GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Nona Perawat yang Terbuang


__ADS_3

Tak ingin mengambil resiko, akhirnya Sabia memaksa Bik Yati untuk menghubungi Rumah Sakit. Hari yang masih jengkel pada keduanya menepikan amarahnya sejenak demi kesehatan Kaisar yang mulai tak sadarkan diri karena demam tinggi.


"Pulanglah. Biar aku yang berjaga di sini malam ini. Kembalilah besok pagi bersama Bik Yati," perintah Hari begitu Kaisar sudah ditempatkan di kamar president suite.


"Iya, Non. Yuk pulang aja sama Bibik. Non Bia jangan sampe ikutan sakit. Nanti Tuan Kaisar nggak sembuh-sembuh kalo kepikiran sama Non Bia yang ikutan sakit!"


Sabia tersenyum getir. Kaisar tidak akan merasakan apapun seandainya Sabia yang sekarang berada di posisinya.


"Yuk, Non!" Bik Yati menggamit lengan Bia dengan erat.


"Hari, aku pulang."


"Hm."


..


..


Sepeninggal Bia dan Bik Yati, Hari mengamati wajah Kaisar yang tergolek lemah di ranjang Rumah Sakit. Sejujurnya ia masih marah pada Kaisar, ia kecewa pada Sabia, namun Hari tak sejahat mereka. Ia masih punya hati nurani untuk membantu orang-orang yang sudah membuat amarahnya bergelora.


Sejujurnya, tadi Hari memilih pulang karena ia sangat khawatir pada Sabia. Padahal seharusnya ia masih ada DL selama lima hari ke depan, namun  pada akhirnya Hari memerintahkan Suzan untuk mewakilinya. Kekhawatiran Hari terbukti, seandainya ia telat satu jam saja mungkin Kaisar sudah menelanjangi Sabia. Tapi setelah Bia menolaknya, kekecewaan Hari jadi berlipat ganda.


"Bia ... Sabia ..." rintih Kaisar lirih.


Hari terkesiap, ia menatap kakaknya lekat-lekat. Apakah Kaisar mulai memiliki perasaan pada Sabia?


Karena lelah menyetir sendirian selama 4 jam demi Sabia yang pada akhirnya malah mengecewakannya, akhirnya Hari tertidur di sofa. Padahal kamar president suite yang Kaisar tempati memiliki 1 ranjang besar untuk pendamping yang menemani pasien. Namun Hari memilih tidur di sofa agar bila sewaktu-waktu Kaisar membutuhkannya maka ia bisa segera bergerak cepat.


Paginya.


Hari membuka mata saat sinar matahari yang menerobos melalui celah tirai vitrase membuatnya silau. Ia bangkit perlahan dan menoleh pada ranjang pasien tempat kakaknya tidur. Namun ranjang itu kosong.


Hari mengucek matanya, berharap ia salah lihat, namun Kaisar tetap tak ada di ranjang itu.


Cklik.

__ADS_1


Bunyi pintu kamar mandi yang ditutup sontak membuat Hari menoleh. Kaisar muncul dari sana seraya menenteng botol infusnya.


"Dasar pelorrr! Untuk apa kamu menemaniku di sini kalo hanya untuk pindah tidur!" umpat Kaisar kesal.


Hari lekas bangkit dan menghampiri kakaknya tanpa merespon apa-apa. Menyadari Hari tak tersulut emosi, Kaisar berdecak jengkel. Kenapa Hari masih saja baik padanya setelah apa yang sudah ia lakukan pada adiknya ini?


Setelah Kaisar kembali tiduran di ranjang dan Hari meletakkan botol infus di tiang penyangga, ia berbalik tanpa mengucapkan satu patah kata.


"Di mana Sabia? Kenapa aku bisa ada di sini?" keluh Kai.


"Kamu demam tinggi semalam. Sabia tidak bisa mengurusmu sendirian, jadi jangan terlalu banyak menyiksanya!"


Kaisar tersenyum kecut. "Aku? Menyiksanya? Yang ada malah dia yang menyiksa mentalku!"


