GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Aku Sangat Merindukanmu


__ADS_3

"Hoeeeek!! Hoekk!"


Pagi ini Sabia terbangun dengan rasa mual yang menggila. Ia duduk di closet sembari memuntahkan semua isi perutnya. Namun karena seharian kemarin Sabia tak makan apapun, kini hanya air bercampur lendir saja yang ia keluarkan dari dalam perutnya.


Air mata Sabia menetes pilu, pagi ini ia mual muntah seorang diri. Mamanya pergi ke pasar sementara Ayahnya sudah berangkat mengajar. Seandainya ada Kaisar, dia pasti akan memijat leher Sabia dengan lembut sembari membersihkan sisa muntahannya yang tercecer.


"Hoekkkk!" Bia memuntahkan lendir yang terasa pahit.


"Huhuhuhu ...." tangisnya pun pecah. Sepagi ini namun suasana hatinya sudah carut marut tak berbentuk. "Kai ... huhuhuhu ..."


Merasa telah cukup menangis, Sabia perlahan bangkit dan menyiram ceceran muntahannya yang entah mengotori apa saja. Ia menyiram sembarang arah dan membersihkan mulutnya yang masih terasa pahit. Dengan meraba-raba sekitarnya, Sabia kembali ke kamar dan berebah perlahan-lahan.


Dadanya kembali terasa sangat sesak pagi ini. Terbangun sendirian, tanpa pelukan, tanpa ucapan selamat pagi dan tanpa sapaan untuk janinnya membuat Sabia merasa sekarat. Terlebih saat ia muntah barusan, biasanya Kaisarlah yang telaten menemaninya tanpa rasa jijik sedikitpun. Bia meraih ponselnya yang tergeletak di dalam tasnya. Ia ingin menghubungi Kaisar, ia rindu suaranya yang berat dan menyebalkan, namun sayangnya Bia tak memiliki nomor suaminya itu. Pun begitu, Bia masih takut untuk menghubunginya. Ayahnya pasti akan sangat marah bila tahu Bia menghubungi Kaisar.


Bia masih tak yakin bila Kaisar sudah menghianatinya, dia pasti tak tidur dengan Patricia, foto yang diunggah itu pasti foto lama.  Kaisar sudah berubah selama dua bulan belakangan ini, dia menjadi sangat manis dan perhatian. Tak mungkin Kaisar berhianat.


Tok tok tok.


"Biaaa ..."


Bia tersentak, ia menajamkan pendengarannya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Bia, ini gue Memey! Apa lu masih tidur??"


Dengan sigap, Sabia turun dari ranjangnya. Ia lekas berjalan ke pintu dan membukanya dengan terburu-buru.


Memey datang setelah Pak Darma menelefonnya semalam. Memey tak mengetahui tentang berita itu, dia sangat terkejut saat mendengar cerita Pak Darma semalam. Saat ia mencari berita tentang Kaisar di sosmed, berita itu sudah raib tak berbekas.


"Mey ..." lirih Sabia menahan tangis.


Memey menghembuskan napas sedih dan memeluk sahabatnya itu dengan erat. Bia sontak menangis saat pelukan hangat itu justru mengingatkannya pada pelukan Kaisar.


"Huhuhuu ..." rintih Bia terisak.


Memey tak sanggup berkata-kata. Ia hanya mengelus punggung sahabat kentalnya itu dengan hangat. Mendengar suara tangis Sabia yang menyayat hati, Memey jadi ikut meneteskan air mata sedih.

__ADS_1


Setengah jam setelahnya.


Bu Darma sudah pulang dari pasar dan sedang memasak di dapur. Memey menemani Sabia di dalam kamar. Wajah murung dan menahan luka itu membuat Memey ikut berduka. Ini kali ketiga ia melihat Sabia terpuruk, dan semuanya gara-gara Kaisar!! Tangan Memey terkepal diam-diam.


"Gue salah apa ya Mey, sampe Tuhan menghukum gue kaya gini!" desis Bia sembari memilin ujung piyamanya.


"Bia, jangan ngomong begitu!! Ini semua salah suami lu yang kampret itu! Dia yang harusnya diberi pelajaran karena sudah menyia-nyiakan orang sebaik lu!" cerca Memey emosi.


Bia menggeleng ragu. "Kaisar sudah berubah, Mey. Dia nggak sejahat dulu, dia sekarang manis banget."


"Jangan tertipu dengan akal bulusnya, Bia! Buaya emang kaya gitu, sok manis padahal di belakang busuk!!" protes Memey mematahkan asumsi Sabia. "Lu nggak inget pas dulu dia nggak pernah pulang dan malah tidur di rumah perempuan itu!?"


"Tapi sekarang Kaisar selalu pulang ke rumah, Mey! Dia sudah berubah banget."


