GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Berita Heboh


__ADS_3

Hangat, sesak, harum. Beberapa hari ini setiap pagi Sabia selalu terbangun dipelukan Kaisar. Kadang bila ia masih mengantuk, ia akan tetap melanjutkan tidurnya dipelukan itu, tapi tidak dengan pagi ini. Rasa mual yang datang tiba-tiba membuat Sabia terpaksa membuka mata dan beringsut duduk. Sesuatu seperti hendak keluar dari dalam perutnya.


Bia bergegas turun dari ranjang dan melangkah lemas ke kamar mandi yang terletak di luar kamar. Dengan meraba-raba sekitarnya, Sabia mencoba untuk sampai di kamar mandi secepat mungkin.


"Bia, kamu mau ke mana?" tanya Kaisar bingung.


Sabia menunjuk mulutnya yang ia bekap dengan tangan kiri, mengkode Kai bila ia sedang mual dan ingin muntah. Bia sudah berhasil sampai di pintu, ia lekas menekan handle dan berhambur keluar.


Sukma Kaisar masih belum menyatu, semalam ia tidur sangat larut karena mengobrol dengan mertuanya. Alhasil pagi ini otaknya sedikit lambat mencerna keadaan sekitarnya.


"Hoek. Hoek. Uhuk-uhuk, hoeeek!"


Kaisar sontak bangkit dan melompat turun dari ranjang. Ia berlari menyusul ke kamar mandi dan dengan telaten memijat leher Sabia dengan lembut.


Bu Darma yang sedang mengiris bawang di dapur sontak berlari karena kaget. Ia memperhatikan anak dan menantunya yang berada di dalam kamar mandi.


"Bia kenapa, Kai? Masuk angin?" cecar Bu Darma khawatir.


Kaisar menoleh sekilas. "Tidak kenapa-kenapa, Ma," sahutnya keki.


"Sini biar Mama yang mijetin, kamu pasti jijik dengan bau muntahannya!" Bu Darma meringsek masuk juga ke dalam kamar mandi yang sempit.


"Nggak mau! Mama bau bawang, hoek! Pergi, Ma. Bia tambah mual, hoeeekkk!" jerit Sabia di antara rasa mualnya.


Bu Darma mundur dengan keki, bagaimana Bia bisa tahu dia sedang mengupas bawang merah?


"Tidak apa-apa, Ma. Biar saya yang handle, Bia," ucap Kaisar tak enak hati.


Mau tak mau Bu Darma akhirnya mengangguk pasrah, ia mundur beberapa langkah dan memperhatikan putrinya dari jauh. Khawatir putrinya semakin mual bila berada di dekatnya.


"Sudah, Bia?" tanya Kaisar saat Bia termenung untuk beberapa saat.


Bia menggeleng. Perutnya masih diaduk-aduk, sekujur tubuhnya sampai lemas tak bertenaga. Untuk beberapa saat ia menikmati keheningan dan aroma tak sedap yang berasal dari muntahannya di kamar mandi.


Kaisar menyiram ceceran muntahan istrinya tanpa rasa jijik sedikitpun. Padahal dulu ia sangatlah benci pada segala hal yang kotor, berbau anyir, bau tak sedap maupun bau menjijikkan lainnya. Tapi kini, entah ke mana sifatnya itu pergi. Kaisar juga heran mengapa Sabia bisa merubahnya sedrastis ini.


"Sudah," lirih Sabia seraya mencoba untuk berdiri namun kakinya masih terasa lemah.


Kaisar membersihkan sisa muntahan di bibir Sabia dengan air mengalir. Ia lantas mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya ala bridal style.

__ADS_1


Bu Darma terpana melihat keromantisan menantunya, tanpa sadar ia jadi tersipu sendiri menyaksikan keduanya.


"Loh, Bia kenapa?"


Pak Darma yang baru muncul, mendadak kaget saat melihat Kaisar menggendong putrinya ke kamar.


"Habis muntah, Yah. Kayanya masuk angin! Mama kerokin ya, Bia?" tanya Bu Darma dari pintu. Ia jadi takut untuk mendekat ke tempat putrinya.


"Apa kamu masih mau merahasiakannya?" bisik Kaisar saat menidurkan Sabia di ranjang serba pink.


Bia tak menyahut, ia masih takut untuk terlalu banyak bergerak dan berbicara. Rasa mualnya masih belum pergi.


"Kamu aja sana yang jelasin."


"Aku?"


