GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Sampai Mati Bersama


__ADS_3

"Yeobo, bisa minta tolong bukakan resletingku?" Bia berbalik badan agar Kaisar membukakan resleting di punggungnya.


Kaisar mendengus, entah sudah berapa kali Bia memanggilnya dengan sebutan Yeobo. Kaisar tak tahu apa artinya, ia juga tak berminat untuk mencari tahu. Mungkin artinya sejenis sayang atau honey. Dengan telaten, Kai pun membantu menarik resleting di punggung Bia. Melihat punggung mulus, putih dan beraroma strawberry membuat nafsu Kaisar mulai terpancing. Ia mengecup pundak hingga punggung istri kecilnya itu dengan lembut, sementara dua tangannya mulai beraksi memeluk Sabia dari belakang.


"Kamu nggak capek, ya? Kita baru keliling, loh!"


"Justru capekku bisa hilang kalo bercinta denganmu, Baby ..." Kaisar mencium leher istrinya hingga ia berdigik geli.


Bia melepas tangan Kaisar yang mulai menggerayangi bagian dalam tubuhnya. Merasa Sabia menolaknya, Kaisar pun menghembuskan napasnya kecewa. Ia berbalik dan kembali melepas coatnya.


Tanpa Kaisar sadari, Bia justru sedang menanggalkan pakaiannya satu per satu hingga tak tersisa sehelaipun. Gairah nakal itu kembali menggelitik Sabia. Toh ia pun menyukai setiap permainan panasnya bersama Kaisar! Dengan langkah perlahan, Bia naik ke atas ranjang.


"Kai ..." panggil Bia saat lelaki itu masih saja acuh.


"Hmm."


"Eh, salah! Yeobo, kemarilah ..."


Kaisar menoleh dengan suntuk, Sabia yang tadi berada di belakangnya kini berpindah posisi di ranjang.


Glek.


Kaisar menelan salivanya syok. Sabia tengah bersantai di atas ranjang tanpa sehelai benang pun.


"Kemarilah ..." perintah Bia sembari mengelus perutnya hingga turun ke bawah.


Kaisar tersenyum. "Kamu mulai nakal ya sekarang!" desisnya sembari melepas kemejanya dengan tak sabar.


Bia mengerling genit, ia juga memonyongkan bibirnya minta dicium. Kaisar tertawa melihat tingkah istri kecilnya yang entah mendapat inspirasi itu dari mana. Tingkah menggoda itu justru terlihat konyol saat dilakukan oleh Sabia.


"Ayolah, Yeobo! Jangan membuatku menunggu!"


"Iya, sabar. Ini masih lepas celana!"


"Aaah, kamu kelamaan!"


Kaisar menurunkan celananya dengan gesit, begitu semuanya telah terlepas, ia pun melompat ke atas ranjang dan menghujani Sabia dengan ciuman.


"Kita lakukan ini sampai pagi. Kamu siap?" tantang Bia.


Kaisar tersenyum smirk. "Siapa takut!"

__ADS_1


Dan permainan panas itupun di mulai. Berawal di ranjang, beralih ke sofa, pindah ke bathtub, lalu berlanjut di balkon dan berakhir di pantry. Stamina Kaisar benar-benar di uji dan dia bisa membuktikannya pada Bia. Mereka hanya berhenti untuk makan.


Karena lelah, mereka berdua pun tidur hingga sore keesokan hari. Wajah bengkak keduanya seolah menjadi bukti bila seharian kemarin adalah prestasi baru dalam dunia peranjangangan keduanya. Kini, keduanya tengah menikmati langit sore di balkon sembari berpelukan. Bia bersembunyi di balik baju hangat Kaisar yang memeluknya dari belakang.


"Kita akan terus bersama seperti ini, kan?" lirih Bia sembari menikmati udara sejuk dan dingin yang menerpa keduanya.


"Sure, Baby. Kita akan terus bersama sampai mati," janji Kaisar.


Sabia menghembuskan napasnya panjang. "Berjanjilah, Kai. Apapun yang akan terjadi nanti, kamu nggak akan meninggalkan aku."


"Kenapa kamu bilang begitu? Tanpa kamu meminta, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Baby!"


Bia berbalik, ia memeluk Kaisar dan menyandarkan kepala di dada suaminya itu. Setelah puas mendengar detak jantung Kaisar yang menenangkan, Bia mendongah perlahan. Kaisar menunduk dan mengecup bibir istrinya dengan penuh kasih.


"Mari kita tetap bersama apapun yang terjadi nanti!"


