GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Sibuk Les


__ADS_3

Sesuai janji yang sudah Hari katakan tempo hari, kini seorang tutor sudah berada di ruang galeri untuk membimbing Bia menyalurkan hobi barunya.


Setiap pagi jam 9 sampai jam 12, Bia akan les mematung. Dan sore harinya berlanjut les membaca huruf Braille.


"Sebagai tahap awal, kita harus membiasakan tangan kita mengenal tekstur tanah liat yang akan kita gunakan. Untuk membuat patung, vas dan hiasan lainnya, kita membutuhkan tekstur dan kepadatan tanah yang berbeda-beda." Pak Jovan, tutor mematung yang dipekerjakan oleh Hari menjelaskan pada Sabia dengan telaten.


Saat ini, Bia duduk di depan meja putar dengan seonggok tanah liat yang sudah dipersiapkan oleh Pak Jovan.


"Bisakah anda mengajari saya cara membuat patung wajah, Pak?" pinta Sabia memohon.


Terdengar tawa renyah Pak Jovan. "Sabar, Kak Bia. Setelah anda menguasai metode membuat vas, kita akan belajar membuat patung wajah!"


"Tapi saya pengin bikin patung wajah saja, saya nggak mau bikin vas!" rengek Bia memaksa. Untuk apa ia membuat vas? Ia bahkan tak bisa melihat indahnya bunga!


"Baiklah, baik. Saya akan langsung mengajari cara membuat patung wajah. Pertama-tama, kita harus meraba dulu objek yang akan kita buat,  mengingat dan menyimpannya dalam memori, lantas menuangkannya dalam karya!"


Sabia mendengarkan penjelasan Pak Jovan dengan fokus.


"Kak Bia sudah punya gambaran ingin membuat patung wajah siapa?" tanya Pak Jovan menyelidik.


Sabia mengangguk cepat.


"Baik, karena kondisi Kak Bia terbatas maka saya akan memperkenalkan dulu peralatan tempurnya, ya?" Pak Jovan mendekat ke tempat Sabia dan mendekatkan sebuah alat di dekat tangan muridnya itu.


Bia meraba alat di tangannya dengan seksama.



...Credit pict : Google...


"Itu namanya butsir, Kak Bia. Nantinya kita membentuk, mengasah, menambal dan mencuil tanah liat dengan menggunakan alat itu. Bentuk alatnya bermacam-macam tergantung tingkat kesulitan bentuk patung yang akan kita buat!"


Pak Jovan mengarahkan tangan Bia ke beberapa peralatan di sebelah kanan mejanya.


Sabia meraba-raba alat kecil itu dengan tangannya. Ada yang seperti sekop dengan ujung yang runcing, ada juga yang ujungnya tumpul.

__ADS_1


"Nantinya kita akan lebih sering menggunakan tiga alat ini, sih." Pak Jovan mendekatkan tiga buah butsir dengan ujung yang berbeda pada Bia agar bisa ia raba. "Ujungnya berbeda karena nanti kita akan membuat lekukan yang berbeda-beda juga."


"Apa kita sudah bisa mulai?" paksa Bia.


Pak Jovan tertawa. "Kenapa terburu-buru sekali, Kak Bia? Ini baru pertemuan pertama. Apakah Kak Bia ingin segera membuat patung wajah suami?"


Bia merengut mendengar candaan dari Pak Jovan. "Nggak. Saya ingin membuat patung wajah seseorang!"


"Wah, beruntung sekali orang itu. Apa sekarang orangnya ada di rumah ini? Kak Bia perlu meraba wajahnya agar nanti bisa mewujudkannya dalam bentuk patung!"


Bia menggeleng cepat. "Dia jam segini masih bekerja."


"Wah, atau Kak Bia ingat wajahnya seperti apa? Jadi kita bisa langsung praktek, nih!"


Sekali lagi Sabia menggeleng kecewa.


"Hmmm, sepertinya akan sulit. Tapi sebagai langkah awal, bagaimana kalo kita membuat patung wajah artis favorit Kak Bia saja!?" usul Pak Jovan berbinar.


Senyum Sabia merekah, ia mengangguk cepat. "Boleh!"


Sabia berpikir sejenak. "Prince Eric!"


"Siapa?"


"Prince Eric! Suaminya Princess Ariel."


Pak Jovan mengernyit bingung. Ia tak pernah tahu ada artis bernama prince Eric sebelumnya. Apakah dia anggota kerajaan Inggris?


"Ah, Pak Jovan nggak gaul! Dia karakter di film The Little Mermaid!" tegas Bia.


Pak Jovan menepuk keningnya cepat. "Oh, berarti dia tidak nyata, ya!? Saya pikir tadinya artis siapa gitu!" lirih Pak Jovan sembari menggaruk tengkuknya keki.


"Dia nyata, Pak! Ada kok filmnya."


"Iya tapi film kartun, Kak Bia. Hmm, baiklah, kita akan buat karakter Prince Eric itu sebagai percobaan." Pak Jovan menghampiri Sabia dan menyiapkan tanah liat secukupnya. "Pertama-tama, kita akan ......"

__ADS_1


..


..


..


"Gimana les perdananya? Sepertinya seru," tanya Mira saat ia dan Sabia kini duduk di meja makan berdua.


"Seru banget, Ma! Tadi aku belajar bikin patung wajah Prince Eric. Tadinya mau buat wajah Hari sih, tapi karena dia masih kerja jadi besok ajalah!" jelas Sabia berbinar-binar.


"Wah, Hari pasti seneng tuh wajahnya diabadikan jadi patung!" puji Mira senang.


"Hu'umh! Dari awal juga dia yang semangatin Bia untuk sibuk dengan berbagai kegiatan biar nggak bengong terus."


Mira tersenyum lega. Ia melahap suapan terakhirnya dengan nikmat. Meski efek samping dari kemoterapi itu masih menggerogoti tubuhnya namun ia harus sehat demi keluarganya.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin belajar mematung?" tanya Mira setelah menelan makanannya dengan susah payah.


"Nggak tahu deh, Ma. Tiba-tiba saja ide itu muncul waktu ngobrol sama Kak Bima. Kayanya seru kalo kita mengabadikan sesuatu yang tidak bisa kita lihat ke dalam bentuk yang bisa diraba."


Mira mengernyit bingung. "Kan Bia nanti akan dioperasi?"


"Tapi kan masih lama, Ma. Sementara mengisi waktu, Bia pengen bikin sesuatu yang suatu saat nanti bisa dikenang. Jadi nanti kalo lihat patung Hari, Mama, Papa, dan orangtuaku, Bia jadi inget kalo proses membuat patung kalian nggak mudah!"


"Patung Kaisar? Kok tidak disebut juga?"


Bia merengut dan menggeleng cepat. "Mending bikin cobek aja daripada bikin patung wajah dia!"


***********


Ahh, Bia, nih!


Kaisar seganteng ini disamain ma cobek 🤣


__ADS_1


__ADS_2