GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Palang Merah Menjelang Hari H


__ADS_3

Tiba di penthouse usai mengantarkan Mira pulang ke kediaman Mahaputra, Sabia menyiapkan piyama Kaisar dan bersiap mengisi air bathtub.


Bia menanggalkan pakaiannya satu persatu dan menggantinya dengan piyama seksi kesukaan Kaisar. Akan tetapi sesuatu yang hangat tiba-tiba terasa keluar dari area intimmnya sesaat setelah Bia mematut pantulan tubuhnya di cermin. Feeling Bia mulai tak nyaman, ia mengingat-ingat tanggal mensstruasinya yang seharusnya datang di awal bulan. Dan hari ini adalah tanggal di mana harusnya jadwal mensstruasinya tiba.


Dengan gugup, Sabia menurunkan celana pendek dan celana dalammnya. Melihat setetes darah membasahi celana dalammnya, hati Sabia sontak mencelos. Tiga hari lagi adalah hari pernikahannya, meskipun tak harus melakukan malam pertama tapi Kaisar pasti kecewa. Bia pun membuka celana dalammnya dan menggantinya dengan CD yang telah diberi pembalutt.


Pada akhirnya Bia harus membatalkan acara berendamnya sore ini dengan Kaisar, padahal ia sudah menyiapkan lilin aromatheraphy baru untuk ritual mereka malam ini. Tak ingin larut dalam kekecewaan, Bia akhirnya memilih keluar dari kamar dan memasak saja untuk makan malam mereka berdua.


Jam tiga lewat sepuluh menit, Kaisar pulang dan langsung berhambur memeluk istri kecilnya yang tengah memasak di dapur.


"Bukankah aku sudah bilang tidak perlu repot memasak untukku!" keluh Kaisar tak suka. Ia tak ingin Bia lelah dan berujung tak bisa melayaninya.


Bia mencebik sedih, ia meletakkan pisau dan berbalik menatap Kaisar. Menyadari istrinya sedang tidak baik-baik saja, Kaisar sontak menariknya untuk duduk di kursi dekat pantry.


"Ada apa, Baby? Kenapa kamu sedih?" tanya Kaisar panik.


Air mata Bia semakin menetes mendengar pertanyaan Kaisar yang penuh perhatian.

__ADS_1


"Baby, ada apa? Jangan buat aku penasaran! Cepatlah cerita!" perintah Kaisar tak sabaran.


"Kita nggak bisa berendam sore ini, Kai!" lirih Sabia di antara rengekan tangisnya.


Kaisar menghembuskan napasnya berat. "Lalu kenapa kamu menangis?"


"Karena aku nggak bisa nemenin kamu berendam!"


"Memangnya kamu kenapa? Kamu terluka?" Kaisar menarik tangan Sabia dan memeriksanya.


Bia menggeleng lemah. "Aku ... menss huhuhu ..."


Respon yang pertama kali keluar adalah tawa, Kaisar tergelak hingga membuat tangis Sabia terhenti seketika.


"Kenapa kamu malah ketawa, sih! Nyebelin!"


"Hahaha ... ya jelas aku tertawa, lah! Memangnya kalo menss terus kenapa? Aku tidak akan marah kok, Bia."

__ADS_1


"Tapi sebentar lagi kita menikah! Kamu jadi nggak bisa ehem-ehemin aku, kan!"


Tawa Kaisar semakin menggelegar membahana. Betapa polosnya pemikiran istri kecilnya ini! Apa dia pikir Kaisar adalah lelaki super messumm yang setiap saat selalu ingin dilayani??


"Aku tidak apa-apa, Baby. Mensstruasimu adalah siklus alami dari tubuhmu yang terjadi tanpa bisa dikendalikan. Memangnya kamu pikir aku laki-laki apa, huh? Sebegitu messummnya kah aku di matamu??"


Bia merengut mendengar cibiran Kai. Ia menyeka air matanya yang terbuang percuma.


"Ya sudah. Kalo gitu kamu mandi aja sana! Jangan dekati aku selama menss!" Bia bangkit dari kursi dan berlalu meninggalkan Kaisar yang masih terpana dengan gejolak emosi Sabia.


"Selama seminggu, kamu dilarang deket-deket aku! Kamu dilarang tidur di ranjang yang sama denganku! Kamu juga nggak boleh peluk aku hmppp---"


Kaisar lebih dulu menyumpal mulut Sabia dengan ciuman sebelum gadisnya itu mengomel lebih jauh. Ia melumatt bibir seksi nan menggoda itu tanpa ampun. Ia pun membiarkan junior meronta-ronta di bawah sana seakan protes pada perlakuan semena-mena pemiliknya.


"Masih baru menss, kan? Berarti masih bisa dong sedikit saja dimasukin?" pinta Kaisar memohon.


Bola mata Sabia membulat tak setuju. "Nggak mau. Kamu kan tadi udah bilang kalo kamu bukan lelaki messumm!"

__ADS_1


"Aku tidak messumm, Bia. Aku hanya kasihan pada junior ..."


*************************


__ADS_2