GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Ketika Kaisar Sakit


__ADS_3

Dengan tak sabar, Sabia menunggu kepulangan Hari malam ini di meja makan. Setelah mengobrol panjang lebar dengan Kak Bima, akhirnya ia sudah memutuskan untuk menekuni bidang baru. Hari pasti sangat setuju dan akan menjadi pendukung setianya.


Derap langkah yang sudah sangat Sabia hafal mendekat ke meja makan, kali ini langkah itu terdengar tak bersemangat seperti biasa, agak di seret dan lemah dalam setiap ketukannya.


"Hari?"


"Hmm." Hari beringsut duduk setelah pelayan menarikkan kursi untuknya.


"Tumben suaramu lesu begitu?" tanya Sabia heran. Tak biasanya ia mendapati Hari dalam keadaan seperti ini.


"Aku akan DL selama seminggu dan berangkat malam ini. Apakah tidak apa-apa meninggalkanmu selama itu?" Hari mulai membuka suara.


Sabia terkesiap. Seminggu?


"Kenapa lama sekali?"


"Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin. Tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini berdua dengan Kakakku," keluhnya.


"Seharusnya aku nggak bergantung padamu, Hari. Tapi bergantung pada Kaisar juga bukan pilihan yang tepat."


"Benar. Jangan gantungkan dirimu padanya. Bergantunglah padaku, Bia."


Sabia mengangguk setuju, ia lebih aman bersama Hari daripada Kaisar yang selalu menyakitinya.


"Oh, ya. Tadi kamu les?" tanya Hari mengalihkan topik.


Sabia mengangguk cepat. Sorot matanya kembali berbinar. "Kamu tahu, Hari. Aku sudah menemukan impianku!!" jerit Bia tertahan.


"Impian?"


"Iyaaaa, aku mau jadi pematung!!"


Hari mengernyit kaget. "Pematung??"


Sabia mengangguk lagi beberapa kali dengan bersemangat. "Bisakah kamu membelikanku perlengkapannya? Aku tak sabar ingin cepat membuat patung wajah kalian!"


"Tungu ... tunggu, kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Hari heran. Baru kali ini ia melihat Sabia sangat berapi-api.

__ADS_1


"Tadi aku mengobrol banyak dengan Kak Bima. Dia bercerita tentang orang-orang disabilitas yang tak seberuntung diriku. Dia bilang beberapa di antara orang itu tak bisa menggapai mimpinya karena kekurangan biaya. Tidak bisakah kamu membantu mereka, Hari?"


Hari terhenyak. "Membantu bagaimana?"


"Membantu dengan membuat komunitas khusus orang-orang disabilitas yang ingin meraih impian mereka. Ayolah, perusahaan Papamu kan besar, pasti akan ada banyak sponsor yang mau menyumbang!" rengek Sabia memohon.


Melihat sorot mata penuh semangat itu membuat Hari tak tega untuk menolak. Permintaan Sabia pun terbilang sangatlah mulia untuk gadis belia seusianya, membuat lembaga amal untuk kaum disabilitas sepertinya bukan ide yang buruk.


"Baiklah. Akan aku bicarakan dengan Papa kalo beliau sudah kembali minggu depan."


"Asyik!!" jerit Sabia kegirangan. "Janji, ya!" Bia mengacungkan jari kelingkingnya ke depan.


Dengan senyum pasrah, Hari menautkan jari kelingkingnya di jemari mungil itu. "Janji!"


..


..


Bruk.


Selimut lebar dan tebal yang menutupi tubuh Sabia ditarik ke arah berlawanan. Sepertinya Kaisar hendak memasang selimut ke tubuhnya sendiri. Sabia mengernyit heran, tak biasanya Kaisar tidur menggunakan selimut. Biasanya dia paling betah kedinginan.


Sementara Sabia bertanya-tanya, Kaisar justru berusaha menahan tubuhnya yang menggigil di bawah selimut yang menutupinya. Sejak sore tadi, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Setiap sendi di seluruh tubuh terasa ngilu, perutnya seperti diaduk-aduk. Sepertinya ia akan tumbang kali ini, dan sialnya Patricia sedang berada di luar kota hingga esok lusa. Alhasil akhirnya Kaisar pulang ke rumah Mahaputra karena tak tahu lagi harus pulang ke mana. Dengan menahan mual dan pusing, Kaisar menutup matanya yang terasa panas. Semoga besok pagi ia sudah membaik dan pulih.


Namun nyatanya, sejak dinihari Kaisar semakin gelisah. Ia kedinginan, namun seluruh tubuhnya terasa panas. Mau tak mau Kaisar membangunkan Sabia yang masih terlelap dalam buaian mimpi.


"Bia ..." panggil Kai lirih, ia berguling dan menggeser tubuhnya mendekat ke tempat Sabia.


"Bia ..." ulang Kaisar serak, ia menepuk pipi Sabia yang gembul agar gadis itu membuka mata.


Merasa sesuatu yang panas menyentuh pipinya, Sabia mengerjap untuk beberapa saat.


"Bia, aku sakit," rengek Kaisar begitu melihat istrinya membuka mata.


Kesadaran Sabia kembali, ia mengusap kedua matanya yang masih terasa sepat dan perih. Sepertinya ia mendengar suara Kaisar.


"Aku sakit, Bia." Kaisar menarik tangan Sabia dan meletakkannya di kening agar Bia tahu bila Kai tidak sedang berbohong.

__ADS_1


"Huh?"


"Aku sakit," lirih Kaisar gemas, Bia tak kunjung konek.


"Oh, terus?" tanya Bia bingung.


Ia tak pernah merawat orang sakit sebelumnya. Dan lagi, yang sakit adalah orang yang paling menyebalkan baginya!


"Suhu tubuhku panas, tapi aku menggigil. Perutku juga sakit dan aku tidak bisa tidur selaman!" keluh Kaisar manja.


Sabia termenung, ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Terus aku harus bagaimana?" tanyanya bingung.


Kaisar mendesah gemas, selain disiksa oleh kondisi kesehatannya, kepolosan Sabia juga menambah beban penyakitnya.


"Hari sedang DL. Apa perlu aku panggilkan Bik Yati agar mengantar kita ke Rumah Sakit?"


"Aku tidak mau ke Rumah Sakit, Bia. Aku cuma butuh diperhatikan," sanggah Kaisar.


"Tapi aku bukan perawat! Aku nggak tahu harus bagaimana, Kai."


"Peluk aku, Bia! Puk-puk punggungku dan pegang keningku. Biasanya itulah yang dilakukan Mama setiap kali aku sakit!"


Sabia terbelalak. Memeluk!?


"Bia!"


"Iya, oke, baik." Sabia menggeser tubuhnya dan merentangkan tangannya pada Kaisar.


Tak menunggu lama, Kai menyambar tubuh itu dan bersembunyi di bawah lengan Sabia, tepat di sebelah payudarranya. Seluruh tubuh Bia membeku, napasnya tertahan.


"Puk-puk punggungku, jangan diam saja!"


*****************


Yuhuuu, jan lupa jempolnya, Bestie ❤️

__ADS_1


__ADS_2