
Sabia membuka mata tepat saat bias sinar menerpa kelopak matanya yang terpejam. Ia menerawang sejenak, mencoba mencerna ingatannya terakhirnya semalam.
Dengan pipi merona merah, Bia tersenyum malu saat adegan demi adegan panas di antara ia dan Kaisar berkelebat dimemorinya. Usai melakukannya di sofa ruang galeri, Kaisar menggendongnya kembali ke kamar. Dan mereka melanjutkannya di ranjang!!
Sabia menutup wajahnya yang menghangat karena malu, betapa semalam ia sudah bertingkah seperti gadis jalangg yang baru tahu nikmatnya bercintta. Kaisar benar, dia akan ketagihan bila sudah tahu rasanya!
Dan ya, tubuh Kaisar yang telanjangg dan saat ini memeluknya di bawah selimut entah mengapa membuat debaran itu datang lagi. Sabia ketagihan!! Ingin merasakan sentuhan memabukkan dan hentakan dari benda besar itu sekali lagi. Bolehkah?
Dengan gerakan perlahan, Sabia berbalik dan tubuhnya kini berhadapan dengan Kaisar. Benda di bawah sana, yang Kaisar sebut dengan junior, sepertinya tegang dan menggesek di paha Sabia.
"Kai ..." panggil Bia lirih seraya membelai wajah suaminya dengan lembut.
"Hmm ..."
"Sudah pagi! Ayo, bangun."
"Sudah bangun daritadi, Bia." Kaisar menarik tangan mungil Sabia yang menggerayangi wajahnya dan menjejalkannya ke junior yang berdiri tegang di bawah sana.
"Kai!" sentak Sabia keki.
Kaisar membuka mata, melihat wajah Sabia yang merah merona seperti buah strawberry membuat Kai sontak tertawa.
"Bia, kamu masih saja malu! Padahal aku sudah melihat semua bagian di tubuhmu!" goda Kaisar terkekeh.
__ADS_1
Bia merengut. "Nggak perlu diperjelas, Kai. Kamu membuatku semakin malu!"
Kaisar mencium bibir yang mengerucut itu dengan gemas, memberi pemanasan awal sebelum acara inti dimulai.
"Aku mau lagi, Bia. Boleh, kan?" rengek Kaisar merayu.
Sabia mengangguk ragu, sejujurnya daritadi ia pun menginginkan ehem-ehem itu!
Kaisar tersenyum lega, dalam hitungan detik ia meringsek turun dan menghilang di balik selimut. Suasana pagi yang sejuk kembali menjadi panas di kamar pasangan yang sedang dimabuk kenikmatan itu. Sabia membiarkan Kaisar menjelajahi seluruh tubuhnya, melakukan apapun padanya, ia pasrah.
"Kai ... hmm, kenapa kamu suka sekali berada di bawah sana!?" rutuk Bia di antara rasa kesal dan nikmat.
Kaisar tak menyahut, ia sedang sibuk bereksplorasi sebelum dua jam lagi akan disibukkan oleh pekerjaan kantornya yang menggila. Oh tunggu, bagaimana kalo hari ini dia mengajukan cuti dan tidur seharian dengan Sabia?? Oke, sepertinya ide bagus!!
..
..
Dua jam kemudian Kaisar sudah berada di kantor dengan wajah sumringah seperti habis menang lotre. Dia merelakan perang kenikmatannya tertunda hingga nanti sore. Setidaknya Kaisar harus realistis dan bekerja untuk memghidupi istri dan anaknya.
"Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan, Pak?" tanya Diki penasaran saat sejak datang tadi Kaisar tak henti-hentinya senyum-senyum sendiri.
Kaisar menoleh sekilas pada sekretarisnya itu dan menggeleng. "Tidak ada, Diki. Aku hanya sedang senang karena sebentar lagi akan menimang anak!"
__ADS_1
Diki yang sudah mengetahui kabar bahagia itu hanya mengangguk. Sebagai seorang jomblo, ia tak paham bagaimana rasa bahagia yang saat ini Kaisar rasakan. Apakah sebahagia bisa menonton bola sampai pagi karena besoknya libur bekerja??
"Oh ya, apa kamu sudah menemukan lokasi yang cocok untuk Mama Asih?" tanya Kaisar baru ingat.
"Sudah, Pak. Bu Asih meminta lokasi yang dekat dengan rumah agar tidak perlu jauh-jauh. Saya sudah menghubungi pemilik bangunan itu tapi belum ada kabar dia akan melepasnya dengan harga berapa."
"Paksa dia, Diki. Bila Mama Asih suka dengan lokasinya, berikan harga dua kali lipat dari harga beli bangunan di sekitarnya. Aku tidak peduli berapa uang yang aku keluarkan, yang penting Mama Asih bisa segera membuka restorannya sendiri!"
"Baik, Pak. Sore ini akan saya hubungi kembali pemiliknya," janji Diki.
Kaisar tersenyum lega. Ia lantas mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Ada banyak foto Sabia yang ia ambil secara candid, beberapa di antaranya adalah foto dengan pose yang tak lazim. Kaisar membukanya satu persatu dan terkekeh gemas tanpa mempedulikan tatapan heran dari Diki.
"Sepuluh menit lagi kita akan meeting dengan Divisi Commercial, Pak." Diki mengingatkan bosnya.
Kaisar melirik sekilas, ia lantas kembali fokus pada layar ponselnya. "Iya, masih sepuluh menit lagi, kan? Biarkan aku melepas rasa rinduku pada istri kecilku dulu sebentar, Diki!"
Sebuah pop up notifikasi iklan muncul di bagian atas layar ponsel Kaisar. Ia berdecak jengkel, namun matanya yang jeli membaca sekelebat tulisan nama yang sangat ia kenal. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tertahan untuk sesaat. Dengan tangan gemetar, Kaisar memencet pop up iklan itu hingga sebuah laman gosip terbuka dan semakin membuatnya terbelalak tak percaya.
[Patricia Christina, akhirnya ungkap kisah kencannya dengan Bos Mahaputra Group. Berikut foto panas mereka yang terangkum media!]
"D-Diki, batalkan rapatku sekarang. Ada hal penting yang harus aku selesaikan dengan seseorang!"
"Tapi, Pak. Rapat kali ini berkaitan dengan hasil pekerjaan mereka."
__ADS_1
"Tunda dulu, Diki." Kaisar menunjukkan layar ponselnya pada Diki. "Ini lebih penting!!"
********************