
Faiha meutup mulutnya dengan telapak tangan dan beringsut menjauh.Abiseka yang bingung akan sikap istri mungilnya itu, bukannya menjauh eh...dia malah kembali ingin mendekati Faiha.Sontak, langsung mendapatkan peringatan untuk menjauh.
"Sana-sana, jangan mendekat...Tu–eh, mas bau bikin aku mual dan pusing!"
"Hah–bau? Perasaan tubuhku masih wangi gini, apa mulutku...hah."
Abiseka mengendus ketiak dan menghembuskan nafasnya ke telapak tangan tapi, masih aman-aman saja dan bahkan wangi parfum mahalnya masih melekat di tubuhnya. Mulutnya juga fine-fine saja, seharian ini dia sama sekali tidak memakan makanan yang menimbulkan bau menyengat. Lalu kenapa Faiha seperti jijik pada dirinya.
Dan saat ini keduanya hanya aaling diam dengan jarak yang cukup jauh. Sesaat kemudian terdengar suara ketukkan pintu.
Tok tok
"Faiha, nak Abi...apa telah terjadi sesuatu? tolong buka.pintunya!" Bulek Lastri mendengar Faiha berteriak langsung mengedor-gedor pintu kamar sang keponakan takut terjadi sesuatu karena hubungan pasangan suami istri tersebut saat ini sedang tidak baik.
Ceklek
"Bulek, itu...istriku sepertinya sedang sakit.Tapi, Faiha sama sekali tidak ingin aku dekati. Bagaimana ini, aku jadi bingung?" Tanya Abiseka yang tengah kebingungan.
"Tidak mau didekati? memangnya kenapa?" BulekLastri melangkah mendekati Faiha.
"Itu, emm...katanya aku bau." Abiseka menunduk sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.
Setelah berada dihadapan Faiha, bulek Lastri memeriksa keadaannya. Menyentuh keningnya dan ternyata suhunya normal tidak panas.
"Kamu tidak demam, apa yang kamu rasakan Fai?"
"Enggak, cuma beberapa hari ini aku sering pusing bulek dan rasanya lemas sekali. Bulek, bisa tolong bilang padanya untuk pergi. Aku sungguh tidak kuat mencium aroma tubuhnya." Faiha mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya.
Bulek Lastri menghela nafas panjang lalu, beralih menatap Abiseka. "Nak, Abi. Bisa kan memberi waktu Faiha untuk sendiri dulu. Sepertinya istrimu butuh waktu untuk mencerna masalah apa yang sedang kalian hadapi saat ini. Bulek minta tolong ya!" Bulek Lastri sampai memohon pada menantunya itu.
__ADS_1
"Maaf bulek, apa sebaiknya Faiha di periksakan ke dokter saja? Ini juga belum begitu malam kan, bagaimana bulek?" Menyampaikan usulnya dan sontak mendapatkan reaksi tak suka dari Faiha.
"Ngak, aku ngak mau ke dokter sama dia.Bulek, aku mohon tolong beri pengertian pada pria itu!" Menatap sinis pada suaminya.
Akhirnya dengan terpaksa demi ketenangan dan kenyamanan bagi istri mungil yang sangat di cintainya.Abiseka pun memilih mengalah dan beranjak keluar dari kamar Faiha. Setelah membimbing Faiha untuk rebahan di atas tempat tidur, bulek Lastri gegas menyusul Abiseka.
"Nak Abiseka, tunggu sebentar!" Membuat Abiseka pun menghentikan langkahnya ketika baru saja akan keluar dari pintu depan.
"Iya bulek, ada apa? Apakah Faiha memanggilku?"
"Oh, bukan-bukan itu. Begini, tolong dalam beberapa hari ini nak Abi jangan datang dulu kesini. Biarkan Faiha beristirahat dan menenangkan pikirannya yang sedang kalut."
Setelah diberikan pengertian, Abiseka hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan dari istrinya. Ia pun mengangguk dan lekas pergi. Ketika melihat Abiaeka menaiki mobilnya dan telah berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah. Bulek Lastri langsung menghubungi seseorang dan tampak berbicara serius.
Kediaman keluarga Jayendra
Mobil yang dikendarai Abiseka baru saja tiba dan berhenti di pelataran depan rumahnya. Ia pun segera turun dan melangkah memasuki pintu depan dengan tergesa-gesa. Abiseka segera mencari keberadaan sang mama, ia ingin meminta penjelasan dan memastikan sesuatu. Dan ketika melihat mama dan papa nya yang tengah berada di ruang tengah. Abiseka segera menghampiri kedua orang tuanya itu.
