
"Kita mau ke mana, Mas Diki? Kok naik lift?" tanya Sabia heran saat Diki membawanya ke sebuah tempat asing.
"Pak Kai menunggu anda." Diki berdiri di depan Bia dengan tegang. Hati kecilnya mulai memberontak, namun ia tidak ingin ikut campur dan terlibat ke dalam urusan Bos-nya. Toh, Sabia adalah istri sah dari Kaisar.
"Iya paham. Tapi ini di mana? Kok sepi banget di lift ini!" Bia merentangkan tangan dan meraba sekitarnya, hanya ada dia dan Diki.
"Nanti anda akan tahu, tunggulah sebentar lagi," sahut Diki gugup, ia mendongah dan menatap angka lift yang semakin bertambah.
Tepat di lantai teratas di lantai 40, lift pun berhenti. Diki menarik napasnya dalam sebelum kemudian memencet kode khusus untuk membuka pintu lift privat yang ia naiki.
Tting.
Pintu lift terbuka perlahan. Sabia yang sejak turun dari mobil sudah merasa curiga pada sikap Diki sontak mundur dan meringkuk di pojokan lift.
"Mari kita keluar, Mbak Bia."
"Nggak mau! Ini di mana? Aku nggak mau keluar!" teriak Sabia panik.
Diki menghembuskan napasnya berat. Sepertinya ini tak akan mudah.
"Aku mau pulang. Bawa aku pulang, Mas Diki! Aku nggak mau ketemu Kaisar di sini!" jerit Bia ketakutan. Feelingnya merasakan sesuatu yang tak beres.
Kaisar yang sejak tadi menunggu kedatangan Bia, mulai terusik saat mendengar suara teriakan gadis itu. Ia bangkit dari sofa dan mengayunkan langkahnya menuju lift yang masih terbuka. Tatapan tajam Kai bertemu dengan Diki saat ia tiba di depan pintu lift. Sementara itu, Sabia tak bergeming di sudut lift sambil mendekap tubuhnya sendiri.
"Keluar, Bia," perintah Kaisar dingin.
Bia bergidik mendengar suara berat itu, seperti ada amarah yang siap meluap dalam setiap penekanan katanya. Tanpa sadar Sabia menelan salivanya takut.
__ADS_1
"Keluar." Kaisar mengulang perintahnya saat Sabia tak sekalipun bergerak.
Gambaran foto yang Patricia kirimkan tadi melintas di pikiran Kai, tawa Sabia sangat lebar dan tulus difoto itu. Dadanya kembali bergemuruh. Tanpa menunggu lagi, Kaisar meringsek masuk ke dalam lift, ia berjongkok dan mengangkat tubuh mungil Sabia untuk ia bopong di pundaknya yang kekar.
Biar tersentak, namun ia tak sanggup bergerak ketika secara spontan Kaisar mengangkat tubuhnya, mencengkram erat kedua pahanya.
"Pulanglah, Diki. Tugasmu sudah selesai!" perintah Kai begitu ia sudah membopong Bia keluar dari lift.
Diki masih tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, ia mematung dan tak sanggup melakukan apapun.
Kaisar menatap sekretarisnya itu dengan tajam lantas menutup pintu lift dari dalam dan menguncinya.
"Lepasin aku, Kai! Lepasin!" jerit Sabia begitu Kaisar menggotongnya pergi menjauh dari lift.
Tak terusik oleh jeritan, pukulan serta tendangan Sabia di tubuhnya, Kaisar tetap menggendong gadis itu di bahunya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Begitu berada di depan ranjang, Kaisar menurunkan Sabia dan sedikit membantingnya ke tumpukan bantal-bantal empuk itu.
"Mau apa kamu?! Di mana ini? Kenapa kamu membawaku ke sini?" cecar Sabia begitu bisa menguasai diri, menarik roknya yang tersingkap dengan cepat.
Kaisar tak menyahut, hormon testosteronnya sudah terpancing. Naluri lelakinya terusik melihat warna menggemaskan itu. Tanpa sadar ia melepas kancing kemejanya dengan tak sabar.
"Kaisar! Di mana kamu?!" teriak Bia semakin kesal. Lelaki tua itu berada di sekitarnya, aroma parfumnya sangat menyengat di indra penciuman Bia.
"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah mengabaikanku, Bia!" geram Kai penuh dendam.
Bia kembali bergidik takut, ia beringsut mundur saat merasa Kaisar naik ke atas ranjang dan mendekat padanya.
"Pergi! Aku benci sama kamu!" usir Bia kalap.
__ADS_1
Kaisar menangkap satu kaki Sabia dan mencekalnya dengan erat. Merasa sedang terjebak di situasi yang membahayakan, Sabia reflek menendang Kaisar dengan menggunakan kakinya yang lain. Karena tak siap, hentakan kaki itu tepat mengenai wajah Kaisar dan melukai bibirnya.
"Lepasin aku!" teriak Bia serak.
Tak ada respon, Kaisar mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya karena terkena tendangan Sabia barusan. Ia menggeram marah, menatap Bia hingga manik matanya mengkilap. Dengan tenaga ekstra, akhirnya Kaisar menarik tubuh Bia hingga gadis itu tersentak. Kaisar mengungkung tubuh Bia di bawah kendalinya, mengunci kedua tangan dan kakinya.
"Lepasin aku, Kai. Aku mohon." Air mata Bia mulai menetes. Tatapan dingin dari gadis itu mulai meredup. "Jangan lukai aku, aku mohon."
Kaisar tersenyum kecut. Dalam hitungan detik, ia menahan kedua tangan Bia dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mulai melucuti underwearrnya.
Air mata Bia semakin deras menetes, habislah sudah tenaganya kini. Kaisar dengan beringas dan tanpa ampun menelanjangii Sabia hingga gadis itu benar-benar tergolek tanpa sehelai benangpun. Bia menangis, hatinya sakit sekali mendapat perlakuan seperti ini dari Kaisar.
Seolah mendapatkan rejeki nomplok, Kaisar menyeringai puas saat melihat Bia tak berdaya di bawah tubuhnya. Setiap inci tubuh gadis itu benar-benar mulus dan original, Kaisar menelan saliva. Wangi yang manis menguar dari tubuhnya saat Kaisar membungkuk dan mendekat ke leher jenjang gadis itu.
"Kamu menyerah sekarang?" ejek Kaisar saat Sabia tak lagi memprotes.
Bia tak menyahut, lelehan air matanya adalah jawaban. Kaisar pun melepas celananya dan menggesekkan junior yang telah menegang sempurna.
"Ini milikmu, Bia. Dan mulai sekarang, kamu hanya milikku! Paham!?"
*****************
Kalo nggak pelit jempol, otor semangat loh updatenya 😌
Yuk, ah. Bagi jempolnya dan votenya, Bestie ❤️
__ADS_1