Bia mengangguk. Ia kembali memeluk Kaisar dengan erat.


Senja yang berganti petang membuat keduanya memutuskan masuk ke dalam kamar karena udara yang semakin dingin menusuk tulang.


Seabourn Cruise berlayar semakin jauh meninggalkan Spanyol. Masih ada lima negara lagi yang akan mereka kunjungi.


Seperti kapal yang berlayar di tengah lautan, kisah Kaisar dan Sabia pun akan berlayar semakin jauh setiap harinya. Akan menemui berbagai halangan dan rintangan, akan bertemu dengan berbagai macam orang dengan segala karakternya.


"I love you more, Yeobo!"


.


.


*****************************


Epilog


515 hari yang lalu.


Di sebuah supermarket, Sabia mengantri untuk membayar air mineral yang ia beli. Di depannya tengah berdiri seorang lelaki tinggi besar nan wangi. Bia mengendus aroma lelaki itu, aroma dewasa yang maskulin. Berapa ya usianya?? 30? 40? 50?


Bia mengawasi penampilan lelaki itu dari atas hingga bawah, semua yang ia kenakan sepertinya mahal dan bermerk. Cih! Pasti dia lelaki sombong yang bisanya cuma pamer harta orang tua!


"Bisa gesek, kan?"

__ADS_1


Bia mendelik surprise saat mendengar suara lelaki itu. Sangat berat dan seksi. Ahh, ya Tuhan, Bia jadi penasaran seperti apa wajahnya!


Sambil menguping pembicaraan antara kasir dan lelaki itu, Bia berusaha mengintip untuk melihat wajahnya. Sayangnya, badan yang besar dan tinggi itu tak memberi Bia celah sedikitpun untuk mengintip.


Tak berapa lama, lelaki itupun berlalu dengan tergesa-gesa. Bia meringsek maju dan meletakkan botol yang ia bawa di meja kasir.


"Oh, Pak! Kartunya ketinggalan!" teriak petugas Kasir. Namun sayang lelaki itu sudah berada di luar supermarket dan tak mendengar teriakannya.


"Sini, Mba. Biar saya yang berikan!" Bia menadahkan tangannya dan Kasir itu lekas menyerahkan kartu ATM dengan sebuah embos nama.


KAISAR MAHAPUTRA.


"Mas, tunggu! Kartu ATM-nya ketinggalan!" Bia berlari menuju mobil sedan hitam di mana lelaki itu baru saja masuk.


Kaca mobil pun dibuka perlahan dari dalam. Seraut wajah tampan nan mempesona membuat Sabia tak sempat mengedipkan mata. Gilaaaa, ini sih sempurna!!


"'Makasih, Dek!" ucap lelaki itu sembari menarik ATM yang Bia sodorkan.


Bia mengangguk keki. Lelaki itu tersenyum dan kemudian menutup kaca mobilnya. Bia tetap terpaku di tempat sampai mobil sedan mahal itu benar-benar pergi.


"Heh! Malah ngelamun lu! Ayo, buruan! Liatin siapa sih sampe melongo gitu!"


Sabia menoleh pada Memey yang sudah berdiri di sampingnya.


"Meey, gue baru aja ketemu jodoh gue, Mey! Pangeran ganteng yang kelak jadi suami gue!"


"Gila lu! Yuk, ah buruan, keburu toko bukunya tutup!" Memey menarik lengan sahabatnya dengan cuek.


Sabia masih tak bisa lepas memandangi bekas ban mobil lelaki tadi. Bahkan melihat jejak bannya saja sudah membuat Bia berdebar.


"Dia harus jadi suami gue, Mey! Harus!"


********* TAMAT************


Bestie, terima kasih banyak untuk kesabaran dan kesetiaan kalian pada karya otor receh ini ❤️


Bener-bener nggak nyangka karya kedua otor di Noveltoon ini disukai oleh banyak pembaca yang baik hati seperti kalian semua. Otor terharu! Nantinya cerita tentang Kaisar dan Sabia akan muncul dikarya otor yang lain dan saling berkaitan satu sama lainnya, so tetap baca kisah seru & kocaknya, ya!


Once more, terima kasih banyak untuk vote, like, favorit dan komentar kalian semua yang membuat otor semangat setiap harinya. Apalah otor tanpa kalian! Nantikan karya otor yang lain yang insya allah akan launching akhir bulan ini ya, Bestie! Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan Vote serta follow author!


...Sampai berjumpa lagi ❤️...

__ADS_1



__ADS_2