
"Hah."
Mulut Faiha sampai menganga mendengar ucapan Tuan Aryan yang cukup frontal, sedangkan Abiseka sang tertuduh wajahnya semakin memerah menahan amarah.
"Bagaimana Papa bisa setega itu menuduh putramu melakukan hal semenjijikkan itu. Memangnya aku memiliki tampang seperti seorang pedofil, apa?" Abi tidak terima dengan tuduhan ayahnya.
Nyonya Malika dan Eyang Retno menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapan mereka saat ini. Anak dan cucu mereka membawa seorang gadis muda bahkan lebih mirip abg yang berumur belasan tahun.
"Apakah sudah tidak ada wanita dewasa sampai kamu memanfaatkan gadis mungilyang masih bau kencur." Eyang Retno menyadarkan sang cucu kesayangannya itu.
Sepertinya sudah waktunya Abiseka meluruskan segala kesalah fahaman para orang tua.Dengan mimik wajah seriusnya Abiseka menceritakan awal ia mengenal Faiha tentunya bukanlah apa yang sebenarnya terjadi. Ia membumbuinya dengan sedikit kebohongan. Faiha menyimak cerita karangan sang boss dengan hikmat, menikmatinga dengan penuh kepasrahan.
"Jadi kalian semua sudah percaya,bukan bahwa Faiha ini bukanlah gadis remaja seperti yang kalian pikirkan. Jangan asal menebak, Mama,Papa dan Eyang sekarang sudah tahu Faiha adalah seorang wanita dewasa yang telah berumur 21 tahun.Sekarang jelas kalau Abi bukan seperti apa yang Papa tuduhkan tadi."
"Memangnya Papa menuduh kamu apa?" Tuan Aryan berpura-pura tidak mengingat lagi apa yang telah ucapkannya.
"Papa tadi bilang aku telah menjafi seorang pedofil,kan. Tapi, sudahlah yang terpenting sekarang semuanya sudah jelas dan Aku ingin mengenalkan calon istri dan menantu untuk keluarga ini. Faihalah yang menjadi pilihan hatiku dan kami berharap mendapatkan restu dari Eyang, Papa dan Mama."
Acara perkenalan dan ramah tamah yang berlangsung dengan sedikit di bumbui adegan drama akhirnya usai. Akhirnya sebagai awal semua sepakat akan menerima Faiha sebagai calon istri Abiseka. Dan Faiha harus menjalani berbagai test kelayakan untuk menjadi menantu di keluarga Jayendra.
Terutama Eyang Retno yang memiliki beberapa syarat yang harus Faiha penuhi, diantaranya sebagai calon menantu di keluarga Jayendra, Faiha bisa melakukan segala pekerjaan rumah tangga. Diantaranya memasak dan yang paling utama cara melayani seorang suami dengan baik.
Jadi, mulai besok Faiha harus datang ke kediaman keluarga Jayendra. Eyang Retno dan Nyonya Malika sendiri yang akan menatar Faiha.
"Ta-tapi kan pagi sampai sore saya bekerja.Lalu, bagaimana bisa saya..."
"Kamu bisa bekerja setengah hari saja,kan.Gampang, itu bisa di atur." Tentu saja karena Abiseka adalah boss nya.
"Oh iya ya, kami lupa menanyakannya. Memangnya nak Faiha bekerja di mana.Apakah kamu bekerja di Jayendra Group?" Nyonya Malika
Di berikan pertanyaan seperti itu Faiha tiba-tiba blank bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus berkata yang sejujurnya bahwa ia memang salah satu karyawan di Jayendra Group.Akan tetapi ia takut Abiseka akan marah. Itu salahnya si boss sendiri yang tidak bisa memprediksi hal tersebut. Faiha melirik Abiseka agar membantunya.
Abiseka yang tak ingin Faiha mengatakan yang sebenarnya segera menjawab pertanyaan sang mama.
"Bukan Ma. Faiha itu bekerja di perusahaan Andre dan karena itulah aku akan meminta tolong padanya agar ia mengizinkan Faiha bekerja setengah hari saja. Hanya beberapa hari saja kan, Ma?"
"Oh, jadi Faiha salah satu karyawannya Andre. Baguslah kalau begitu, Mama yakin Andre pasti akan memberi izin. Nanti Mama akan bicara padanya."
__ADS_1
Sontak Abiseka kaget dan segera menghalangi keinginan sang Mama. Bisa berabe jika sampai Mama Malika berbicara langsung pada sahabatnya itu. Masalahnya Abiseka belum mengatakan apa pun pada Andre akan rencanaya.
"Tidak usah,Ma. Biar aku yang akan berbicara langsung pada Andre." Tersenyum manis pada sang Mama menutupi kebohongannya yang kesekian.