"Bia, lu tuh terlalu naif sama dia! Bucin tau nggak?!" tukas Memey gemas. Susah sekali menyadarkan sahabatnya yang sedang dibutakan oleh cinta!


Bia kembali terdiam, mungkinkah ia telah kehilangan logika? Mungkinkah ia terlalu naif?


Suara berisik di luar membuat Memey beringsut berdiri dan keluar dari kamar Bia. Seorang kurir nampak sedang mengobrol dengan Bu Darma di ruang tamu. Namun tak lama kemudian kurir itu pamit pergi.


Bu Darma mendongah kaget, ia lantas menunjukkan sebuah kotak berwarna putih pada Memey.


"Kurir, dia nganter kiriman dari rumah Kaisar. Katanya sih buat Bia," jelasnya lirih berbisik.


Memey mengerutkan keningnya penasaran, ia lantas mengikuti Bu Darma ke dapur untuk mengecek apa isi kotak itu.


"Kotaknya sih dingin, apa mungkin ini es krim kesukaan Bia, ya?" racau Bu Darma sembari membuka tutup kotak itu.


Dan benar saja, es krim lembut berwarna soft pink dengan wangi straberry memenuhi kotak itu saat tutupnya telah terbuka.


Memey menelan salivanya cepat, sepertinya es krimnya enak!


"Nih, kamu ambilin buat Bia, dia belum makan apa-apa daritadi!" Bu Darma menyodorkan sebuah gelas dan sendok pada Memey.


Dengan telaten, Memey mengisi tiga sendok es ke dalam gelas bening itu lantas membawanya ke kamar Sabia.

__ADS_1


Aroma strawberry yang khas sontak tertangkap indra penciuman Sabia, Memey menyerahkan gelas itu di tangan sahabatnya.


"Nih! Tadi ada kiriman dari rumah suami kesayangan lu!"


Bia menyendok es itu dengan hati pilu, saat lelehan es rasa strawberry mencair di dalam mulutnya, air mata Sabia menetes lagi.


"Lah, kok malah nangis lagi, sih!" protes Memey panik.


"Pasti Kaisar yang nyuruh supirnya ngirim ini. Dia tahu gue doyan es krim ini dan nggak akan sarapan sebelum minum es ini!!" jelas Bia di antara isak tangisnya.


Memey menggaruk rambutnya yang seketika terasa gatal melihat sahabatnya jadi berubah sangat cengeng seperti ini.


"Udah dong, Bia, jangan nangis lagi! Kasian bayi lu tuh ikut sedih. Udah ya, berenti dulu nangisnya!" pinta Memey memohon.


Bia menyeka air matanya cepat, Memey benar, dia tidak boleh sedih agar janinnya tak ikut merasakan kesedihan yang ia rasakan. Dia harus tegar. Akhirnya dengan tangis tertahan, Bia menghabiskan es krim itu sedikit demi sedikit. Tak ada lagi Kaisar yang memprotes kebiasaannya itu, tak ada lagi lelaki yang menungguinya menghabiskan es krim dan menemaninya sarapan. Bia menghembuskan napasnya sedih.


Menjelang sore, Pak Darma pulang dari mengajar. Bia masih tak mau makan apapun sejak kemarin tapi ia telah menghabiskan tiga gelas es krim. Pak Darma marah saat tahu es krim itu adalah kiriman dari Kaisar. Ia meminta Memey untuk membuang es tadi dan membelikan gantinya di swalayan.


Meski sedih, namun Sabia tak berani membantah perintah ayahnya. Ia tahu ayahnya masih marah pada Kaisar, namun Bia yakin itu tak akan berlangsung lama. Ayahnya adalah lelaki pemaaf, meskipun sedikit keras namun ia tahu bila ayahnya sangat menyayangi Kaisar. Terlebih ia akan memiliki cucu dari lelaki yang ia benci, Bia yakin semua ini pasti akan segera berlalu.


Tok tok tok.


Bia menajamkan pendengarannya saat terdengar suara pintu ruang tamu di ketuk. Ia sedang duduk di ruang tengah bersama Memey, jadi suara-suara berisik dari ruang depan terdengar jelas hingga ke tempat Sabia.


Pak Darma bangkit dan membuka pintu. Ia mengawasi seorang lelaki yang membawa sebuah box.


"Cari siapa?" tanya Pak Darma cepat.


"Ini ada kiriman untuk Nona Sabia, Pak." Lelaki tadi menyodorkan box yang ia bawa pada Pak Darma.


Dengan ragu Pak Darma meraih box itu. "Dari siapa ini?"


"Dari Tuan Kaisar, Pak. Untuk Nona Sabia."


**********************

__ADS_1


__ADS_2