GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Perang Saudara


__ADS_3

"Mau ke mana kamu?!"


Sabia menepis tangan Kaisar yang mencekal lengannya dengan erat. "Lepasin!"


"Kamu harus menerima hukuman karena sudah lancang mengangkat telefonku!" kecam Kaisar seraya menarik tubuh mungil Sabia hingga membentur tubuhnya.


"Lepasin aku, Kai. Aku nggak sengaja, tadinya aku mau memberikan ponsel itu padamu!"


"Bulshit! Gadis lancang sepertimu harus dibuat kapok agar tidak berani mencampuri urusan orang lain." Kaisar mengucapkan kata terakhirnya tepat di telinga Sabia hingga gadis itu bergidik geli.


"Aku nggak peduli dengan semua urusanmu. Aku juga nggak tertarik untuk ikut campur dengan permasalahan kalian!"


"Jangan membantahku, Bia. Buka bajumu sekarang!"


"A-apa?"


"Buka bajumu sekarang!"


Brak.


"Lepaskan dia!" Teriakan Hari membuat Sabia sontak menghembuskan napasnya lega.


Kaisar menoleh pada Hari yang berdiri di ambang pintu dengan tangan terkepal.


"Jangan ikut campur urusanku. Keluar kamu!" usir Kai dingin. Ia menarik Sabia dan mendorongnya ke atas ranjang. "Dia istriku. Terserah aku mau melakukan apapun padanya!" Kaisar mendekat pada Hari.


Tatapan tajam dan dingin Hari tak membuat Kaisar gentar, ia justru semakin tersulut emosi. Sabia yang syok tak mampu lagi berkata-kata, ia meringkuk di ranjang dengan ketakutan.


"Kamu tidak pernah memperlakukan Sabia selayaknya seorang istri, Kak! Kamu bahkan tidak pernah memperhatikan dia dan memenuhi segala kebutuhannya!"

__ADS_1


"Hahaha ... lalu apa hakmu melarangku meniduri istriku, huh? Memangnya kamu siapa?" cecar Kaisar murka. "Apa diam-diam kalian berpacaran di belakangku? Benar begitu?"


"Apa tidak boleh? Sementara kamu sendiri tetap menjalin hubungan dengan perempuan binal itu meskipun sudah berstatus sebagai suami orang?!"


Plak.


Sabia terlonjak kaget. Ia menyentuh pipinya dengan sedih, apakah Kaisar menampar Hari??


"Tutup mulutmu! Jangan ikut campur! Pergi kamu dari sini!" usir Kaisar marah.


Hari mengusap pipinya yang terasa panas oleh tamparan Kaisar barusan. Ia menatap tajam pada kakaknya itu dengan penuh dendam. Hari kemudian beringsut ke ranjang dan menarik lengan Sabia.


"Ayo, pergi!" perintah Hari lugas.


Sabia menggeleng cepat, ia takut Kaisar akan melukai Hari bila sampai ia pergi bersamanya.


"Nggak, Hari. Pergilah. Jangan sampai Kaisar melukaimu."


"Aku tidak apa-apa. Ayo cepat berdiri, kita pergi dari sini!"


"Kamu tidak dengar dia bilang apa, huh? Dia sudah menolakmu, jangan sok jadi jagoan! Dasar pecundang!" ejek Kaisar sinis.


Hari menoleh pada Kaisar yang masih berdiri di pintu. "Bia, aku mohon ayo pergi denganku. Aku tidak mau kamu terluka!"


"Pergilah, Hari. Aku bisa menjaga diriku!"


"Tidak, kamu tidak bisa. Aku mohon, ayolah!" pinta Hari memohon, dadanya mulai sesak membayangkan Kaisar bisa saja melukai Sabia yang lemah.


"Pergilah pecundang! Dia sudah memilih dengan benar kali ini. Jangan ganggu kami lagi, bisa kan?"

__ADS_1


Hari melepas cekalannya pada tangan Sabia. Tepat di saat itu, air mata Bia menetes menahan sakit. Hari pasti sangat kecewa padanya.


"Baiklah. Terserah kalian saja!" kecam Hari menahan amarah, ia sempat melirik Sabia dan melihat gadis itu menangis sebelum kemudian ia melangkah pergi.


..


..


Sepeninggal Hari, Kaisar merasakan peningnya semakin menjadi-jadi. Ia mengunci pintu dan beringsut naik ke ranjang. Tak ia pedulikan lagi tangis Sabia yang terdengar pilu. Kaisar ingin tidur, ia ingin mati daripada harus berurusan dengan orang-orang menyebalkan ini.


Bik Yati yang tadi hendak membawa makan malam untuk Kaisar sontak mundur teratur begitu mendapati tuannya bertengkar. Terlebih setelah melihat Hari keluar dari kamar itu dengan wajah merah padam dan langkah lebar. Bik Yati semakin bergidik ngeri.


Dan karena tak menyantap apapun sejak kemarin, kondisi Kaisar semakin drop. Demamnya datang lagi dan membuatnya mengigil. Sabia yang menyadari bila Kaisar kembali demam memilih untuk tak peduli kali ini. Ia tak mau lagi dijadikan pelampiasan dan cadangan. Biar saja Patricia itu yang merawat Kaisar!


Seolah paham bila Sabia marah, Kaisar tak lagi merengek dan meminta untuk dimanja. Padahal semalam ia sangat menikmati belaian lembut Sabia di punggungnya, ia bisa terlelap tidur setelah gadis itu mengusap-usap keningnya. Kenangan saat Kaisar sakit di usianya yang ke 15 tahun kembali terlintas, itu adalah terakhir kali ia membiarkan Mira mengusap dan memanjakannya di kala sakit. Sebelum kemudian kenyataan pahit itu membuatnya sangat membenci ibu sambungnya itu.


"Hhhhhh," rintih Kaisar menahan dingin.


Tubuhnya sudah meringkuk di bawah selimut sejak beberapa jam yang lalu. Selimut tebal tak mampu lagi menghangatkan dirinya. Kaisar sedang sekarat.


Sabia turun dari ranjang perlahan, ia hendak memberitahu Bik Yati agar memanggilkan dokter atau membawa Kaisar ke Rumah Sakit. Bia tak ingin lagi merawatnya seorang diri.


"Jangan pergi, Bia. Tetaplah di sini. Tidak apa meskipun kamu tidak memelukku. Setidaknya tetaplah di sini dan temani aku."


*******************


Hariiiiii 😭😭, bawa otor saja, Hari, otor nggak akan menolakmu, kok! Suwer!


Bestie, jan lupa dukungan jempolnya untuk Hari, eh, untuk otor yaa, ini otor beneran sedih karena Hari di gaplok sama Kai 🥲

__ADS_1


__ADS_2