Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
15.Membatalkan


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Faiha menjadi calon istri palsu Abiseka. Hari-hari di jalaninya normal seperti biasa. Hanya saja Nyonya Malika setiap hari menghubungi Faiha, Wanita itu menanyakan akan kesiapan Faiha sekeluarga menerima kedatangan mereka untuk melamarnya. Hal itu membuat Faiha bertambah pusing.Ia ingin bertanya langsung pada Abisekaengenai hal tersebut.


Selepas jam iatirahat siang,Faiha berencana akan menemui sang boss. Dan sungguh kebetulan saat baru saja melangkah masuk ke dalam gedung, ia melihat Abiseka yang juga baru saja datang bersama sang asisten. Faiha segera bergegas menghampirinya.


"Maaf, Tuan. Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda. Ini mengenai Ma...eh, maksud saya Nyonya Malika.Apa bisa–"


"Heru–bilang padanya, setengah jam lagi!" Abiseka tak menyahutinya, ia malah berbicara pada Heru dan memberikan perintah kapan Faiha bisa menemuinya.


"Nona Faiha, Anda bisa.–"


"Iya, saya sudah mendengar.Sombong sekali sih, apa sebegitu tak pantasnya saya berbicara dengan anda. Hanya karena saya hanyalah seorang OG." Faiha menatap tak suka dan merasa di rendahkan.


Faiha kembali ke pantry dengan masih menyimpan rasa dongkolnya terhadap Abiseka. Ia menuang segelas air putih lalu menenggaknya sampai habis.Menetralkan amarahnya.


Setelah menimbang akan apa yang akan di lakukannya, akhirnya Faiha memutiskan akan mengakhiri hubungan kerjasamanya dengan sang boss. Ia ingin berhenti untuk berpura-pura dan membohongi orang-orang .Terutama dua keluarga, Bulek Lastri dan juga Nyonya Malika, Tuan Aryan serta Nyonya Retno.


Tok"


"Masuk!"


"Permisi, Tuan. Saya ingin–"


"Waktumu sepuluh menit, silahkan katakan apa yamg ingin kamu sampaikan."


"Apa?sepuluh menit dia bilang.hh...ayolah Faiha, kamu paati bisa."


Faiha menghela nafas panjang sebelum berbicara. "Begini Tuan. Saya bingung apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Nyonya Malika selalu menanyakan perihal rencana lamaran. Beliau bertanya apakah keluarga saya sudah siap menerima kedatangan keluarga Jayendra."


"Kenapa kamu baru menceritakannya sekarang?"


"Bukannya saya tidak mau bilang pada anda tapi, beberapa hari ini Tuan terlihat begitu sibuk hingga saya tidak enak mengganggu aktivitas anda."


Abiseka terdiam, sebenarnya ia juga tengah di landa kegalauan.Apakah ia harus tetap melanjutkan sandiwara ini dan membohongi keluarganya. Apakah Faiha mau menikah dengannya.Berbagai pertanyaan berputar-putar di otaknya.


"Lalu, apa yang mesti saya lakukan.Sebenarnya saya ingin membatalkan perjanjian kita dan untuk urusan uang yang telah Tuan keluarkan akan saya kembalikan.Tapi, saya meminta waktu. Karena saya hanya bisa membayarnya dengan cara mencicil."


Mendengar ucapan dan keinginan Faiha membuat Abiseka geram, enak saja ingin memutuskan secara sepihak. Dan dengan gampangnya ingin mengganti uang yang telah ia keluarkan untuk urusan hutang piutang keluarga gadis itu.


"Enak saja kamu, memangnya kamu bisa membayar semuanya. Jumlahnya bahkan tidak.sedikit. Aku sangsi jika kamu bisa membayarya.Bahkan kamu bekerja berpuluh-puluh tahun pun tak akan mudah. Pikirkan itu!" Perkataan Abiseka seolah menekan Faiha.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya kesini bukan untuk diadili ataupun direndahkan. Saya ingin tahu apa solusi terbaik dalam masalah ini. Tuan yang telah menyeret saya masuk ke dalam masalah ini,bukan.Jadi, solusi dari saya ya itu, membatalkan perjanjian.Dan,Tuan bisa mencari perempuan lain yang lebih pantas. Itu saja yang ingin saya sampaikan."


"Kamu—"


"Oh–sepertinya sudah sepuluh menit bahkan lebih dari waktu yang Tuan berikan.Terima kaaih dan Permisi."


Tanpa menunggu jawaban dari Abiseka, Faiha pun segera melenggang pergi keluar dari ruangan dengan cuelnya tak memperdulikan wajah sang boss yang sudah merah padam.


"Bodo amat, memangnya aku pikikirin, aku akan berusaha lebih keras dalam bekerja dan mengumpulkan uang untuk mengembalikan uang milik laki-laki sombong itu, huh...menyebalkan." Berjalan sambil terua menggerutu.


"Siapa yang menyebalkan?"


