GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Serba Salah


__ADS_3

Hingga pagi, akhirnya Sabia melanjutkan tidurnya dengan berpelukan. Entah sampai jam berapa ia mem-puk-puk dan mengelus kening Kaisar yang demam tinggi.


Secercah bias sinar dari jendela membuat Bia membuka mata. Meski tak bisa melihat jelas, Bia masih bisa membedakan bias cahaya dan gelap. Pelukan Kaisar di tubuhnya membuat Sabia tak bisa bergerak leluasa. Tangannya yang besar dan berbulu melintang di perut Bia, dengkuran halus yang bergantian dengan rintihann lirih terdengar menyayat hati.


Apakah selama ini Kaisar selalu sendirian di saat kesakitan seperti sekarang? Semalam ia sempat keceplosan menyebut Mamanya. Mama siapa yang dia maksud? Mama Mira atau Mama kandungnya?


Karena kebelet BAK, Sabia mengangkat dan memindahkan tangan Kaisar dengan sangat hati-hati. Ia tak ingin membangunkannya. Suhu tubuhnya sudah tak sepanas semalam, Kai pun sudah tidak menggigil lagi. Dengan perlahan dan tanpa suara, Sabia turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Ia memutuskan akan sekalian mandi dan sarapan mumpung Kaisar belum bangun.


Usai berganti pakaian dan sarapan, Sabia meminta Bik Yati untuk menyiapkan obat demam.


"Siapa yang sakit, Non?" selidik Bik Yati kepo.


"Siapa lagi kalo bukan Maha Suci dan Agung Tuan Kaisar!"


Bik Yati tertawa mendengar jawaban Sabia. Terlihat sekali betapa Nonanya sangat kesal pada suaminya itu.


"Tuan Kaisar jarang banget sakit. Tapi sekalinya sakit kaya orang mau mati. Nakutin, Non! Manjanya juga minta ampun!"


"Oh ya?"


"Iyaaa. Dulu jaman masih dekat dengan Nyonya besar, tiap kali Tuan Kaisar sakit pasti manjanya sama beliau!" jelas Bik Yati berapi-api.


Sabia mengangguk paham, jadi yang dimaksud Kaisar semalam adalah Mama Mira? Ah, Sabia bodoh! Bagaimana bisa Kaisar mengingat memorinya tentang Mama kandungnya, bukankah ia meninggal saat Kai masih berusia 3 tahun.


"Bik, nanti minta tolong siapkan bubur juga, ya. Takut sewaktu-waktu Kaisar mau makan." Sabia bangkit dari kursi seraya membawa obat demam.


"Siap, Non!"


Dengan langkah yang telah ia hafal jumlah dan arahnya, Sabia kembali ke kamar. Nalurinya sebagai istri entah mengapa terpancing untuk merawat Kaisar meski ia sudah berlaku jahat pada Sabia.


"Dari mana saja kamu?" tanya Kaisar lemah begitu mendapati Sabia menutup pintu kamar dengan hati-hati.


"Oh, dari minta obat sama Bik Yati sekalian sarapan. Kamu mau makan?" Sabia mendekat ke ranjang di sisi Kaisar dan duduk.


Kaisar yang masih merasa pusing tak berselera untuk makan. Ia menarik tangan Sabia agar menyentuh keningnya.

__ADS_1


"Sudah nggak demam, kok. Makan ya meskipun sedikit? Habis gitu minum obat biar cepat sembuh!" timpal Bia.


"Aku tidak selera, Bia. Jangan memaksaku!" keluh Kaisar.


"Ya sudah, terus kamu mau bagaimana?"


"Aku mau tidur."


"Oke!" Sabia bangkit namun dengan cepat Kaisar menarik tangannya agar tak pergi.


"Aku mau tidur, Bia. Bukan menyuruhmu pergi." Kaisar mendudukkan Sabia dengan gemas.


Sabia mengernyit. "Terus? Aku harus ngapain? Kan tidur cuma perlu memejamkan mata!"


