
Tiap kali makan malam di kediaman Mahaputra, Sabia selalu pulang larut malam karena mengobrol dengan Mama Mira dan Bik Yati selalu membuat mereka lupa waktu. Besok pagi sekali ia sudah berjanji akan untuk ziarah ke makam Hari sebelum ke acara grand opening Pameran karya para penyandang disabilitas.
Sembari fokus menyetir, Sabia ikut berdendang saat lagu favoritnya melantun melalui audio. Lagu "Part Of Your World" selalu mengingatkan Bia pada Kaisar. Lelaki itu pernah sangat mengagumi suara Bia ketika menyanyikan lagu ini. Lelaki pertama yang menggetarkan hati Sabia.
Karena sudah larut malam, Bia memilih untuk melewati jalan utama yang cukup ramai lalu lalang kendaraan. Ia tak begitu suka mengendarai mobil di jalan yang sepi. Entahlah, bayangan kecelakaan itu terkadang masih datang dan membuat Bia trauma.
Sembari menyanyikan lagu, Bia menoleh pada Restoran milik Mamanya yang belum setahun ini buka. Restoran itu sudah tutup, namun lampu di dalam masih menyala. Bia mengernyit heran, tumben? Apa Mama lupa mematikan lampu??
Bia melirik melalui kaca spion. Benar, lampu di dalam masih menyala dan ada motor yang terparkir di depan halaman yang sudah tutup. Apakah ada pencuri?? Bia bergidik.
Dengan sigap tangannya mulai merogoh ponsel di dalam tas. Ia mencoba menghubungi nomor Ayahnya. Bia memutuskan untuk putar balik dan mengawasi restoran Mamanya dari jauh.
"Halo, ada apa, Bia?" sapa Pak Darma begitu panggilan telefon tersambung.
"Ayah, apakah Mama sudah pulang?"
"Kenapa memangnya?"
Bia menggigit bibirnya kalut. "Aku baru saja lewat Restoran, semua pintu sudah ditutup tapi lampu di dalam masih menyala. Ada motor yang parkir di depan Resto. Jangan-jangan ada maling, Yah?" jelas Bia panik.
Tak terdengar suara apapun.
"Ayah? Ayah masih di sana?"
"Iya. Kamu pulang saja Bia. Mamamu sepertinya masih ada tamu."
"Tamu siapa? Kenapa tengah malam begini?? Bukannya Restoran sudah tutup!!?"
"Bukan tamu siapa-siapa. Cepatlah pulang! Besok aktifitasmu padat."
Bia melepas seatbeltnya dengan sigap. "Iya bentar lagi Bia pulang bareng Mama. Bia mau masuk dulu dan ngecek ke dalam."
"Bia .. Bia ... Hallo!"
__ADS_1
Tit.
Bia memutuskan sambungan telefon itu dan mematikan mesin mobil dengan cepat. Feelingnya mulai tak nyaman. Apakah Mamanya berselingkuh dari Ayahnya?? Kenapa harus bertemu diam-diam di tengah malam??
Tit tit.
Bia mengunci mobilnya dan melangkah lebar masuk ke dalam Restoran Nyonya Cerewet milik Mamanya. Ia memperhatikan motor yang parkir di halaman Resto dengan penasaran. Motor mahal yang sepertinya tidak sembarang orang bisa membelinya. Kening Sabia semakin mengkerut geram. Awas saja kalo Mamanya benar-benar ketahuan selingkuh!!
Grettt ...
Bia mendorong pintu rollingdoor yang tak terkunci dengan kekuatan penuh. Pandangannya sontak memindai seluruh sudut Resto dengan teliti.
Bu Darma yang masih makan sontak terbelalak kaget melihat Sabia tiba-tiba muncul.
"Mama, kok belum pulang?! Ngapain di sini malem-malem??!" selidik Bia curiga sembari masuk ke dalam.
"Kamu kok kemari? Ada apa, Bia??"
"Justru Bia yang harusnya tanya, Mama ngapain jam segini masih belum pulang?!" sela Sabia mulai tak sabar.
"Siapa dia, Ma??" sentak Sabia naik pitam.
"Bu, ledengnya sudah saya perbaiki. Bila besok masih ada yang rusak silahkan hubungi nomor saya lagi." Lelaki itu menghampiri Bu Darma dengan sopan.
Bia tak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu karena dia menggunakan masker untuk menutupi separuh bagian wajahnya. Tukang ledeng? Tengah malam??
"Oh, iya, Mas. Terima kasih banyak, ya!" ucap Bu Darma sembari bangkit dari kursinya.
"Saya permisi pulang dulu, Bu. Mari, Mba!" pamitnya sembari membungkuk saat melewati Sabia.
Bia mengangguk datar, aroma bawang yang menyengat sontak terendus saat lelaki itu melewatinya. Bia mendengus jijik, dia tukang ledeng atau tukang kupas bawang sih! Kenapa bau sekali!!!
"Terima kasih ya, Ka--" Bu Darma menoleh pada putrinya dengan keki. "Katon! Terima kasih ya, Katon!!"
__ADS_1
Lelaki bernama Katon itu keluar dari Resto dan pergi begitu saja. Bu Darma kembali duduk dan menyantap makan malamnya yang tinggal separuh.
"Kamu sudah makan, kan? Jadi pulanglah sana!"
Bia merengut kesal. "Bukannya ditawarin makan malah diusir!"
"Habisnya tatapan kamu bikin Mama jadi nggak selera makan! Pasti kamu curiga Mama selingkuh sama tukang ledeng itu, ya kan?"
"Habisnya kalian tengah malem masih berduaan di sini! Wajar dong Bia curiga."
"Wajar sih wajar, tapi mana mau laki-laki tadi sama wanita tua kaya Mama! Pantasnya malah sama kamu."
"Dih, nggak mau! Masa Mama mau jodohin Bia sama tukang ledeng! Mana bau bawang lagi! Dia sudah berapa hari nggak mandi coba!" protes Bia jengkel.
Seenaknya saja Mamanya menjodohkannya dengan lelaki tua dan bau! Cih! Amit-amit!
Bu Darma tersenyum simpul melihat respon putrinya. Beruntung Bia tak menyadari bila lelaki tukang ledeng tadi adalah Kaisar.
"Mama besok dateng kan ke acara pembukaan pameranku? Mama harus dateng loh!!"
"Iya, Mama pasti dateng. Ayahmu tuh yang nggak suka acara-acara begitu!"
"Ayah harus dateng juga, lah! Ini kan acara besar yang diadakan Putri kesayangannya!" Bia merengut.
Bu Darma menghabiskan suapan terakhirnya dan berdiri untuk mencuci piring bekasnya. Ia memperhatikan piring dan cobek yang sudah dicuci bersih oleh Kaisar tadi. Menantunya itu sudah pandai mencuci piringnya sendiri, tidak seperti beberapa bulan lalu ketika setiap piring pasti pecah bila Kaisar yang mencucinya.
"Ma, apakah Mama nggak pernah denger kabar tentang Kaisar?"
Deg.
Bu Darma menelan salivanya gugup. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan lelaki cecunguk itu!?" teriak Bu Darma dari dapur, berpura-pura emosi.
__ADS_1
"Aku ... kangen sama dia, Ma," lirih Sabia pilu.
******************