"Eh—Tu-tuan Andre. Bukan siapa-siapa,kok. Maaf, saya permisi harus kembali bekerja."


Faiha tersenyum canggung karena malu Andre mendengar ucapannya.Laki-laki itu pasti sudah dapat menebak siapa yang di maksud oleh Faiha.


"Oh–begitu, eits...tunggu dulu, nona Faiha, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kita bisa bicara?"


"Maaf Tuan Andre.Mungkkn lain waktu katena saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya."


"Baiklah, kalau begitu boleh kan aku meminta nomer kontakmu.Jadi, kita bisa merencanakan kapan kita bisa bertemu."


"Lagi sibuk boss?"


"Astaga—bisa ngak sih lo kalau masuk ketuk pintu dulu, bikin kaget aja. Kayak setan main selonong boy.Ngapain lagi lo datang kesini.Ngak ada kerjaan lain apa, rajin amat bertamu ke kantor orang."


Andre hanya menjawab dengan tertawa renyah.Sambil menjatuhkan bokongnya di atas sofa lalu memainkan ponselnya mengetik sesuatu.


"Di tanya malah senyam senyum ngak jelas kayak wong edan.Kenapa lo, pasti lo mau pamer sesuatu ya, kelihatannya lagi happy banget."


"Emang.Tapi, sorry gue ngak mau kasih tahu lo."


"Lah–trus mau ngapain lo datang. Cuma mau cengar cengir dan ngasih tahu kalao lo dah gila, gitu." Abiseka tersenyum mengejek.


"An***, lo kira gue stress apa. Gue memang lagi happy banget. Gue kesini cuma mau tanya sama lo soal Faiha."


Abiseka menautkan kedua alisnya menatap penuh tanya pada sang sahabat.Untuk apa dia menanyakan soal Faiha.


"Ada apa memangnya sama cewek itu?jangan bilang lo naksir sama cewek kuntet itu,ya?"

__ADS_1


"Omongan lo pedes amat kaya bon cabe lever 50, Bi.Jangan kayak gitu lah. Faiha itu cewek baik dan imut bikin gemes,tahu. Lo aja yang buta ngak bisa melihatnya."


"Jadi, lo kesini cuma buat ngejek gue. Cepet, mau ngomong apa? Gue lagi sibuk." Bangkit dari kursi kebesarannya menghampiri sang sahabat lalu, duduk di dekatnya.


"Ngak, gue lagi bingung soal tante Malika yang bolak balik telepon gue minta izin mau ngajak Faiha jalan.Katanya ada hal penting yang harus di bahas sama gadis itu. Gimana bro, trus gue harus gimana dong?"


"Tu cewek mau membatalkan perjanjian dan berhenti menjadi pacar bohongan.Gue juga lagi bingung Ndre." Menekan-nekan pelipisnya.


"Keputusan lo apa? Tadi gue ketemu nona Faiha di depan dan kelihatannya dia sedang kesal. Apa lo habis bertengkar sama dia?"


Abiseka mengangguk dan memasang wajah lesu. Membuat Andre jadi semakin penasaran.


"Lo ngak rela kalau dia berhenti jadi cewek pura-pura lo? Jangan bilang lo juga udah ada rasa sama nona Faiha."


"Sembaeangan aja lo kalo ngomong. Gie naksir tu cewek jutek, sorry ya dia bukan tipe gue."


"Beneran bukan tipe lo? Kok, muka lo langsung merona gitu? kalau suka bilang saja boss dari pada nanti menyesal."


"Menyesal? Maksud lo, apa juga yang mesti di sesali."


"Ya, seandainya ada yang naksir sama nona Faiha dan ingin mendekatinya atau bisa jadi langsung nembak buat di jadiin pacar, bisa juga mau melamarnya."


"Siapa laki-laki itu? Jangan bilang kalau lo juga suka sama dia?"


"Juga? Jadi, beneran kan lo suka sama nona Faiha.Udahlah, Bi langsung gercep di sah-in. Nanti keburu di samber cowok lain,loh."


"Termasuk gue, kalau lo memang bener-bener ngak serius sama dia maka, gue yang akan merebutnya dari lo,Bi." Tekadnya hanya bisa di ungkapkan dari dalam hati.


Hening sejenak dan tiba-tiba terdengar dering ponsel milik Abiseka. Laki-laki itu pun beranjak untuk menhambil ponselnya yang tergelrtak diatas meja kerjanya.


"Iya, ada apa Ma?"


"Pulang sekarang juga, Mama mau kamu jelaskan kenapa tiba-tiba Faiha membatalkan rencana acara lamarannya dan dia bilang kalian sudah putus. Cepat pulang, kami tunggu!"


"Sial— tu cewek bikin kisruh aja.Sorry Ndre, gue harus pulang sekarang juga."


Tak membuang waktu lagi, Abiseka pun segera beeanjak tak ingin membuat sang mama semakin mengamuk.


Bersambung

__ADS_1


Hai-hai, saya kembali lagi dengan cerita terbaru semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya . Terima kasih.


__ADS_2