu mereka yang begitu antusias untuk berbulan madu. Sedangkan Faiha sudah tak bisa di kondisikan lagi raut wajahnya yang sudah memerah bak tomat masak. Sungguh keluarga yang harmonis dan kompak.
"Da da...selamat jalan dan selamat bersenang-senang. Yang semangat ya, nak!"Mama Malika, Eyang Retno melambaikan tangan penuh semangat.Sedangkan Papa Aryan menggelengkan kepala melihat kelakuan konyol istri dan ibunya itu.Tentu saja semangat dalam hal itu, keduanya benar-benar sudah kebelet ingin segera menimang bayi Abiseka dan Faiha.
Setelah menempun perjalanan selama hampir 17 jam.Akhirnya mereka pun telah tiba di kota Paris. Saat ini keduanya sudah berada di dalam kamar yang telah di persiapkan untuk pasangan yang akan berbulan madu.Kamar yang spesial pesanan Mama Malika.
"Wah–kamarnya sangat mewah dan juga pemandangan dari sini begitu indah. Itu menara Eiffel, wah–" Faiha begitu terkesima dengan suasana kamar dan juga ia berlari kecil menuju ke balkon, pemandangan pertama yang terlihat di matanya adalah menara Eiffel. Gadis bertubuh mungil itu seakan tak percaya bahwa ia bisa melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri wujud asli bangunan megah tersebut.
"Ck–dasar kampungan, memangnya kamu tidak pernah pergi liburan ya? Paling jauh cuma ke monas, mesti itu." Abiseka tersenyum mengejek Faiha.
"Ih–menghina sekali. Memang, saya tidak pernah pergi berlibur kemanapun bahkan hanya keluar kota saya tidak pernah.Kayak Tuan sudah pernah ke Monas saja,"
Abiseka terdiam tak menjawan, membuat Faiha semakin penasaran dan timbul keisengannya untuk mengejek suami sombongnya itu.
"Kenapa Tuan diam? Hah...sudah pasti anda juga belum pernah kan mengunjungi Monas.Bisa-bisanya.dia meledek orang lain. Ck–"
"Eh eh, siapa bilang belum pernah.Ya tentu saja sudah lah. Waktu masih kecil sama mama dan papa." Abiseka berkata dengan suara yang di pelankan dan wajah malunya.
"Bmpp–jadi, Tuan ke sana bersama ma–nyonya Malika dan tuan Aryan. Hahaha...dasar anak mami dan papi." Faiha malah tertawa mengejek suaminya.
Abiseka dongkol dan kesal merasa di remehkan oleh istri mungilnya yang selalu membuatnya gemas, gemas ingin menguyel-uyelnya.
"Ish,sepertinya kamu memang harus di beri pelajaran ya. Lihat saja nanti, tunggu hukumanmu gadis tengil."
"Siapa takut,nanti kalau Tuan macam-macam akan saya adukan pada nyonya Malika. weeek...mandi ah." Faiha dengan santainya berjalan berlenggak lenggok mirip ondel-ondel, membuka kopernya dan tetiba matanya terbelalak melihat penampakan isi kopernya.
"What–? Apa-apaan ini? siapa yang menukar isi koperku atau jangan-jangan memang tertukar dengan koper orang lain ya?aduh...gimana ini." Faiha menggeleng frustasi.
__ADS_1
Abiseka pun penasaran dan beranjak mendekat melihat apa yang membuat Faiha uring-uringan seperti itu. Dan saat ia melihat isi dalam koper milik sang istri, sontak mata Abiseka tak kalah terkejut. Sejak kapan istrinya menyukai baju-baju semacam itu?
Terdapat beberapa gaun yang cukup terbuka namun,tampak anggun dan yang lebih membuatnya tercengang adalah adanya lingerie-lingerie sexy dengan berbagai warna dan model yang tentunya sungguh menggoda iman seorang Abiseka.
"Woww–It's so...sexy!" Melongo sambil tak lepas menatap baju-baju sexy tersebut.
"Wow, wow, apanya yang wow sih? Ini adalah suatu kesialan. Bagaimana bisa koperku bisa tertukar dengan milik orang lain? Lalu, bagaimana ini."
Sudah hampir menangis dia membayangkan akan mengenakan baju-bahu yang baginya kurang pantas, tidak pantas malah untuk dikenakan.
"Mana coba aku lihat?"Abiseka meraih satu helai gaun dan mengangkatnya serta memperhatikannya dengan seksama dan tetiba ia pun langsung terkekeh geli.
"Kenapa anda malah tertawa? bukannya perihatin terhadap nasib saya...menyebalkan." Faiha mendengus sebal dan membuang muka.
