
Masuk ke dalam kamar, Kaisar terlonjak kaget saat menemukan Sabia duduk mematung sambil menatap kosong ke arah pintu. Diam-diam Kaisar menelan salivanya gugup, Bia hanya mengenakan bra di bagian atas tubuhnya. Gundukan menggemaskan itu seolah ingin mencuat keluar namun terhalang oleh si penutup berenda.
"Kenapa bangun?" tanya Kaisar gugup, ia berusaha terlihat biasa saja meskipun jantungnya berdebar tak santai.
"Hiks, kenapa lampunya dimatikan!" rengek Sabia tiba-tiba.
Kaisar terhenyak, ia meraih piyama Bia dan mendekat ke ranjang. Setidaknya tubuh bagian atas ini harus ditutup lebih dahulu agar tidak menimbulkan efek samping membayakan. Dengan telaten, Kaisar memasangkan piyama kaos itu dan anehnya Bia menurut tanpa banyak memprotes.
"Fiuh!" desis Kaisar lega, ia pun beringsut duduk di sebelah istrinya dan menatapnya dalam.
"Sedang terjadi pemadaman bergilir, Bia. Tidurlah! Besok pasti lampunya sudah nyala," jelas Kaisar berdusta, tak mungkin ia akan menjelaskan tentang keadaan Bia yang sebenarnya di saat gadis itu sedang mabuk.
Bibir mungil Sabia mencebik, tiba-tiba ia merentangkan tangannya mencari Kaisar dan menariknya agar mendekat. Mendapatkan perlakuan tak biasa seperti ini membuat Kaisar terdiam kaku. Bia pun memeluk tubuh kekar itu dan bersandar di dadanya yang hangat.
"Kamu darimana aja! Aku takut sendirian di sini, tau!" sungut Sabia seraya memeluk Kaisar seperti bayi panda memeluk ibunya.
Sementara itu, Kaisar yang baru pertama kali mendapatkan pelukan hangat dari Sabia setelah terakhir kali saat ia sakit dulu, tak mampu berkata-kata. Bibirnya seketika kelu, wangi strawberry dari rambut Sabia yang bersandar di dadanya semakin membuat gemuruh di dada Kai jadi menggelegar. Ia mengangkat tangannya perlahan dan membelai kepala itu dengan lembut.
"Besok-besok kalo kamu keluar, ijin dulu sama aku! Jangan tiba-tiba pergi kaya tadi, aku kan takut kalo gelap kaya gini!" rutuk Bia lagi, ia mendongah dan membelai pipi Kaisar.
"I-iya. Aku tidak akan pergi lagi."
"Janji?" Bia mengacungkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
Kaisar tersenyum melihat kelingking mungil itu terangkat, ia pun menautkan kelingkingnya dengan keki. Sungguh, terakhir kali Kaisar melakukan perjanjian dengan menautkan jari seperti ini adalah semasa dia masih SD.
"Sekarang ayo kita tidur!"
"Kamu tidur saja dulu, aku mau ganti baju."
"Nggak mau! Aku maunya tidur dipeluk kamu, Kaiiiii. Ayok!" rengek Sabia memaksa.
"Tapi badanku gerah, Bia."
"Yaudah buka aja bajumu!"
"A-apa?" Kaisar terbelalak tak percaya. Sabia menjelma menjadi wanita berbeda saat sedang mabuk seperti ini.
Kaisar menahan tawanya sebisa mungkin. Bia pun mengurai peluknya dan mendorong Kaisar sedikit menjauh.
"Sana, buka bajumu! Aku mau tidurnya dipeluk tapi kamu nggak usah pake baju! Aku mau cium parfummu langsung dari tubuh kamu."
Tidak!
Kaisar mengusap wajahnya dengan frustasi. Bagian bawah tubuhnya mulai berdenyut protes, mana mungkin ia tidur sambil bertelanjang dada dan berpelukan?!
"Bia, jangan aneh-aneh. Tidurlah sekarang!" Kaisar bangkit dari ranjang namun dengan sigap Sabia mencekal tangannya.
__ADS_1
"Bukannya terakhir kali di hotel, kamu tidur sambil pelukin aku. Aku pengen kaya gitu lagi, Kai! Ayo ...." rengek Sabia memaksa. Ia pun memonyongkan bibirnya. "Cium aku!"
Kaisar memejamkan matanya gusar, kenapa Bia justru menggoda imannya di saat ia ingin teguh pada pendiriannya untuk tak lagi menyentuh gadis itu!?
Bayangan Sabia saat terkapar tak berdaya di Rumah Sakit masih menyisakan trauma di hati Kaisar, ia tak akan sanggup mengulangi kesalahan yang sama. Meskipun kali ini Sabia yang memintanya namun saat ini dia berada dibawah pengaruh alkohol. Besok dia pasti akan menyesali apa yang ia lakukan hari ini! Keringat dingin sudah membasahi kemeja Kaisar.
"Tidurlah. Aku mau mandi dulu!" Kaisar menepis tangan Bia dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Tidak, ia tak akan sanggup bertahan bila sampai kehilangan Sabia lagi. Sudah cukup ia ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi, Kaisar tak mau Sabia juga pergi karena kesalahannya.
Sedikit kecewa, Sabia mendengus kesal. Ia menenggelamkan kepalanya di bantal dan mengusap matanya yang masih tak bisa melihat apapun. Gelap sekali, kenapa bahkan wajah Kaisar pun tak bisa ia lihat?
30 menit kemudian, saat dirasa Sabia mungkin telah tidur, Kaisar keluar dari kamar mandi dengan sangat perlahan. Ia mengenakan piyama tidurnya sambil sesekali melirik ke ranjang, Bia sudah memejamkan mata dengan tenang.
Sambil menghembuskan napasnya lega, Kaisar beringsut ke sisi ranjangnya dan berebah dengan silent mode. Hening, bunyi detik jam membuat Kaisar mulai mengantuk. Ia berbalik memunggungi Sabia dan mulai memejamkan mata. Namun, belum juga terlelap, gerakan bergeser dari tempat Sabia membuat Kaisar terjaga. Perlahan Sabia merapat ke tempat Kaisar dan memeluknya dari belakang, tangan mungil itu menyelip dari bawah tubuhnya dan melingkar di dada.
"Selamat malam, Kai," lirih Sabia sambil memejamkan mata. Kepalanya berputar-putar dan sangat ringan. "I love you."
*********************
Hahaha ...
Mon maap, Bestie, tidak ada adegan ehem-ehem kali ini 🤣.
__ADS_1
Ternyata Kaisar kuat iman kalo lagi waras 😌, jadi jan coba-coba buat dia emosi kalo nggak pengen dinaiki 🤣