Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
66. Daun Muda


__ADS_3

Ngak apa-apa, katakan saja.Ayo...bilang, dek Hani mau minta apa sama mas Abi?" Abiseka mendesak Hani untuk mengatakan keinginannya.


"Itu mas, apa Hani boleh minta nomer telepon om...Andre?"


"HANI–! Apa-apaan sih kamu?"


Anwar menatap tajam sang adik membuat Hani langsung menciut tertunduk takut.


Abiseka yang melihat Hani begitu ketakutan pada kakaknya menjadi tak tega. "Todak apa-apa kok, War. Hani mau minta nomer telepon om Andre untuk apa?"


"War, war...memangnya perang?" Anwar malah menggerutu karena dipanggil dengan sebutan War yang artinya perang. Pemuda itu tampak kesal. Abiseka melirik kikuk pada adik iparnya yang memang terkenal ceplas ceplos walaupun seorang laki-laki.


"iya, maaf...maaf. Trus mas Abi harus memanggilmu apa dong? An...nanti dikira perempuan. Lalu, apa? Kasih saran dong Hani! Mas bingung–"


"Panggil saja Tama, mas atau Adya!" Abiseka mendengarkan dengan seksama saran dari Hani. Ia tidak ingin salah lagi dan membuat adik iparnya yang galak itu tersinggung.


Anwar hanya diam saja, ia menunggu keputusan yang akan diambil oleh Abiseka. Tepatnya apa pilihannya.


"Kalau mas panggil Tama, boleh?" Abiseka menoleh sekilas kesamping tepat saat Anwar juga tengah menatapnya membuat Abiseka jadi semakin kikuk.


"Boleh banget kok, mas. Kan nama mas Anwar itu Anwar Adyatama. Pilihan yang tepat, sip...mas Abi." Hani mengacungkan jari jempolnya.


"Gimana tu mas Anwar; boleh ngak mas Abi manggil Tama?" Hani yang berinisiatif menanyakan langsung pada sang kakak.


"Hmm–terserah, asal jangan An or War!" Jawab anwar dengan dingin.


"Oke, deal ya...mas akan panggil kamu Tama saja, lebih keren."


"Memang gue keren kok." Anwar bergumam pelan namun, Abiseka masih bisa mendengarnya. Ia pun tersenyum karena akhirnya adik iparnya itu hatinya sudah mulai luluh dan terkesan tak kaku lagi.


"Cie cie...yang dibilang keren, terbang terbang deh...mas Tama yang keren dan ganteng." Hani malah meledek sang kakak.


Waktu tak terasa akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah. Anwar dan Hani pun tak lupa berterima kasih karena telah diantar oleh Abiseka.


"Mas, terima kasih ya. Kami masuk dulu." Hani yang berbicara dan melambaikan tangannya penuh semangat.


"Iya, yang semangat dan rajin belajarnya ya!"

__ADS_1


"Oke, mas...sip! Da da–" Hani mengangguk dan melambaikan tangannya lagi, Anwar yang melihat tingkah adiknya yang kecentilan itu hanya menggelengkan kepala dan berlalu masuk kedalam gerbang sekolah meninggalkan Hani.


Ketika sudah tak terlihat sang kakak, Hani segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.


Ting


Abiseka yang baru saja menyalakan mesin mobilnya berhenti sejenak karena mendengar suara notifikasi pesan di ponselnya. Melihat nama si pengirim Abiseka pun menyunggingkan senyumnya. "Ini anak ya, kirain sudah lupa...eh, ternyata. Gimana ya, kasih ngak ya?" ia pun membaca ulang pesan tersebut.


"Mas Abi, gimana yang tadi Hani minta? Boleh ngak? Please mas...janji kok, Hani ngak bakal macam-macam." ✌


Tiba-tiba pikiran jahilnya muncul dan Abiseka pun tersenyum menyeringai ketika membayangkan sesuatu.


"Wuih–asik juga nih kayaknya ngerjain si Bule. Sekali-kali ngak apa-apalah. Rasain lo Ndre...pusing-pusing deh lo ngadepin si bocil."


Dengan semangat ia pun membalas pesan dari Hani. " Bolehlah, masa' gitu aja ngak boleh. Bentar ya mas kirim nomernya!"


Ting


Send: Andre Mendoza 0813*******


"Asikkkk–yuhu!" Bak habis mendapat lotre, Hani melompat dan berlari berjingkrak-jingkrak saking senangnya. Abiseka yang masih dapat melihat penampakan gadis itu entah mengapa jadi ikut merasa bahagia.


Setelah mengantar Anwar dan Hani, Abiseka tak langsung ke kantor. Ia menuju ke kediaman orang tuanya untuk berganti pakaian. Tak mungkin juga ia memakai setelan kemeja dan jas yang kemarin telah dikenakannya.


"Abi– kamu baru pulang atau dari mana?"


Mama Malika yang tengah bersantai di ruang tengah sambil menonton acara gosip di pagi hari itu terkejut melihat kemunculan Abiseka dari arah pintu depan. Menatap sang putra penuh selidik.