"Begitu ya, baguslah...jadi, nak Faiha besok siang sudah bisa datang ke sini. Oke, kami tunggu."
Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 wib. Faiha tiba di rumah dengan diantar oleh Heru sedangkan Abiseka malam ini dia akan tidur di Apartemennya.
"Terima kasih Pak Heru."
"Baik, nona Faiha. Selamat Malam."
Tok
Tok
Tok
"Assalamuallaikum.Bulek..."
Ceklek
Faiha terlihat lelah dan lesu. Sebelum pulang tadi, terlebih dahulu ia mengganti gaun yang di kenakannya tadi dengan seragam OG agar Bulek Lastri tidak menaruh curiga.
"Iya, Bulek. Maaf ya Faiha kemalaman.Acaranya padat sekali dan banyak tamu undangan yang hadir."
Bohongnya, lagi dan lagi Faiha membuat kebohongan. Kedepannya Faiha akan lebih banyak dan sering ia lakukan. berbohong pada Bulek Lastri dan juga adik-adiknya.
"Ya sudah, cepat bersih-bersih sana dan lekas tidur."
"Nggih,Bulek."
Faiha menyentuh dadanya yang berdebar karena baru saja berbuat dosa dengan berbohong.
"Hhh...semoga semuanya akan berjalan dengan baik agar pengorbananku tidak sia-sia. Demi Bulek, Anwar dan Hani. Agar kedepannya hidup kami tidak terkatung-katung karena tidak memiliki tempat tinggal."
Pagi hari di lalui Faiha sama seperti hari kemarin, pukul 06.00 ia sudah sampai di gedung Jayendra Group dan langsung melaksanakan tugas-tugasnya di labtai 15, tepatnya ruangan sang Ceo dan saat ini pekerjaannya bertambah lagi yaitu merangkap sebagai calon istri pura-pura dari Abiseka Jayendra.
__ADS_1
Gadia bertubuh mungil itu bekerja dengan cekatan dan penuh semangat. Sesekali ia melirik jam dinding di ruangan itu.
"Aku harus cepat-cepat selesai dan segera keluar dari ruangan ini. Males banget ketemu sama si kanebo garing. Nyebelin mukanya."
Suasana pantry masih tampak sepi, ya karena masih terlalu pagi. Faiha saja yang kerajinan pagi buta sudah datang.Ia kini tengah menikmati secangkit teh.
"Assalamuallaikum, Faiha cantik."
"Wa'allaikum salam. Eh, mas Ardi sudah datang.Ngeteh,mas."
Ternyata yang datang adalah Ardi si OB yang kelewat sumeh alias genit kata orang sih. Faiha menawarkan teh kepada laki-laki itu dan tanpa melewatkan kesempatan untuk lebih berakrab ria dengan sang gadis, ia pun mengangguk dan mau jika, di buatkan oleh Faiha
"Iya, boleh cantik kalau tidak merepotkan." Mengedipkan matanya genit.
"Ish...apa sih, mas Ardi nih."
"Ini mas, tehnya." Meletakkan secangkir teh di atas meja.
Mereka berdua tampak akrab seperti sudah saling mengenal lama. Pembawaan Ardi yang santai dan suka guyon membuat Faiha merasa terhibur. Ardi tripikal cowok yang cuek, santai dan juga manis.
"Tehnya manis deh, Fai seperti yang buat. Aihh...maknyus." Pagi-pagi si Ardi sudah menggombali Faiha.
"Mas Ardi nih bisa aja, pagi-pagi dah on ngegombalnya. Awas nanti pacarnya tahu bisa marah loh."
"Pacar? Aku ngak punya pacar deh,Fai. Baru akan kayaknya sih." Menaik turunkan sebelah alis matanya.
"Iya percaya mas Ardi ngak punya pacar tapi, kalau gebetan pasti banyak kan? Benar apa benar, hayo?"
Mereka semakin asik bersenda gurau tak menyadari bahwa ada yang tengah memperhatikan kegiatan mereka berdua.
"Kalau kamu, apa sudah ada yang punya, Fai? Kalau belum boleh dong mas Ardi ikut daftar jadi ayang kamu."
"Ayang, Apaan tuh?" Faiha mengernyit penuh tanya.Sebenarnya ia bukannya tak mengerti bahwa baru saja di tembak oleh laki-laki itu.
"Yah, masa' ngak ngerti. Jadi pacar mas Ardi gitu lah dek Faiha yang manis dan cantik, gemes deh."
"Ekhemm..."
__ADS_1
Bersambung
Hai-hai, saya kembali lagi dengan cerita terbaru semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya . Terima kasih.