
Semakin hari, Sabia semakin menyibukkan diri dengan hobi barunya. Setiap kali ada waktu lowong, ia akan menghabiskannya di galeri. Membuat patung wajah Hari ternyata sangat sulit karena Bia tak pernah melihatnya dengan mata. Berbeda dengan saat ia membuat patung Prince Eric, ia menyelesaikannya dalam waktu 3 hari saja karena sudah hafal bentuk wajah dan detail kecil pada mata, hidung dan bibirnya. Sedangkan dengan Hari, Bia harus mentransfer apa yang telah ia raba ke dalam wujud yang sama.
"Sepertinya mataku tidak sesipit itu deh!" keluh Hari saat ia sedang memperhatikan Bia yang tengah asyik menyelesaikan detail kecil pada bagian hidung menggunakan butsir.
"Diamlah, aku kan membuatnya sesuai dengan imajinasi dan rabaan tanganku!" sangkal Bia ngotot.
Hari mengernyit dan mengusap dagunya perlahan, Bia hanya tiga kali meraba wajahnya namun hasil buatan tangannya cukup mirip dengan wajah asli Hari. Ia tersenyum lirih.
"Bisakah kamu mengubah bentuk matanya? Aku jadi terlihat seperti sedang tidur, Bia!"
"Ah, kamu cerewet sekali, Hari! Keluarlah, jangan menggangguku!" usir Bia kesal.
Hari terkekeh, ia berhasil mengusik ketenangan Bia yang sangat fokus dan penuh konsentrasi bila sedang berhadapan dengan tanah liat itu.
"Sana pergi!" kecam Bia sekali lagi.
"Ya ya, baiklah Nona Seniman. Awas saja kalo wajahku nanti berbeda jauh dengan aslinya!"
"Cerewet!"
Sementara itu di luar, Kaisar baru saja pulang dari kantor. Seperti biasa ia tak akan menemukan Sabia di dalam kamar karena gadis itu sedang menggandrungi hobi barunya membuat patung. Terkadang bila tak lelah, Kaisar akan mengintip Bia di dalam ruang galerinya, memperhatikan gadis ababil itu sibuk membentuk salah satu bagian wajah sambil memejamkan mata seolah menghafalkan sesuatu, sesekali berdecak saat tanah liat yang sudah ia bentuk tiba-tiba jatuh dan rontok karena kurang ditekan. Sungguh hiburan tersendiri bagi Kaisar setelah ia tak bisa menghubungi Pat, melihat dan memperhatikan Bia dari jauh sudah cukup membuatnya senang.
...Credit pict : Pinterest...
Kaisar melepas jasnya dan menggantungnya di hanger lemari, ia lantas merogoh ponsel dari saku celananya lantas meletakkannya di meja nakas. Sebuah pesan muncul di bilah notifikasi saat layarnya menyala karena sentuhan tangan Kaisar. Pesan dari Patrcia.
__ADS_1
Dengan napas tertahan, Kaisar meraih kembali ponsel itu dan membuka isi pesan dari Pat.
[Don't you miss me? Sudah hampir seminggu kamu tidak mengubungiku, Kai. I'm dying!]
Rindu? Sekarat?
Bahkan mungkin Kaisar sudah seperti mati karena telah tersiksa oleh dua hal itu sejak seminggu ini. Ia tak bisa melampiaskan nafsunya pada Pat lagi, ia tak bisa mendapatkan perhatian darinya, sungguh sangat menyiksa. Namun, demi janjinya pada Papanya apapun akan Kai lakukan. Setidaknya untuk dua sampai tiga bulan ini ia akan bertahan, semoga saja Pat mau menunggu.
Akhirnya Kaisar membiarkan pesan itu tanpa membalasnya. Ia tak ingin memperkeruh suasana dan akhirnya malah bertengkar dengan Pat, biarlah sementara waktu ia menyendiri dulu. Belum sempat ponsel itu ia letakkan kembali di meja, sebuah pesan masuk membuatnya berdenting kembali. Kaisar melirik sekilas. Pesan dari Mama Asih.
[Kalo besok sore nggak sibuk, bisa mampir ke rumah, kan?]
Kaisar menerawang sejenak, ia tak hafal jadwalnya untuk kegiatan besok. Tapi mungkin ia bisa meng-cancel beberapa. Kaisar mulai mengetik pesan balasan di keypad ponselnya.
[Siap, Ma. Saya pasti datang sepulang dari kantor.]
Setelah memastikan pesan itu masuk, Kaisar melempar perlahan ponselnya ke meja nakas. Seluruh tubuhnya gerah, sepertinya mandi akan membuatnya segar kembali.
Saat Bia melewati ruang makan, ia memiringkan kepalanya sebentar dan berhenti. Sepertinya suara denting sendok dan piring menyita perhatiannya. Kaisar menghentikan suapannya dan menunggu hingga Bia berlalu. Beberapa hari ini ia selalu menghindar untuk berinteraksi dengan Bia.
Merasa tak lagi mendengar apapun, Bia melanjutkan langkahnya dan menghilang di balik pintu kamar. Sambil menghembuskan napas lega, Kai kembali melanjutkan makannya yang tinggal separuh porsi.
Tepat jam 11 malam, usai makan dan merokok di lantai atas. Kaisar beringsut turun untuk istirahat. Lampu yang temaram membuatnya tak menyadari seseorang tengah mengawasinya dari ruang keluarga.
"Belum tidur, Kai?"
Kaisar tersentak, langkahnya hampir saja terjungkal karena ia kehilangan fokus saat menuruni tangga terakhir. Ia menoleh ke living room, Papanya sedang duduk sendiri di sana.
__ADS_1
"Papa sendiri kenapa belum tidur?" tanya Kaisar sembari menghampiri tempat duduk Papanya.
Syailendra menghela napas panjang, ia menatap putra sulungnya itu.
"Papa belum bisa tidur, kepikiran dengan Mamamu."
"Mama Mira?"
Syailendra mengangguk pelan. Hembusan napasnya yang berat membuat Kaisar jadi iba padanya.
"Dokter bilang Mamamu harus menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang. Tapi dia menolak."
"Kenapa menolak?" tukas Kaisar heran.
Syailendra menggeleng lemah. "Entahlah. Papa masih berusaha membujuknya. Dia bersikukuh untuk kemo daripada harus mengorbankan sumsum tulang salah satu di antara kita."
"Hari?" tanya Kaisar meyakinkan.
"Ya, dan Mamamu tidak ingin merepotkan dia. Dia masih yakin bisa sembuh dengan kemo. Padahal bila mau kemo dan radiasi lalu cangkok sumsum tulang, Mamamu pasti bisa sembuh total!" Syailendra mengusap wajahnya dengan frustasi.
Melihat kondisi Papanya yang nampak terpuruk, mau tak mau Kaisar jadi ikut kepikiran.
"Nanti kalo ada kesempatan, aku akan coba bujuk Mama, Pa," pungkas Kai berjanji.
Syailendra tersenyum lega, ia menepuk bahu putra sulungnya dengan hangat. "Terima kasih, Nak. Omong-omong, kapan kamu akan membuatkan cucu untuk Papa?"
***************
__ADS_1
"Nanti, Pa. Tunggu Ayang Kaisar tobat!" bisik otor dengan senyuman iblisnya 😈
Bestie, jan lupa jempolnya 🥰❤️