
Di tempat berbeda. Kaisar baru saja masuk ke dalam mobilnya dan hendak memasang seatbelt saat kemudian pintu penumpang di sebelahnya dibuka dari luar. Sontak Kaisar mendongah kaget, wajah tak asing yang beberapa bulan yang lalu menjadi candu tiba-tiba masuk dan duduk.
"Pat?" Kaisar berdecak tak percaya. "Apa-apaan?"
"Kita ke apartemenku."
"Pat, aku harus cepat pulang. Papa sudah berada di rumah sejak satu jam yang lalu."
"Aku nggak peduli, aku kangen sama kamu, Kai. Aku kangen dipeluk kamu, aku kangen dicium, dibelai, aku kangen sentuhan kamu!" teriak Pat kesal.
Kaisar menghembuskan napasnya gusar. "Aku akan mendatangi apartemenmu besok, tapi tidak hari ini, Pat."
"Bohong! Kamu sudah melupakanku, kan? Kamu sudah jatuh cinta sama gadis buta itu, kan?!!"
"Pat, stop it. Ini bukan karena Bia. Dia tidak ada sangkutpautnya dengan hubungan kita, aku sudah mengatakan hal ini berkali-kali padamu, kan?!"
Patricia tersenyum kecut, ia melipat kedua tangannya di dada. "Tapi kenyataannya tatapanmu berkata sebaliknya, Darling! Kamu bisa berbohong dengan mulutmu, tapi tidak dengan tatapan matamu."
Mendapat cercaan dari Patricia, tak serta merta membuat Kaisar gentar. Ia menatap wanita yang sedang duduk dengan angkuh di sebelahnya.
"Aku akan datang ke apartemenmu besok. Aku janji. Peganglah janjiku. Tapi tidak hari ini."
"Bila kamu berbohong, aku akan datang ke rumahmu dan mengatakan pada istrimu juga Papamu bila kita masih berhubungan."
Kaisar menghembuskan napasnya berat, ia mencengkram setir dengan erat. "Baiklah."
..
..
__ADS_1
Dengan langkah berat, Kaisar masuk ke dalam rumah Mahaputra. Kedatangan Pat tadi membuatnya gundah, tidak ada semangat yang membara dan berapi-api seperti dulu. Entahlah, sepertinya ada yang salah dengan diri Kaisar.
"Selamat malam, Tuan!"
"Malam." Kaisar menyahut sambil tetap melangkah masuk.
Pelayan yang membukakan pintu sontak terbelalak kaget mendengar respon Tuannya.
Dengan suntuk, Kaisar membuka pintu kamarnya. Di jam seperti ini biasanya Sabia masih berkutat di ruang galerinya, jadi Kaisar memutuskan akan mandi dan menemui gadis itu setelah membilas tubuhnya dengan air dingin. Kaisar sudah rindu melihat senyum istri kecilnya itu.
Usai melempar kemejanya ke keranjang laundry, Kaisar masuk ke dalam kamar mandi dan memutar tuas shower. Kucuran air dingin membuat tubuhnya yang lelah seolah tercharge kembali. Tak ingin berlama-lama, Kaisar lekas menyelesaikan mandinya dan mengenakan bathrobe. Ia melangkah ke wastafel untuk menyikat gigi. Saat sedang fokus menyikat gigi-giginya, sesuatu terinjak dan mengganjal di kaki Kaisar. Ia menunduk penasaran, sepertinya Bia menjatuhkan jepitan rambutnya.
Dengan sikat yang masih menempel di mulut, Kaisar membungkuk dan mengambil benda yang terinjak olehnya. Benda panjang dan pipih berwarna putih yang berada tepat di bawah kakinya membuat Kaisar terhenyak. Ia meraih benda itu dengan jantung berdebar. Sebuah tespack, dengan dua garis merah terpampang jelas di sana. Kaisar meraih gelas untuk berkumur dan segera menyelesaikan acara bersih-bersihnya.
Sabia hamil? Dia mengandung??
Kaisar tersenyum lirih, ia bergegas mengenakan piyamanya dan berlari keluar dari kamar untuk menyusul Sabia di ruang galeri.
Gelap. Hening.
Kaisar mengernyit heran. Ke mana Bia?
Ia menutup kembali pintu galeri dan berbalik, apakah Bia di taman belakang?
Dengan langkah lebar, ia mencari istri kecilnya itu dengan wajah sumringah. Bia sedang mengandung anaknya! Ya, tidak salah lagi. Bia hamil!
Tiba di taman belakang, Kaisar tak menemukan siapapun di sana. Ke mana Sabia!? Kenapa dia selalu saja menghilang sesuka hati?!
Sedikit kesal, Kaisar kembali berbalik dan memutuskan untuk mencari Bik Yati. Sepertinya hanya dia yang tahu ke mana Sabia pergi.
__ADS_1
"Di mana Bik Yati?" tanya Kaisar pada pelayan yang sedang menyiapkan makan malam di meja.
"Sedang keluar dengan Nona muda sejak siang tadi, Tuan."
"Keluar ke mana??" cecar Kaisar cepat.
"Tadi sih saya sempat mendengar katanya mau ke Dokter."
Deg.
Kaisar menghembuskan napasnya kalut. Jadi mereka berdua sudah tahu sejak tadi tapi tak sekalipun mengabarinya?
Saat hendak berbalik ke kamar, pandangan Kaisar tertuju pada pintu ruang tamu yang di buka oleh pelayan. Bik Yati muncul dari balik pintu sembari menggandeng Sabia yang nampak lemas.
Tidak! Tidak mungkin Sabia melakukan aborsi, bukan?
Kaisar mendesah frustasi. Ia menghampiri dua orang manusia yang baru saja tiba itu dengan terburu-buru.
"Dari mana kalian?"
"Eh, ayam!" Bik Yati menutup mulutnya dengan cepat, ia terkejut melihat Kaisar tiba-tiba muncul dan mengagetkan mereka berdua.
"Dari Dokter, Tuan!" sahut Bik Yati setelah bisa menguasai diri.
Kaisar beralih mengawasi Sabia yang tertunduk lemas. Pikiran buruknya mulai berkecamuk.
"Bawa Bia masuk, Bik. Saya mau bicara empat mata dengannya!"
**************************
__ADS_1
Noh, udah otor kasi 3 Bab loh. Ayooo, jangan pelit jempol lagi ya, Bestie! ❤️😚