"Ngak dari mana-mana, ya jengukin istri tercintalah Ma. Memangnya habis dari mana lagi. Kan Mama yang sudah mengusir istri Abi.Lagi pula Faiha itu ngak bakal bisa tidur kalau ngak di peluk sama Abi. (Si Abi mengarang bebas) Namanya juga pengantin baru tak kan bisa terpisahkan. Cuma mama saja yang super tega sama anaknya sendiri." Abiseka terus mengoceh dan menyalahkan sang mama.


"Kamu dikasih sarapan apa di rumah mertuamu, lancar sekali pidatonya? Dasar anak kurang ajar...ditanya baik-baik malah ceramah ngak berhenti-berhenti. Apa kurang asupan vitaminnya? Mungkin Faiha sudah ngak nafsu sama suami tuanya." Mama Malika tak mau kalah membalas celotehan Abiseka.


Abiseka hampir saja tersulut emosi mendengar ejekan Mama Malika.Namun, ia harus bisa mengontrol diri jangan sampai kalah dalam permainan yang di ciptakan sang Mama. Menghembuskan nafas dalam lalu kemudian tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Sudahlah, Ma. Akhiri saja semua sandiwara dan rencana Mama dan bulek Lastri untuk mengerjai Abi dan Faiha. Apa Mama tega bikin Faiha stress...lalu, kalau kandungan Faiha ada apa-apa maka, Mama lah yang pertama akan Abi salahkan. Karena Faiha sedih merasa diibuang oleh keluarga dari suaminya. Abi mohon ya, Ma. Please...stop it!" Abiseka sampai mengatupkan kedua telapak tangannya didada.


Sepertinya akting Abiseka kali ini akan berjalan dengan lancar dan berhasil membuat mama Malika galau setengah mati. Bingung antara mengerjai menantunya dan berimbas pada sang calon cucu atau melanjutkan rencananya untuk memberi efek jera pada putra dan menantunya.

__ADS_1


"Sudahlah, Aku harus buru-buru ke kantor ada meeting pagi." Melangkah pergi menuju ke kamarnya di lantai atas dengan senyum penuh kemenangan. Akhirnya sang mama tak berkutik.


"Jadi Faiha benar-benar hamil calon cucu pertamaku. Ah...bahagianya, papa sama mommy harus dilasih tahu ini."


"Yes–asik asik...bakal nimang cucu, Anakku memang hebat, tokcer abis!" Mama Malika berjoget ria sambil tertawa-tawa sendiri. Bi Romlah sampai dibuat melongo melihat tingkah kekanak-kanakkan sang majikan.


"Nyonya Malika kenapa itu, kok joget-joget sama ketawa-tawa sendirian? Hi...apa iya di rumah ini mulai ada hantunya. Serem ih–" Bi Romlah malah bergidik ngeri membayangkan yang tidak-tidak.


"Bi–bi Romlah, kesini sebentar!" Mama Malika berteriak memanggil sang asisten rumah tangganya.


"Njeh nyonya, apa ada yang harus saya kerjakan?" Bi Romlah yang memang tengah berdiri tak jauh dari posisi mama Malika segera bergegas menghampiri majikannya itu.


"Bi–hari ini tolong belanja ke pasar, beli beberapa sayuran, ikan-ikanan, daging, dan jangan lupa buah-buahannya! Sebentar, akan aku catatkan apa saja yang harus bibi beli."


"Ada apa ya? Kok tumben belanja dadakan begini...apa nyonya mau mengadakan suatu acara? " Bi Romlah bertanya-tanya didalam hatinya.


"Maaf nyonya, sebenarnya mau mengadakan acara apa ya, kenapa mendadak sekali?" Memberanikan diri bertanya pada sang majikan karena sungguh ia sangat penasaran.


"Faiha hamil, bi... Kami akan mempunyai cucu, cucu pertama keluarga Jayendra. Aku sangat bahagia, bi." Senyum tak bisa lepas dari wajah cantik perempuan paruh baya tersebut.


"Benarkah? Kalau begitu, selamat ya nyonya."


"Terima kasih ya, bi. Oh ya...ini catatan belanjaannya dan juga ini uangnya! Cepat ya bi, habis itu kita langsung masak untuk menantu dan calon cucuku."


"Baik nyonya, saya pergi dulu."


Siang hari di gedung Jayendra Group. Abiseka baru saja selesai meeting dan bertemu dengan salah satu kliennya yang datang berkunjung. Baru saja ia mendudukkan bokongnya di atas kursi kebesarannya, terdengar suara dering ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Lantas ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Sialan lo, Bi...pasti ini kerjaan lo kan, ngapain juga ngasih nomer gue ke Hani? Tu bocil masa' mau minta izin keapartemen gue...bisa dikira pedofil gue nanti sama orang-orang dan apa kata Faiha juga kalau sampai dia tahu? Ah...lo pasti ngerjain gue ya?"


"Hehehe–kalau iya, trus lo mau apa? Bukannya terima kasih gue kasih daun muda."


"DAUN MUDA APA...SIAPA SI DAUN MUDA ITU?"


"Eh–!"


Bersambung

__ADS_1


Hayo loh Abi, siapa itu ya yang muncul tiba-tiba? Kacau-kacau deh si Abi kalau sudah muncul keusilannya.


Alhamdulillah hari ini bisa update awal. Selamat membaca. Awas typo bertebaran. Maklum matanya kurang awas kayak nini? 😅


__ADS_2