
Semalaman Kaisar tak bisa tidur. Ia berbalik ke sana kemari, mencari sisa-sisa aroma strawberry yang tertinggal di bantal Sabia, memeluk pakaiannya yang digantung dan belum sempat dicuci. Beberapa jam yang lalu ia masih bercumbu dengan istri kecilnya itu, menghujaninya dengan ciuman, memeluknya hingga terlelap, dan kini ...
"Bia ..." lirih Kaisar sedih.
Ia sangat merindukan gadis ababil itu, gadis yang sudah meruntuhkan benteng egonya dengan segala tingkah laku konyol yang ia lakukan.
Kaisar berbalik, ia mengawasi jam dinding di atas meja kerja. Jam 2 dinihari. Di luar terdengar suara gemuruh guntur berkali-kali, musim hujan telah tiba. Kaisar beringsut duduk dan bersandar di headboard ranjangnya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja dan membuka galeri. Beberapa foto Sabia dengan berbagai ekspresi muncul di layar, Kaisar memencet salah satu foto saat Bia sedang serius mematung di ruang galerinya. Belum genap 24 jam namun ia sudah sangat merindukan gadis kecilnya ini!
Kaisar menggeser foto demi foto itu dengan sedih, hanya ini yang bisa ia lihat untuk melampiaskan rasa rindunya. Perlahan Kaisar beringsut tiduran di bantalnya. Foto USG janinnya membuat Kaisar terdiam cukup lama, ia mengusap foto itu dengan hati terluka.
"Hai, Jagoan! Maaf hari ini kita berpisah dulu sementara. Nanti Papa akan kembali untuk menjemput kalian kalo suasana hati Kakek sudah membaik, ya? Papa kangen banget sama kamu, Nak!"
Air mata Kaisar berlinang saat ia menyebut kata 'Nak' pada bayinya. Ia tak menyangka, ia benar-benar tak menduga bila Patricia akan melakukan hal sekeji ini padanya.
"Aku akan menghancurkanmu, Pat!" janji Kaisar penuh dendam.
Ia kembali memperhatikan foto USG itu dan perlahan-lahan mulai memejamkan mata. Kaisar terlelap dengan foto King berada di sisinya.
..
..
Menjelang siang, Kaisar membuka mata saat sinar matahari memenuhi ruangan kamarnya. Ia menoleh ke jam dinding dan tak sontak terbelalak kaget saat melihat angka 10 telah ditunjuk oleh jarum pendek.
Dengan cepat, Kaisar turun dari ranjang dan bergegas mandi. Sepertinya ia lelah lahir batin sehingga tidur malamnya kali ini membuatnya bangun hingga kesiangan.
Saat melihat botol shampoo Sabia, dada Kaisar berdebar sedih. Ia meraih botol itu dan menuangkan sedikit cairan shampoo di tangannya. Wangi strawberry bercampur vanilla yang memabukkan membuat Kaisar semakin merindukan gadis kecilnya itu. Nanti sepulang dari kantor, ia akan menjemput Sabia pulang!
Usai mandi dan mengenakan setelan suit kerjanya, Kaisar bergegas keluar dari kamar. Ia akan sarapan sedikit untuk mengganjal perutnya yang tak diisi apapun sejak kemarin.
"Bik!" panggil Kaisar saat ia sudah duduk tenang di kursi meja makan.
Bik Yati datang dengan tergopoh-gopoh dari dapur. "Ada apa, Tuan?"
__ADS_1
"Tolong kirim sekotak es krim strawberry ke rumah Bia. Sekarang, secepatnya!" perintah Kaisar mutlak.
Bik Yati mengangguk cepat. "Baik, Tuan!" sahutnya sebelum kemudian berbalik dan menyiapkan pesanan tuan mudanya.
Kaisar melahap rotinya dengan tak berselera, ia menoleh pada kursi Sabia di sampingnya, biasanya gadis ekspresif itu akan lebih banyak manyun daripada tersenyum saat sedang sarapan bersama. Kaisar merindukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka lakukan.
"Kamu pasti tidak berselera makan juga kan hari ini? Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi es krim favoritmu akan datang."
Di Kantor.
Wajah tegang dan dingin Kaisar seolah terlahir kembali. Diki yang tak menyangka bila Bosnya akan ngantor hari ini, sangat terkejut saat melihat Kaisar tiba-tiba datang ke ruangan meeting dan ikut bergabung dengan puluhan Direksi dari berbagai Divisi.
Setelah sebelum-sebelumnya Kaisar selalu bersikap ramah dan murah senyum, namun tidak dengan hari ini. Tatapan tajamnya, senyum sinisnya yang seolah merendahkan pada siapa saja, suara baritonnya yang irit, serta gerak geriknya yang kaku, membuat Diki merasa Kaisar yang lama telah kembali.
"Apa jadwalku berikutnya, Diki!?" tanya Kaisar sambil lalu berjalan kembali ke ruangan kerjanya.
