
Kapal pesiar transit di pelabuhan Barcelona. Kaisar dan Sabia memiliki waktu kosong hingga 7 jam ke depan, jadi mereka tak menyia-nyiakan waktu itu berlalu begitu saja.
Tujuan pertama mereka adalah Museo Picasso, Barcelona. Musium dengan salah satu koleksi karya seni paling mahal di abad ke-20 yang memiliki banyak koleksi lukisan-lukisan yang dibuat oleh seniman Pablo Picasso. Kaisar sudah memesan tiket masuk secara online agar mereka berdua bisa segera masuk.
Sabia yang sangat antusias pada seni tentu saja bahagia bukan kepalang. Jalan-jalan ke musium baginya sama seperti jalan-jalan ke mall, bahkan mungkin lebih menyenangkan jalan-jalan ke mall.
"Bia, jangan jauh-jauh!" perintah Kaisar saat istrinya itu berlarian ke sana kemari, melihat karya satu ke karya lain dengan gesit. "Tidak perlu terburu-buru, waktu kita masih banyak, Bia!"
Bia menoleh pada Kaisar yang berjalan dengan amat santai di belakangnya. Padahal masih ada dua tujuan yang akan mereka datangi di Barcelona, tapi Kaisar seolah mengulur-ngulur waktu sejak tadi.
"Cepatlah!" Bia melambaikan tangan agar Kaisar mempercepat langkahnya. Jalan dengan Kaisar seperti jalan dengan kakek-kakek jompo! Lama sekali!
Selama hampir dua jam, mereka berdua mengelilingi musium dan berfoto. Area bangunan khas Eropa membuat Kaisar takjub, ia ingin membuat bangunan kokoh seperti ini di Indonesia kelak.
... Credit Pict : pinterest -instagram...
Tujuan kedua adalah Sagrada Família. Basilika Sagrada Familia merupakan bangunan gereja Katolik Roma yang masih terus dikerjakan setelah lebih dari 1 abad sejak peletakan batu pertamanya. Kaisar mengajak Bia mengunjunginya semata-mata karena bangunannya yang sangat artistik. Kaisar sangat antusias dengan bangunan-bangunan unik karena masih berhubungan dengan pekerjaannya. Meskipun dia calon CEO penerus Mahaputra Group namun Kaisar ingin ilmunya sebagai arsitek tak terbuang sia-sia.
"Kai, aku bosen! Ayo pergi!" rengek Sabia entah yang keberapa kali.
Kaisar menolehi istri kecilnya yang bergelayut manja di lengannya. "Sebentar, Bia. Satu jam lagi, oke?"
__ADS_1
"Nggak mau, Kai. Aku capek! Lagian kita daritadi cuma liatin bangunan-bangunan gini."
"Baby, ini masih berhubungan dengan pekerjaanku. Sayang kalo dilewatkan gitu aja." Kaisar mengecup kening istrinya yang masih saja merajuk manja.
Mau tak mau akhirnya Bia mengalah, ia tetap mengikuti ke manapun Kaisar pergi. Sesekali Bia mengcandid suami gantengnya itu, wajah Kaisar saat sedang serius terlihat semakin ganteng puluhan kali lipat.
Menyadari istrinya telah lelah dan bosan, akhirnya Kaisar mengajak Sabia keluar dan makan siang. Mereka berdua menyusuri trotoar kota Barcelona yang ramai oleh turis dari berbagai mancanegara. Sambil bergandengan dan bercanda, Bia memperhatikan setiap restoran yang mereka lewati. Bia ingin sekali menyantap makanan manis jadilah mereka berdua memilih Camelia Art Cafe yang memiliki puluhan menu cake, salad, toast dan kopi.
Bia memilih strawberry frappe dan beberapa cake manis sementara Kaisar memilih menu makanan berat karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Sekitar tiga puluh menit kemudian makanan dan minuman yang mereka pesan di antar ke meja. Bia dan Kai memilih duduk di dalam cafe karena di luar suhunya lumayan dingin.
"Sudah tahu dingin gini malah minum es!" protes Kaisar saat melihat Bia menyeruput frappe-nya dan bergidik kedinginan.
Bia meringis keki. "Habisnya aku nggak tahan liat kata strawberry. Dan ternyata beneran enak, Kai. Kamu mau coba?"
Kaisar menggeleng cepat. "Tidak. Habiskanlah sendiri."
"Enak?" tanya Kaisar terheran-heran. Bia suka sekali makanan manis!
"Enak bangetttt, Kai! Sumpah, kita harus bungkus buat aku makan di kapal nanti!"
"Tidak perlu, Bia. Di kapal juga ada Bakery yang jual cake!"
"Tapi ini beda, Kai. Ini enak bangetttt!" puji Sabia berbinar. "Kita bungkus yaaa, boleh yaa?? Pleaseeee ..."
__ADS_1
Kaisar menghela napasnya berat. "Ya sudah. Belilah sebanyak muatan perutmu!"
"Asyikkk!! Thank you, Kai!!" jerit Bia sembari mencium suaminya.
"Baby, tidak bisakah kamu memanggilku dengan sebutan yang lebih romantis?" protes Kaisar risih.
"Hmmm, harus ya?"
"Yaa ... tidak harus, sih! Kalo kamu tidak ikhlas ya tidak apa-apa!"
"Terus aku manggil siapa dong? Papa? Ayah? Oppa? Yeobo?" Bia menerawang mencoba menemukan ide.
"Daddy, kek! Darling, Sayang, Honey, kan banyak sebutan romantis, Bia!" rutuk Kaisar gemas.
"Aku panggil Yeobo aja gimana?" usul Bia berbinar.
"Apa itu Yobo? Tidak mau!"
"Yeobo itu bahasa Korea! Ih, kamu nggak gaul!" cibir Sabia terkekeh.
Kaisar merengut, ia tak menghiraukan cibiran Bia dan memilih untuk memakan makan siangnya.
"Ayo cepat habiskan makananmu. Habis ini kita kembali ke kapal!"
__ADS_1
"Oke, Yeobo!"
**************************