GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Si Tukang Cari Gara-Gara


__ADS_3

Saat membuka mata pagi ini, mood Kaisar masih memburuk usai mendengar percakapan Hari dan Sabia semalam. Barang-barang milik Bia berserakan di lantai, bantalnya masih teronggok tak berdaya di belakang pintu. Baju milik Bia yang biasanya ia peluk dan ciumi saat tidur sudah terserak di dekat kamar mandi. Kaisar mengamuk semalaman, ia kesal, ia cemburu dan ia rindu.


Melihat wajah Hari yang nampak sangat segar dan penuh senyum di meja makan, membuat otot-otot syaraf Kaisar menegang. Ia benci senyum menyebalkan itu! Ia benci tatapan hangat itu! Ia benci setiap sifat yang ada pada diri Hari karena hal itu justru membuat Sabia mengaguminya.


"Apa Sabia sehat, Kai?" tanya Syailendra saat ia memperhatikan wajah tegang putra sulungnya itu.


Kaisar melirik sinis. "Tanya saja sama dia!" tunjuknya menggunakan dagu pada Hari.


Tatapan Syailendra beralih pada putra bungsunya. Mira yang menyadari bila Kaisar sedang cemburu memberi isyarat gelengan kepala pada Syailendra agar tak membahas Sabia.


"Aku?" tanya Hari seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa lagi yang rutin menelefon istri orang selain kamu!" jawab Kaisar ketus.


Hari terkekeh gemas, apakah Kaisar sedang cemburu padanya?


"Kalo cemburu telefon dia dong!" sindir Hari. "Lagian punya istri cantik di anggurin, mending di strawberry-in aja!" Hari mencuil selai strawberry dan mengolesnya dengan gerakan perlahan.


Kaisar menggenggam gelas kopinya dengan erat, rahangnya mengeras menahan emosi.


"Hari." Mira mengedipkan matanya agar Hari berhenti menggoda Kakaknya.


Hari hanya tersenyum simpul sembari melirik Kaisar sesekali. Tujuannya melihat Kaisar naik pitam pagi-pagi telah tercapai.


"Sorry!" lirih Hari dengan tampang tak berdosa.


Menyadari bila adiknya semakin menyebalkan, Kaisar menyesap kopi hitamnya sembari tetap menatap tajam pada Hari.


Syailendra yang menyaksikan tingkah dua putranya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Bahkan meskipun di usia mereka yang sudah tak lagi abege, Kaisar dan Hari masih saja berdebat akan hal yang tak penting. Kaisar yang temperamen dan Hari yang usil.


Tiba di kantor, kesibukan yang padat membuat Kaisar sedikit lupa pada rasa kesalnya. Meski demikian, beberapa staf tak luput dari omelan ataupun komplain sang bos yang perfeksionis. Diki sampai harus berkali-kali meminta maaf pada para staf setelah Kaisar melenggang pergi.


"Pak, apa tidak sebaiknya anda istirahat dulu untuk makan siang? Ini sudah hampir sore."


Kaisar menggeleng seraya tetap membaca berkas yang harus ia tandatangani dengan serius. Diki memperhatikan arlojinya sekali lagi, ia kelaparan karena belum makan siang tapi tidak mungkin meninggalkan Bosnya sendirian.


"Kamu makan saja sana! Biar aku selesaikan dulu semua pekerjaan ini," saran Kaisar cuek.


"Tidak, Pak. Saya akan menunggu hingga Pak Kai selesai," tolak Diki sungkan.


"Jangan membantahku, Diki. Pergilah! Bunyi perutmu mengganggu konsentrasiku daritadi!" usir Kai dingin.


Diki mengusap perutnya dengan keki, apakah bunyi perutnya bisa terdengar oleh Kaisar?


"Pergilah!"


"B-baik, Pak! Saya akan kembali sebelum tiga puluh menit."


"Waktu istirahatmu 1 jam! Pergilah!"

__ADS_1


Diki mengangguk paham. Ia lekas berjalan dengan cepat dan menghilang di balik pintu.


Sepeninggal Diki, Kaisar menghela napasnya berat. Ia menopang kedua lengannya di meja dan memijat keningnya yang berdenyut pening. Perutnya yang keroncongan membuat Kaisar merasa semakin merana. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja dan membuka gallery. Ia rindu wajah itu, wajah cantik dan polos yang tiada lagi menemani hari-harinya.


Saat melihat foto Bia yang sedang tersenyum, tanpa sadar Kaisar ikut tersenyum. Ia memperbesar tampilan foto itu dan mengusap wajah Bia dengan penuh cinta. Gadis ababil yang menyebalkan, pembangkang, cerewet, polos dan selalu ingin tahu. Gadis yang telah merubah dunia Kaisar Mahaputra.