Sabia mengangguk pasrah. "Aku takut muntah lagi kalo terlalu banyak ngomong!"


Kaisar menoleh pada kedua mertuanya yang berdiri dengan khawatir di depan pintu. Akhirnya ia membuka lemari tempat menyimpan tas Sabia dan mengeluarkan tespack serta foto USG janinnya. Dengan senyum bangga, Kaisar menghampiri Pak Darma dan Bu Darma lantas menyodorkan dua benda yang tersimpan di dalam amplop.


"Apa ini?!" Pak Darma merampas amplop itu dengan cepat dan lekas membuka isinya.


Bu Darma tak kalah kepo, ia memperhatikan isi di dalam amplop dan keduanya sontak terbelalak bersamaan.


Kaisar mengangguk. Pak Darma yang tak bisa berkata-kata hanya menatap tajam pada Kaisar dan putrinya bergantian, setetes air mata kemudian lolos dari pelupuk matanya.


"Ya Tuhan, Alhamdulillah! Kita akan punya cucu, Yah!!" jerit Bu Darma bahagia, ia memeluk suaminya dengan erat.


"Iya, Ma. Kita akan punya cucu!!" tangis Pak Darma penuh haru.


Kaisar menoleh pada Sabia yang masih tiduran di ranjang. Istrinya itu juga ikut menangis.


"Sebentar Mama mau cuci tangan dulu biar Bia nggak mual!" putus Bu Darma seraya mengurai peluknya dan berlari kembali ke dapur.


Pak Darma tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Kaisar. Ia lantas memeluk menantunya itu dengan erat.


"Kamu ingat pesan Ayah semalam, kan?"


Kaisar mengangguk berkali-kali di pelukan hangat itu. Air matanya menetes tanpa bisa ia kontrol. Sungguh, sehangat inikah pelukan tulus orang tua??

__ADS_1


"Papa percayakan Bia padamu, Kai!" ucap Pak Darma pasrah.


"Saya berjanji akan menjaga Bia sampai kapanpun, Ayah. Bahkan bila harus mempertaruhkan nyawa saya sekalipun!" janji Kaisar tegas.


Sabia yang masih berbaring lemah di ranjang, bisa mendengar dengan jelas percakapan dua lelaki kesayangannya itu. Hatinya berbunga-bunga mendengar janji Kaisar, seolah ada harapan yang timbul dalam hubungan mereka berdua.


"Biaaaa ...." Bu Darma berlari dari dapur dan memeluk putrinya.


Sabia yang kaget dengan perlakuan mamanya hanya bisa mematung untuk beberapa saat.


"Makanya penciumanmu tajam sekali tadi! Ternyata kamu lagi hamil. Coba Mama tahu dari awal pasti Mama akan cuci tangan dulu tadi," sesal Bu Darma seraya mengurai peluknya dan menatap wajah putri cantiknya.


Bia tersenyum lirih, masih ada sisa aroma bawang merah yang menempel di tangan mamanya, namun Bia tak ingin membahasnya lagi saat ini.


"Mama masak apa?" tanya Bia mengalihkan topik.


"Kamu mau makan apa? Biar Mama masakin khusus buat kamu!"


Bia menggeleng, dia sedang tidak berselera untuk makan. Ia ingin es krim.


"Kai, apakah kamu membawa es krimku?"


Kaisar menepuk keningnya cepat. Ia lupa tak membawanya kemarin, padahal Bik Yati sudah menyiapkan es itu di cooler bag.


"Sepertinya aku lupa, Bia."


"Kok bisa lupa, sih! Aku mau es krim, Kai!" sungut Bia bete seketika.


Bu Darma menoleh pada Kaisar dan suaminya dengan bingung.


"Ayah belikan di swalayan ya, Bia? Di sana banyak es krim. Kamu mau es krim rasa apa?"


"Nggak mau! Es krim favorit Bia cuma ada di restoran dekat Rumah Sakit tempat terapi dulu," tolak Sabia.


"Tidak apa, Ayah. Biar saya pulang dulu ke rumah untuk ambil es krimnya. Sabar ya, Bia. Aku ambilin es krimnya dulu di rumah!" putus Kaisar sembari kembali masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya.


Pak Darma menggeleng-gelengkan kepalanya, akhirnya tiba giliran Kaisar direpotkan dengan tingkah aneh wanita dikala hamil.


"Mau Ayah temani?" tanya Pak Darma saat Kaisar melewatinya.

__ADS_1


"Boleh. Ayo, Yah!"


*************************


__ADS_2