Beberapa orang pegawai menunduk takut saat tatapan mereka bertemu dengan orang nomor dua di perusahaan Mahaputra itu. Meski gosip kemarin masih beredar hangat di kantornya, namun Diki dan Hari sudah membereskan semua itu dengan mentake-down semua berita tentang Kaisar. Diki juga meminta bantuan pada hacker handal untuk memblokir akun media sosial Patricia dan melacak keberadaannya. Terlacak oleh mereka, Patricia berada di luar negeri sejak sehari sebelum rumor itu beredar dan belum kembali hingga hari ini.
Kaisar menghentikan langkahnya cepat, ia berbalik dan menatap Diki dengan tajam. "Apa maksudmu kosong?"
Diki menunduk takut. Ia sudah di perintah oleh Bos besar Syailendra untuk mengosongkan jadwal Kaisar hari ini agar bosnya itu bisa beristirahat.
"Saya diperintah oleh Pak Syailendra untuk mengosongkan jadwal anda, Pak!"
"Siapa bosmu yang sebenarnya, huh? Aku atau Papa?" bentak Kaisar kesal.
"S-saya hanya menjalankan tugas, Pak!"
Kaisar mendengus frustasi. Ia harus sibuk agar hari ini bisa sejenak melupakan kesedihannya. Ia harus menjalani berbagai meeting agar emosinya bisa tersalurkan dengan benar.
"Maaf, Pak Kai," lirih Diki masih dengan kepala tertunduk takut.
Mau tak mau akhirnya Kaisar mengalah. Ia meninggalkan Diki dan memilih untuk menyepi di penthouse. Ia bisa sekarat bila kembali ke rumah Mahaputra dan melihat barang-barang Sabia yang tertinggal di sana.
__ADS_1
Dengan langkah lebar, Kaisar tiba di basement dan masuk ke dalam mobil sedan hitamnya. Ia melajukan mobilnya keluar dari area perkantoran Mahaputra Group dan melesat pergi.
Di lampu merah, Kaisar bimbang untuk memilih arah. Bila ke kanan, ia akan tiba di gedung penthouse miliknya. Bila ke kiri, ia akan menuju ke rumah keluarga Darma. Hitungan mundur angka di lampu merah semakin turun, Kaisar mengusap wajahnya dengan gamang. Lampu hijau menyala.
Dinn dinnn!! Dinn!!
Kaisar tersentak kaget saat mobil-mobil di belakangnya membunyikan klakson dengan tak sabar. Pada akhirnya Kaisar memutar haluan setirnya ke kiri. Entahlah, ia hanya mengikuti kata hatinya saja kali ini. Ia rindu Sabia, ia rindu King, jagoan kecilnya!!
Dengan kecepatan penuh, Kaisar menginjak pedal gasnya dengan kalap. Masih jam 3 sore, namun mendung di kejauhan mulai bergelayut gelap. Tak sampai 30 menit, Kaisar tiba di rumah sederhana keluarga Darma. Ia memarkir mobilnya di kejauhan dan masih takut untuk mendekat.
Tak berapa lama, sebuah motor yang familiar bagi Kaisar masuk ke halaman. Ia memperhatikan seseorang yang turun dari motor itu dan melepas helmnya. Memey.
Kaisar tersenyum lega. Setidaknya ada orang terdekat yang menghibur Sabia di saat istrinya itu butuh dukungan. Cukup lama Kaisar memperhatikan Memey yang menenteng sebuah kresek swalayan kemudian masuk ke dalam rumah Sabia. Tak lama Memey keluar lagi dengan membawa sebuah kotak dan melemparnya ke tempat sampah.
Kaisar mengernyit untuk beberapa saat, ia tahu kotak itu, tadi Bik Yati membungkuskan es krim untuk Bia dengan menggunakan kotak berwarna putih itu. Apakah es-nya sudah habis?? Jangan-jangan tadi Memey membawa kresek swalayan berisi es krim untuk Bia?
Buru-buru Kaisar mengeluarkan ponselnya di saku celananya. Ia menghubungi nomor Mama Mira yang pasti saat ini sedang berada di rumah.
"Halo, ada apa, Nak?" sapa Mira lembut.
"Ma, bisa kirimkan es krim untuk Bia dua kotak sekarang? Secepatnya! Suruh supir mengantar ke rumah Bia!"
"Baiklah, Mama akan kirim sekarang!"
Tit.
Kaisar menghembuskan napasnya lega. Ia tahu benar bila Sabia tak suka es krim lain selain es krim strawberry dari Restoran Italia itu. Sepertinya dua kotak cukup untuk hari ini, besok ia akan menyuruh supir untuk mengirim lagi.
"Sabar ya, Bia. Es krimmu sebentar lagi datang!"
************************
Bestie, jangan lupa tinggalkan komen dan jempolnya ❤️
__ADS_1