Jack is calling ...


Kaisar terkesiap saat sebuah panggilan masuk tiba-tiba muncul di bilah notifikasinya.


"Halo?"


"Pak, kami kehilangan jejak target Patricia. Dia mengelabui kami di hotel. Bila Pak Kaisar berada di tempat yang dikenal oleh Patrcia, mohon segera melindungi diri. Kami khawatir Patricia sedang menuju tempat anda dan mencelakai anda. Ada pembelian senpi atas namanya beberapa bulan yang lalu."


Deg.


Kaisar menelan salivanya panik. "Baik, Jack. Terima kasih atas infomu! Aku akan pulang sekarang juga!"


Tit.


Kaisar bangkit dari kursinya setelah membersihkan berkas-berkasnya. Ia mengenakan suitnya dengan terburu-buru. Saat hendak beranjak, nada dering ponselnya berbunyi lagi. Kaisar meliriknya sekilas.


Diki is calling ...


"Halo, Dik."


"Kamu di mana, Diki?"


"Saya sedang menuju kantin, Pak."


Kaisar menghembuskan napasnya gamang. "Turun ke basement sekarang juga! Aku akan menunggumu di sana."


"Baik, Pak. Saya akan segera masuk ke dalam lift."


Kaisar memutuskan sambungan telefon itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ada apa dengan Hari? Tumben dia mengajak bertemu?


Dengan langkah lebar Kaisar tiba di lift. Beberapa staf yang antri untuk masuk sontak mundur dengan teratur. Ia melirik beberapa orang staf itu dengan waspada. Ponsel di saku celananya kembali berdering. Panggilan dari Jack.


"Halo, Jack!"


"Pak, target Patricia terpantau berada di kantor anda. Kami sedang menuju ke sana. Mohon Pak Kaisar untuk tidak sendirian saat ini."


Kaisar menghela napasnya panik. Pintu lift terbuka perlahan.


"Baik, Jack. Terima kasih!" Kaisar memasukkan ponselnya ke saku dan menoleh pada para staf yang berdiri di belakangnya.


"Ayo, masuk. Tidak perlu sungkan!" perintahnya sembari menatap ramah pada mereka.


Beberapa staf saling berpandangan heran, Kaisar lebih dulu masuk dan memerintahkan mereka untuk ikut masuk juga. Mau tak mau mereka pun menurut, dengan bergiliran mereka mengisi lift hingga hampir penuh dan Kaisar tergencet di belakang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Santai saja! Saya tidak terburu-buru!" ucap Kaisar santai.


Seorang staf memencet angka 10, 6, 3 dan 1. Jadi liftpun perlahan naik ke lantai atas. Kaisar menghembuskan napasnya lega. Setidaknya dia berada di tengah kerumunan yang aman. Tiba di lantai 10, dua orang staf keluar, berganti seorang lelaki masuk. Kaisar mengenal lelaki itu.


"Diki!" panggil Kaisar cepat.


Diki terbelalak kaget saat melihat bos-nya berada di deretan belakang di antara kerumunan staf. Apa dia tidak salah lihat??


Akhirnya Diki meringsek mundur dan berdiri bersisihan dengan Kaisar.


"Kenapa Pak Kaisar malah berdesakan di sini??" tanya Diki heran.


"Tidak apa. Nanti aku ceritakan bila kita sudah tiba di basement. Ngomong-ngomong, kenapa Hari memintaku menemuinya?"


Diki menelan salivanya gugup. "Di bawah ada Mbak Sabia, Pak. Tadinya Mas Hari akan membawa Mbak Sabia ke Dokter, tapi dia--" Diki menghentikan penjelasannya saat Kaisar sontak meringsek maju dan menekan tombol basement berkali-kali dengan panik.


"Kalian semua turunlah dulu dilantai 6. Saya harus tiba di basement secepatnya!" perintah Kaisar pada seluruh stafnya.


Tting.


Pintu lift terbuka. Semua staf sontak berhambur keluar dengan tergesa-gesa. Diki mengawasi Bosnya yang terlihat panik.


"Ada apa, Pak?"


"Patricia sedang menuju kemari! Jangan sampai dia bertemu Bia di bawah!!"


"A-a-apa?!" desis Diki syok.


"Akh, lama sekali lift ini bergerak!!" umpat Kaisar sembari menendang pintu lift dengan kesal.


Segala pikiran buruk mulai berkecamuk di benak Kaisar, ia panik, ia takut, ia marah. Kenapa Bia justru datang di saat yang tidak tepat seperti sekarang!!


2 ...


1 ...


Basement.


Tting.


Cccciiiiiit.


Brak.


"Biaaaa!!!"


"Hariii!"


*******************

__ADS_1


__ADS_2