Tanpa basa basi Abiseka langsung memberondong berbagai pertanyaan dan juga menuduh sang mama yang menjadi penyebab dari semua masalah yang tengah terjadi diantara dirinya dan Faiha.
"Dasar anak kurang ajar, tidak sopan...datang-datang langsung menuduh mama macam-macam. Apa urusannya sama mama, mungkin Faiha memang sudah bosan sama suami tuanya yang tukang bohong."
"Rsakan kamu anak nakal, berani membohongi dan mempermainkan orang tua sendiri." Dalam hatinya mama malika teraenyum.
Mama Malika malah menuduh balik Abiseka. Ia ingin mengelak dari apa yang telah di perbuatnya.
"Apa mama bilang? Bosan...tua? Asal mama tahu ya, Faiha itu sangat mencintai Aku dan kami telah berjanji akan selalu bersama selamanya. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Mama telah menghancurkan segalanya. Pokoknya Aku tidak ingin kehilangan Faiha, titik." Nada bicara Abiseka sudah mulai meninggi.
"Wow-wow, Kalian ini sudah seperti anak kecil saja. Ibu dan anak sama-sama petakilan tak bisa diam."
__ADS_1
"Ma, apa benar yang telah dikatakan Abi,kalau mama telah melakukan apa yang di tuduhkannya? jika itu benar, apa mama tidak merasa kasihan pada putra kita, masih syukur ada yang mau sama perjaka tua seperti anak kita, kan?"
Papa.Aryan malahmakin menambah kekisruhan dengan berbicara seperti itu.
"Hh–papa dan mama sama saja, senang membuat anaknya menderita malah mengatai anaknya tua lagi." Abiseka sangat kesal dengan sikap kedua orang tuanya seakan tak perduli dan menganggap sepele akan masalah yang telah terjadi. Karena Abiseka sangat yakin kalau itu semua adalah ulah dari sang mama.
"Sudah ah, mama lelah mau klekaran di kamar saja. Di sini ada yang cerewet banget kerjaannya mengganggu orang saja. Yuk, Pa kita kekamar saja!" Mama Malika bangkit dari sofa lalu menarik tangan suaminya, mengajak ke kamar mereka.
"Ma, Pa– malah pergi lagi. Bagaimana ini nasib putra semata wayang kalian? Mengapa kalian begitu tega melakukan semua ini. Arghh...!" Kesalnya sampai menendang sofa yang menjadi pelampiasan kemarahannya.
Sementara itu didalam kamar, pasangan suami istri baruh baya itu sedang mentertawakan putra mereka yang sedang misuh-misuh karena di tolak oleh Faiha. Bahkan, sampai tak sudi di sentuh oleh Abiseka.
"Ma, sudahlah...sepertinya mama harus segera mengakhirinya! kasihan Abi lah ma, nanti kalau sampai dia stress beneeran gimana?"
"Biarkan dulu, Pa. Mama mau tahu sekuat apa dia akan memperjuangkan pernikahannya yang dulu pernah dianggapnya hanya sebuah permainan. Enak saja dia memanfaatkan anak gadis orang. Sekarang sampai dibuat hamil lagi."
"Apa mama bilang? Jadi, menantu kita sudah hamil?"
"Ups–keceplosan deh." Mama Malika menutup mulutnya karena tidak sengaja membongkar rahasia yang masih ditutupinya.
"Emm, sebenarnya sih belum pasti sih. Tapi, dari apa yang dikatakan oleh jeng Lastri sepertinya Faiha saat ini sedang hamil muda. Tahu ngak pa, katanya Faiha sampai mual-mual saat Abi mendekatinya. Ah...calon cucu kita memang hebat ya, pa. Masih di dalam perut saja sudah bisa membuat papa nya kelimpungan.Mama bahagia sekali kalau itu semua benar."
"Iya ma, apa lagi papa...sudah ngak sabar mau mengajak main cucu pertama kita nanti." Papa Aryan juga tak kalah antusiasnya menyambut kehadiran sang calon cucu pertama mereka.
Mereka tengah tertawa bahagia didalam sana, tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mencuri dengar semua percakapan tuan Aryan dan nyonya Malika. Dan orang itu pun ikut menyunggingkan senyumnya.
Bersambung
Maaf ya, kemarin tidak update dikarenakan ada suatu kendala non teknis.
__ADS_1
Kira-kira siapa itu ya yang mengintip? Abi kah? Atau siapa ya? Oke, selamat membaca.
Terima kasih yang sudah membaca, apa lagi kalau di kasih like dan komen. Pasti othornya jadi tambah semangat nih. 😉❤