"Apa kamu ini tidak sadar, coba kamu lihat dan perhatikan semua baju-baju itu. Aku rasa kopermu memang tidak tertukar,kok.Semua size nya sesuai dengan ukuran badanmu yang kecil, pendek dan–" Abiseka kembali terbahak tak tahan membayangkan seperti apa Faiha jika, memakai semua baju-baju sexy itu.
"Maksud anda apa,tidak tertukar? Jelas-jelas saya sama sekali tidak pernah memiliki baju-baju aneh macam ini. Huh...bikin tambah senewen aja nih." Deru nafas Faiha mulai tersengal-sengal karena menahan amarahnya.
Tak berapa lama tersengar dering ponsel milik Faiha yang ia letakkan di atas meja. Ia pun bergegas mengambilnya dan segera menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari mama Malika.
"Wa'allaikumsalam, sayangku. Kalian sudah sampai, kan. Gimana hadiah mama? Kamu pasti suka, kan?"
"Hadiah? Hadiah apa itu,ma?" Tanya Faiha yang masih belum mengerti.
"Itu–gaun-gaun dan lingerie-lingerie sexy yang mama siapkan untukmu? Jangan lupa di pakai nanti pas menjelang tidur, oke!"
"Ja‐jadi benar koper itu memang punya Faiha ya,ma. Tapi, aku malu mengenakannya. Kalau tidak di pakai tidak apa-apa kan, ma.?
"Kok gitu sih, sayang. Kamu harus memakainya, menyenangkan suami juga merupakan suatu kewajibban loh, nak. Mama yakin Abi akan klepek-klepek melihat penampilanmu ketika memakainya. Bisa menambah keromantisan dan membakar api gelora asmara di antara kalian. Di pakai ya, menantu mama yang cantik dan manis baik hati lagi. Jangan mengecewakan kami, oke."
"Ba–baiklah, ma. Terima kasih atas perhatian mama dan yang lainnya."
"Begitu dong, itu baru namanya istri yang penurut dan menantu kesayangan mama yang tak akan mengecewakan.Selamat bersenang-senang. Semangat!"
Klekk
__ADS_1
Faiha tertunduk lesu dan menghela lapas panjang.Bagaimana ia bisa kecolongan seperti ini? Mau tidak mau ia harus memakai semua pakaian yang telah di persiapkan oleh ibu mertuanya yang nyentrik itu.
"Benar kan, koper itu memang milikmu. Kamu seperti tidak mengerti mama saja. Aku sejak tadi sudah feeling...pasti itu semua adalah perbuatan mama.Sudah, ngak usah drama. Pakai saja apa yang ada. Semua baju itu juga tidak mungkin akan terlihat sexy di tubuhmu yang...ya begitulah."
Faiha sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Abiseka, pastinya hanya kata-kata ejekkan dan mengghina.
"Iya, terserah apa yang anda katakan.Kalau begitu permisi, saya akan mandi duluan ya, Tuan." Setelah memilah dan memilih gaun yang akan ia kenakan yang menurutnya sopan, Faiha bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya. Ia tak ingin kecolongan lagi, suami kakunya itu tak bisa di tebak jalan pikirannya.
Memasuki sebuah restaurant mewah, pasangan suami istri baru itu akan menikmati candle light dinner romantis, tentu saja hal itu juga salah satu rencana yang telah di persiapkan oleh mama Malika.
"Bienvenue Mr et Mme Jayendra. Viens s'il te plait." (Selamat datang Tuan.dan Nyonya Jayendra. Mari, silahkan)
"Merci." (Terima kasih)
Di atas meja sudah tersaji berbagai hidangan dan itu sudah di pesan oleh mama Malika. Wanita paruh baya itu selalu bergerak cepat.
"Wah, Tuan.Apakah anda sudah memesan ini semua. Anda ternyata suami yang baik hati dan romantis, ya.Saya tidak menyangka."
Abiseka mengernyitkan dahinya mendengar perkataan istrinya.
"Siapa? Aku? Kurang kerjaan apa. Ini semua adalah mama yang mengatur. Masa' kamu belum faham juga. Aku tidak akan pernah melakukan hal semacam ini."
"O‐begitu.Kirain...tapi, kalau di pikir-pikir juga imposibble sih." Faiha menarik sudut bibirnya sambil menganggukan kepalanya sambil bergumam pelan.
"Apa kamu bilang?" Mendengar gumamam sang istri namun, tak begitu jelas.
"Ah, tidak ada, Tuan. Mari kita santap semua makanan ini.Sayang kan, mama Malika sudah bersusah payah mengatur semua ini untuk kita.!"
Saat mereka tengah menikmati makan malam dalam suasana yang cukup romantis. Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa.
"Selamat malam, Tuan Abiseka Jayendra dan Nona Faiha."
"Eh–"
Bersambung
__ADS_1