
"Loh, Ferdy. Kamu belum pulang?" Mommy Diandra tak sengaja bertemu Ferdy di lobby hotel. Sepertinya laki-laki itu sedang menunggu mobilnya.
Merasa ada yang menyapanya, Ferdy pun menoleh kebelang dan melihat mommy Diandra sudah berada di dekatnya.
"Eh, iya tante. Ini juga baru mau pulang. Oh ya, Andre baik-baik saja kan, Tan?" Tanya Ferdy.
Pertanyaan Ferdy membuat mommy Diandra mengernyit bingung." Maksudnya apa, memangnya Andre kenapa?"
Ferdy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung apa mommy Diandra tidak tahu kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja. "Itu tante, tadi aku memang masih menemani Andre dikamar pengantinnya. Tapi, tiba-tiba katanya kepalanya sangat pusing sekali lalu Andre meminta agar aku meninggalkannya."
"Meninggalkannya bagaimana? Ceritakan yang jelas dong, Fer!." Mommy Diandra masih belum bisa mencerna arti dari perkataan Ferdy.
"Andre ingin beristirahat dan tidur. Jadi, aku diminta untuk pulang saja. Nanti malam Ferdy akan datang lagi kok, tan." Ferdy menceritakan yang sebenarnya terjadi.
Sejenak mommy Diandra terdiam dan berpikir tentang sesuatu. Dan...Deg! "Si** tu bocah, pintar sekali ya mau mengelabui orang-orang."
"Eh, ini ngomong-ngomong ada apa ya, tante? Sepertinya tante kesal sekali."
"Sebentar!" Mommy Diandra kemudian meraih ponselnya dari dalam tas tangannya lalu, mencoba menghubungi seseorang.
"Jeng Lastri, iya ini...aku mau tanya, apa Hani saat ini sedang ada bersama denganmu?" Ternyata mommy Diandra menelpon besannya ibu dari Hani.
Seketika manik mata mommy Diandra terbelalak dengan sudut bibir yang terangkat bahkan mimik wajahnya pun berubah horor. Membuat Ferdy bergidik ngeri. "itu tante Diandra kenapa ya?kayaknya ada yang ngak beres deh. Apa jangan-jangan si Andre bwrulah lagi . Habislah lo, Ndre."
"Ferdy, ayo kamu ikut tante!."
"Eh, kita mau kemana ya tante?" Ferdy ikut berlarian mengikuti langkah mommy Diandra, bagaimana tidak...tangannya ditarik oleh wanita paruh baya itu.
"Kita akan menggerebek seseorang."
__ADS_1
"Menggerebek? S***, bener kan feeling gue. Si Andre pasti bikin ulah lagi ini, pasti."
Sebelum naik, mommy Diandra meminta kunci cadangan kamar yang ditempati Andre pada pihak hotel. Tentu saja wanita itu akan sangat mudah mendapatkannya. Karena hotel tersebut adalah milik keluarganya.
"Ayo Ferdy, cepatlah...sebelum terlambat! Ish, dasar anak ngeyel sudah dibilangin sabar sabar masih saja nekat." Sepanjang jalan menuju keatas mommy Diandra terus saja mengomeli sang putra yang tidak berada di hadapannya. Sedang Ferdy hanya diam saja.
Setelah sampai didepan pintu kamar yang ditempati oleh sang putra. Mommy Diandra tak menunggu waktu lagi langsung membukanya menggunakan kartu akses cadangan.Lalu menerobos masuk tanpa memperdulikan keadaan didalamnya.
Dan betapa terkejutnya mereka, saat pintu sudah terbuka dan sontak pemandangan yang tak pantas di lihat oleh anak dibawah umur. Lagi-lagi Ferdy dibuat melongo sampai-sampai ia kesusahan untuk menwlan salivanya.
BRAKKK
Tuh, bener kan apa gue bilang. Oh...mata suciku telah ternoda. Aww...mas Andre!" Pekik Ferdy tapi, matanya tetap melotot menatap pasangan pengantin baru yang baru saja akan menikmati surga dunia tapi, tidak jadi karena sudah tertangkap basah terlebih dahulu oleh Ferdy dan mommy Diandra.
Menyadari kehadiran orang lain didalam kamar itu, Andre buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sang istri. Antara marah dan juga rasa malu yang menderanya, Andre menghardik mommy Diandra dan Ferdy yang seenaknya masuk tanpa permisi kedalam kamar pengantin mereka.
"Mommy, Ferdy–apa-apaan kalian ini? Seenaknya mengganggu malam pengantin orang saja."
"Hei, dasar bocah tengik ya kamu. Sudah dibilang tidak boleh menyentuh Hani dulu eh, malah nekat. Bahkan acara resepai belum dilaksanakan. Ck, apa tidak bisa menahannya untuk sementara waktu sampai Hani berusia 18 tahun sesuai dengan kesepakatan, hah?" Mommy Malika balik mengomeli putranya yang ndablek itu.
