GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Putus Sementara


__ADS_3

Di apartemen lantai 35, Kaisar duduk di sofa panjang di living room sembari menunggu Patricia yang tengah mandi. Ia sudah mulai ngantor dan sibuk dengan beberapa pekerjaan yang tertunda karena kondisi kesehatannya tempo hari.


Papanya pun sudah pulang sejak kemarin, dan hari ini Kaisar menemui Patricia untuk berkompromi.


"Kamu sudah makan?"


Kaisar tersentak, Patricia sudah berjalan menuju pantry dengan hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan di badan. Bila tak sedang suntuk, mungkin Kaisar akan menyergap tubuh seksi itu saat ini juga. Sayangnya, pikirannya sedang kacau sejak Papanya kolaps beberapa hari yang lalu.


"Sudah tadi di kantor. Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kaisar mengulurkan tangannya pada Pat saat wanita itu menolehinya.


Tatapan Patricia penuh rasa curiga, feelingnya tak bagus. "Membicarakan soal apa?" tanyanya menyelidik. "Oh ya, bagaimana keadaan Papamu?"


Kaisar menghembuskan napasnya berat, tangannya terkulai lemah. "Kemarilah, Pat." pintanya.


Patricia meletakkan gelas yang ia genggam dan menghampiri kekasihnya. Ia sedikit menyibak handuk yang menutupi pahanya untuk menggoda Kaisar, namun sayang lelaki kutub itu seperti tak berselera untuk menikmati petang ini bersamanya di ranjang. Akhirnya Patricia mendesah kecewa dan duduk agak jauh dari Kaisar.


"Katakan ada apa?" tanya Pat ketus, tangannya bersedekap di dada.


"Kita harus putus sementara, Pat."


Jderr.


Bak petir di siang bolong, kata-kata yang paling Patricia benci akhirnya ia dengar hari ini.


"Hanya sementara, aku jamin setelah Bia operasi nanti aku akan kembali padamu."


"Bohong! Kamu pasti sudah mulai mencintai gadis buta itu!"


Kaisar bangkit dan menghampiri Pat. "No, Pat. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."


Patricia menatap tajam pada manik mata Kaisar yang hitam pekat.

__ADS_1


"Aku lebih mengutamakan kesehatan Papaku untuk sementara waktu ini. Tolong mengertilah. Aku tidak akan benar-benar meninggalkanmu. Kita tetap bisa bertemu, tapi tidak akan sesering dulu. Maafkan aku," mohon Kaisar sedih, wajah garangnya meredup dan nampak sangat tertekan.


"Apakah kamu janji?" tanya Pat ragu.


Seolah mendapat angin segar, Kaisar mengangguk cepat. "Aku janji. Ini hanya sementara."


Bukan tanpa alasan Syailendra tidak menyukai Patricia. Selain karena berbeda keyakinan, pekerjaan Patricia sebagai model yang berani tampil buka-bukaan membuat Syailendra takut bila Kaisar akan terkena dampak image buruknya. Terlebih, iklan Apartemen yang Patricia bintangi tak laku di pasaran karena keegoisan Kaisar. Padahal tadinya model yang dipilih bukanlah Patricia.


"Sebelum kamu pergi, bagaimana kalo kita tiduran sebentar?" goda Pat sambil bersandar manja di dada bidang Kaisar.


"Maaf, Pat. Aku harus pulang. Kondisi Papa masih belum stabil dan aku tidak mau membuatnya curiga."


..


..


Sementara itu di kediaman Mahaputra. Semua anggota keluarga sudah berkumpul mengelilingi meja makan. Hanya Kaisar yang belum datang dan bergabung.


Hari menceritakan tentang kejadian lucu selama di kantor, tujuannya adalah untuk menghibur Mamanya dan Sabia agar tak melulu memikirkan permasalahan masing-masing dari mereka berdua.


Hari dan Mira sontak mengikuti arah pandang Syailendra. Hanya Sabia yang diam mematung dan kembali suntuk setelah mendengar nama Kaisar disebut.


"Selamat malam semuanya, maaf aku terlambat!" Kaisar menghempaskan pantatnya ke kursi di sebelah Sabia setelah seorang pelayan menarikkan kursi untuknya.


Hari acuh, Sabia lebih tak peduli. Hanya Mira dan Syailendra yang merespon dengan senyuman. Menyadari suasana menjadi hening karena kedatangannya, Kaisar jadi salah tingkah.


"Oh ya, Pa. Tadi Sabia ikut les mematung loh! Ya, kan, Bia?" celetuk Mira mencoba mencairkan suasana.


Syailendra tersenyum senang. "Wah, keren itu. Nanti Papa akan bikinkan pameran khusus untuk semua hasil karyamu, Bia!"


"Ah, Papa, Bia masih perlu banyak belajar. Masih lama banget untuk bisa disebut ahli!" ujar Bia merendah.

__ADS_1


Kaisar menolehi Sabia dengan heran. Pantas saja gadis ini terlihat tak peduli dengan pertengkaran terakhir mereka, ternyata dia punya kesibukan sendiri selama beberapa hari ini.


"Vas bungaku apa sudah jadi?" tanya Hari sembari melirik Kaisar.


Bia menggeleng. "Aku nggak bikin vas! Aku bikin patung wajah!"


"Pffff ..." Kaisar berusaha menahan tawanya saat mendengar penjelasan Bia. Patung wajah?


Sabia mendengus kesal saat Kaisar menertawainya, ia menoleh dan menatap kosong ke tempat duduk lelaki menyebalkan itu.


"Aku akan membuat patung yang bagus. Aku juga akan membuatkan patung untuk Hari, Mama, Papa dan kedua orang tuaku, Bik Yati juga. Kecuali kamu!" semburnya emosi.


"Pffff ..." giliran Hari yang tak bisa menahan tawanya.


Mira sontak menepuk bahu Hari agar tak memperkeruh suasana.


"Hahaha ... bagus, Bia!" puji Syailendra yang melihat skakmat menantunya pada Kaisar. "Boy, jangan iri pada kami ya nanti saat di pameran!" sindir Syailendra seraya mengedipkan matanya pada Kaisar.


"Tidak. Lakukan saja sesuka hati kalian. Memang sejak awal aku tidak pernah dianggap kan di keluarga ini." Kaisar menyahut santai sambil melahap suapan terakhir makan malamnya.


Tawa Syailendra terhenti, ia menatap sendu pada putranya itu. Mira yang menyadari suasana kembali kaku hanya mengelus punggung tangan suaminya agar tak memperpanjang percakapan ini.


Sabia yang tadinya ingin memojokkan Kaisar jadi menyesal setelah mendengar perkataan lelaki yang duduk di sebelahnya ini.


Apakah ada rahasia yang belum ia ketahui?


Mungkinkah sikap Kaisar yang selalu bertingkah semaunya dan ingin menang sendiri adalah wujud pemberontakannya akan ketidakadilan yang selama ini ia rasakan?


"Aku masuk ke kamar dulu. Selamat malam!" Kaisar bangkit dari kursinya setelah meneguk air di gelas hingga tandas.


*****************

__ADS_1


Bestie, jan lupa jempolnyaa.


Siap-siap jatuh hati sama Kaisar yaaa di bab-bab berikutnya!


__ADS_2