"Aku mau kamu peluk dan puk-puk aku kaya tadi malam!"


..


..


"Mandilah dengan air hangat, aku akan meminta Bik Yati untuk menyiapkan makan," tutur Bia seraya berjalan ke pintu setelah sekian jam ia terjebak di ranjang memeluk bayi besar yang sedang sakit.


Kaisar hanya berdehem, ia lantas bangkit dengan perlahan. Masih tersisa pening yang mengganyang kepalanya saat ia beranjak dari bantalnya barusan. Namun demi menghilangkan rasa lengket diseluruh tubuhnya, mau tak mau Kaisar harus mandi.


Sabia kembali lagi ke kamar setelah meminta Bik Yati menyiapkan dan mengantarkan makan untuk Kaisar. Ia merapikan bantal dan selimut seadanya agar nanti Kaisar bisa kembali tidur dengan nyaman.


Saat Bia hendak berbalik pergi, suara nada dering ponsel Kaisar berbunyi di meja nakas. Ia memilih untuk mengacuhkan panggilan itu dan beringsut ke lemari pakaian untuk mengambil baju tidurnya.


Sekali, dua kali, tiga kali hingga lima kali, panggilan itu terus memaksa untuk diangkat. Karena khawatir panggilan itu berasal dari orang penting, Sabia pun memberanikan diri mendekat ke nakas dan meraba mencari ponsel Kai. Sialnya, ia malah men-slide panggilan dijawab dan suara perempuan pun terdengar.


"Halo! Kaisar?!"


Deg. Sabia mematung ketakutan. Ia tak sadar bila saat meraih ponsel tadi, jemarinya justru mengangkat telefon itu.


"Halo, Kai. Kamu masih di apartemenku, kan? Aku dalam perjalanan pulang. Nanti tengah malam pesawatku landing!"

__ADS_1


"H-halo," sapa Sabia memberanikan diri.


"Halo, siapa ini? Ke mana Kaisar?"


"Kaisar masih mandi. Maaf barusan aku tak sengaja mengangkat telefonmu."


"Berikan telefon ini pada Kaisar. Sekarang!"


"Bia, apa yang kamu lakukan?!"


Sabia terbelalak, tanpa sadar ia menelan saliva karena panik mendengar suara Kaisar dan Pat secara bergantian.


Kaisar menggeram marah saat melihat Sabia menyentuh ponselnya dan nampak sedang berbincang dengan seseorang. Dengan derap langkah penuh amarah, ia mendekat ke Sabia dan merampas ponsel di tangan gadis itu dengan kasar. Ia memeriksa nama yang tertera di layar. Dadanya semakin bergemuruh tatkala melihat nama Patricia terpampang di sana.


"Halo?!" sapa Kaisar gugup.


"Kai, kamu bilang semalam kamu tidur di apartemenku!"


"Maaf, Pat. Semalam aku pulang ke rumah, kondisiku tidak memungkinkan untuk pulang ke apartemenmu."


Sabia tercekat mendengar perkataan Kaisar, jadi sebenarnya semalam Kaisar berniat tidur di tempat Patricia?


"Jangan marah, Pat. Besok aku akan menemuimu, oke? Kondisiku masih belum pulih benar untuk bepergian," tutur kata Kaisar sangat lembut di telinga Bia, membuatnya mual dan ingin segera beranjak pergi dari sana.


"Baiklah. Maafkan aku, ya? I love you!"


Deg.


Napas Bia tertahan karena tiba-tiba terasa sakit untuknya menghembuskan karbondioksida itu. Ia beringsut pergi dari hadapan Kaisar. Hatinya tercabik-cabik mendengar kata-kata cinta itu keluar dari mulut Kaisar sendiri untuk kekasih gelapnya.


"Tunggu, mau ke mana kamu?!"


****************


Hih, gemes deh sama kamu, Kai! 😤

__ADS_1


__ADS_2