Dengan lantang Andre menjabab bahwa dia tidak bisa." Tidak bisa, maaf Mom. Kami kan sudah sah menjadi pasangan suami istri, masa' sekedar bercumbu saja tidak boleh sih. Hani itu sudah halal aku sentuh, kan mom."
Mommy Diandra menggelengkan kepalanya. Namun, di dalam hatinya ia juga membenarkan apa yang diucapkan oleh putranya itu. Mereka memang sudah halal untuk saling bersentuhan dan tak ada yang bisa melarangnya. Tapi, kalau sampai hal itu terjadi sangat beresiko untuk Hani apa bila gadis itu sampai hamil diusianya yang masih terlalu muda.
"Iya, kami juga tahu akan hal itu son. Akan tetapi kamu tahu sendiri kan kalau istrimu itu masih terlalu muda. Nanti kalau Hani benar-benar hamil setelah kalian melakukannya, bagaimana? Kamu juga jangan egois Ndre, pikirlanlah juga keselamatan istrimu.
"Mom, siapa juga yang mau membuat Hani hamil. Kami ngak akan sampai kebablasan kok. Cuma icip Icip sedikit saja, ngak lebih dari itu." Andre tetap membela diri.
Ferdy hanya cengo menyaksikan perdebatan antara ibu dan putranya tersebut. Kalau dibiarkan percekcokkan keduanya tidak akan ada habisnya. Akhirnya dengan mengeluarkan segenap keberaniannya, Ferdy segera menginterupsi percakapan keduanya.
__ADS_1
"Maaf ya tante, apakah pertengkaran kalian bisa dihentikan sekarang juga. Itu...kasihan Hani-nya, bisa masuk angin nanti dia. Ferdy menunjuk tepat kearah Hani yang kini wajahnya sudah berubah pucat pasi. Mungkin benar apa yang dibilang Ferdy barusan.
Saat melihat keadaan menantunya, mommy Diandra pun sontak tak kalah terkejutnya.Wajah Hani benar-benar sudah tampak pucat, mungkin antara syok dan juga malu yang dirasakannya.
"Ya tuhan. Maaf-maaf...mommy sudah membuatmu ketakutan ya, sayang. Eh, Andre, Ferdy. Kalian tolong keluar dulu sana! Mommy yang akan mengurus Hani." wanita paruh baya itu mengusir sang putra dan Ferdy.
Namun, Andre tetap bersikeras tak ingin meninggalkan sang istri."Mom, aku bisa mengurus istriku sendiri. Apa mommy tidak percaya padaku?"
"Sama sekali tidak, sudah sana! Yang ada malah nanti Hani beneran hamil kalau kamu yang mengurusnya." Mommy Diandra tetap tak mau mengalah.
Sedangkan Hani hanya terdiam dan pasrah, ia sudah kandung malu dengan apa yang terjadi.
"Ayolah Ndre, bok ya manut karo mamakmu ojo dadi cah ngeyel!" Ajak Ferdy dengan ucapan yang berbau sindiran untuk sahabatnya itu.
"Mamak mamak, kepala lo peyang. Lagian ngapain sih lo selalu saja hadir disaat yang tidak tepat. Mengganggu saja." Kesalnya sambil menoyor kepala Ferdy.
"Lah, kan gue memang sebagai pemeran pembantu yang cukup penting dalam cerita ini, dan othornya juga tega banget sama gue yang masih jomblo ini disuruh menyaksikan beberapa adegan dewasa yang sungguh membuat diri ini merana karena haus akan kasih sayang dari seorang wanita. Oh, sungguh teganya kamu thor."
"Lo ngomel apa curhat, bro? Kasihan deh lo masih dianggurin sama othornya." Andre tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ferdy yang suram bak lampu 3 watt yang meredup hampir padam.
"S***** lo, Ndre. Gue do'ain semoga lo ngak bakal bisa ***-*** sama Hani. Mommy Diandra ngak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Rasakan itu." Ferdy balas dengan menyumpahi Andre. Dua pria bertubuh tegap dan kekar itu berdiri didepan pintu kamar seperti dua orang bodyguard yang sedang berjaga.
Setelah membantu Hani merapiikan diri. Mommy Diandra langsung membawa sang menantu pergi menuju kekamar yang lainnya. Meninggalkan Andre yang menatap nelangsa langkah istrinya yang semakin menjauh.
"Huh, nasib-nasib punya istri bocil." Andre menghela nafas dan teetunduk lesu. Gagal lagi gagal lagi. Mau unboxing istri sendiri saja rasanya susah sekali.
"Sudah-sudah, yang sabar ya Ndre...besok-besok kan lo masih ada kesempatan lagi untuk itu.Masa' lo kalah siasat sih sama tante Diandra." Ferdy mengedipkan sebelah matanya dan seketika Andre pun mengerti maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Lo emang sohib gue yang paling pengertian, Fer. Meskipun kadang ngeselin sih. Oke, thanks ya bro atas sarannya." Andre menepuk pundak Ferdy dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Bersambung