"Itu karena selama ini kamu menolak kehadirannya, Kak. Cobalah lebih ikhlas menerima kenyataan. Sabia adalah istrimu, kamu suka atau tidak, dia tetaplah istrimu."


"Jangan menceramahiku, Hari. Kamu bukan Ustad!" olok Kaisar kesal.


"Terserah kau saja, Kak. Aku sudah muak dengan kalian."


Hari bangkit dari sofa dan beranjak keluar dari ruangan Kaisar. Ia ingin mendinginkan kepala sejenak dengan minum kopi di foodcourt basement.


Semalaman Bia tak bisa tidur dengan nyenyak, meski kesal pada Kai namun ia tak menampik bila sangat mengkhawatirnya. Melihat sisi terapuh lelaki kutub itu saat ia sakit kemarin membuat Bia terenyuh, betapa selama ini Kaisar sangatlah kesepian menjalani hidupnya seorang diri.


Pagi sekali, Bia sudah mengajak Bik Yati ke Rumah Sakit untuk menjenguk Kaisar. Setelah sarapan, mereka berdua berangkat di antar oleh supir.


Saat masuk ke dalam ruang rawat inap yang lebih mirip hotel berbintang, Bik Yati tak menemukan Hari di dalam. Kaisar yang melihat kedatangan keduanya memilih untuk acuh.


"Apa Kai masih tidur, Bik?" bisik Sabia lirih.


"Sudah bangun, Non. Lagi lihatin kita berdua tuh, serem, hiiii ...." Bik Yati berbisik di telinga Bia sambil bergidik.


Sabia menghela dan menghembuskan napasnya berkala, ia berusaha terlihat rileks meskipun suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja usai pertengkaran sengit mereka kemarin.


"Apa keadaanmu sudah membaik?" tanya Bia begitu Bik Yati menggandengnya mendekat ke ranjang Kaisar.

__ADS_1


"Kenapa bukan kamu yang semalam tidur di sini!"


Bik Yati mencengkram lengan Sabia dengan erat saat mendengar Kaisar memprotes. Entah mengapa aura tuan mudanya yang satu ini sangat menakutkan dibanding Hari.


"Aku takut nanti malah merepotkanmu, Kai."


"Omong kosong! Bilang saja kamu malas karena jadi tidak bisa tidur nyenyak kalo menjagaku, ya, kan?"


Brak.


"Kai, honey!"


Kaisar dan Bik Yati sontak menoleh ke pintu. Seorang perempuan berlari mendekat ke ranjang dan sontak memeluk Kaisar dengan erat. Patricia.


Melihat keduanya begitu mesra, Bik Yati terbelalak tak percaya. Ia menoleh pada Sabia yang mematung tanpa ekspresi.


"Kenapa baru bilang kalo kamu dirawat di Rumah Sakit. Tahu gitu semalam aku langsung kemari begitu tiba di bandara!" keluh Pat manja, ia masih memeluk Kaisar dengan erat.


Sabia yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa berusaha mengatur napasnya yang naik turun, seolah Bik Yati tahu bila Nona Mudanya sedang bersedih, ia mengeratkan genggangamannya di tangan Sabia.


"Pulang sana kalian berdua! Sudah ada Pat yang menemaniku di sini. Jadi pergilah kalian sekarang!"


Tanpa Sabia dan Bik Yati sadari, Hari yang berdiri di pintu mengepalkan tangannya dengan emosi. Tadi ia urung membeli kopi karena melihat Patricia naik lift ke lantai atas. Feelingnya tak bagus, jadi Hari pun membuntutinya diam-diam.


"Kok malah diem, sih! Sana bawa dia pulang!" Patricia memerintah pada Bik Yati yang menatap tajam padanya.


Hari menghembuskan napasnya berat, ia mengayunkan langkahnya masuk ke dalam dan menarik lengan Sabia.


"Ayo, kita pulang!"


******************


Yuhuuuu, Bestie!


Terima kasih sudah membaca sejauh ini, bener-bener terharu sama kalian yang selalu menghujat Kai dan memuja Hari 😂

__ADS_1


I luv you lah pokoknya, peluk cium kalian satu-satu ❤️



__ADS_2