
Selama acara berlangsung, Kaisar tak sekalipun melepas Sabia dari sisinya. Mira dan Syailendra yang menyaksikan kemesraan keduanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Setiap kali berpapasan atau disapa oleh koleganya, Kaisar selalu memperkenalkan Sabia sebagai istrinya. Tatapan hangat dan penuh cinta selalu terpancar tiap kali Kaisar menyebut kata 'dia istriku!' pada siapapun yang menyapanya.
Hari yang menyaksikan gerak-gerik kakaknya mulai jengah. Kaisar seolah-olah hendak menyebar rumor bila ia sudah tak memiliki hubungan dengan Patricia dan sekarang menjadi suami idaman bagi semua kaum hawa.
"Lepasin sebentar, aku kebelet pipis!" pinta Sabia saat Kaisar masih saja menggamit tangannya.
"Oh, baiklah aku antar."
"Aku bisa sendiri!" tukas Bia ketus.
"Tapi kamu tidak tahu di mana letak toilet di hotel ini, Bia."
"Aku bisa minta anter Mamaku."
"Bia, tolonglah menurut saja kali ini."
Karena Sabia tak lagi merespon, Kaisar menganggap gadis itu setuju. Ia pun menuntun Sabia menuju toilet, membukakan pintu untuknya dan mengantarkan sampai tiba di bilik toilet. Kaisar tak memperdulikan tatapan terkejut beberapa wanita yang berada di dalam.
"Tunggulah di luar!" perintah Bia ketus. Ada untungnya Bia tak bisa melihat, jika dia menyadari bila sedang ditatap aneh oleh beberapa pasang mata pastinya Kaisar akan disemprot dua kali.
"Baik," sahut Kaisar menurut dan berlalu keluar dari toilet wanita seolah tak ada siapapun di dalam.
Lima menit kemudian, Sabia keluar dan Kaisar kembali menggandengnya dengan sigap.
"Aku bisa berjalan sendiri," keluh Bia risih.
__ADS_1
"Tentu, tapi sayangnya kamu tidak hafal setiap sudut di hotel ini. Aku tidak mau nanti kamu malah tersesat dan membuat heboh lagi."
Bia merengut dan mendengus kesal mendengar sindiran Kaisar padanya. Harusnya dia mengajak Bik Yati tadi, bersama Kaisar justru membuatnya jadi tak bebas.
"Ayo kita kembali ke dalam, acaranya sebentar lagi akan dimulai."
Kaisar menarik Bia agar berjalan lebih cepat. Mau tak mau ia pun menurut dan membiarkan Kaisar berkuasa atas dirinya malam ini. Hanya malam ini!
Acara pun dimulai tak lama setelah mereka berdua duduk, Kaisar dan keluarga inti Syailendra naik ke atas podium untuk acara tiup lilin dan potong cake.
"Para hadirin sekalian, mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk keluarga Bapak Syailendra Mahaputra!" MC acara mulai bercuap-cuap.
Bia yang duduk semeja dengan orang tuanya sontak ikut bertepuk tangan dengan riuh.
"Kita akan memasuki acara inti, di mana Pak Syailendra akan meniup lilin dan memotong cake! Silahkan Bapak Syailendra," tutur MC seraya mempersilahkan Syailendra maju ke sisi depan cake. "Sebelum tiup lilin, mungkin ada beberapa doa yang akan diucapkan, Pak?" MC menyodorkan mic pada Syailendra.
"Terima kasih," lirihnya singkat.
Konglomerat properti itupun menatap satu persatu keluarganya dengan penuh haru. Lantas beralih menatap Sabia yang berada di bawah podium.
"Doa saya tak banyak di tahun ini. Saya hanya meminta pada Tuhan, semoga saya masih diberi usia yang panjang agar bisa menemani istri dan anak-anak saya hingga merawat cucu saya kelak. Semoga istri saya diberi kesembuhan dan kesehatan yang sempurna, semoga putra saya Kaisar bisa menjadi pemimpin yang baik untuk keluarganya, dan semoga putra saya Hari bisa segera bertemu jodohnya!" Perlahan Syailendra menunduk dan mengusap sudut matanya yang basah.
"Dan semoga teman-teman serta kolega saya yang hadir malam ini diberi kesehatan dan kebahagiaan!"
Prok prok prok.
Terdengar riuh tepuk tangan menggema di seluruh ballroom hotel. Syailendra menoleh pada anak dan istrinya sekali lagi sebelum kemudian meniup lilin angka 52 itu dengan bersemangat.
__ADS_1
Kaisar tersenyum lega, begitu juga dengan Hari dan Mira. Mereka bertiga merangkul Mira dengan penuh haru.
"Temanilah aku sampai ulang tahun berikutnya dan seterusnya, Ma!" lirih Syailendra memohon.
Mira mengangguk dan menghapus air mata yang menetes di pipinya serta pipi suaminya. Kaisar menoleh pada Sabia yang masih duduk manis di meja utama. Gadis itu sedang menatap ke arah panggung dengan tatapan kosong, bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis dan tulus. Namun, perhatian Kaisar beralih pada Bu Darma yang menyodorkan segelas coctail pada Sabia.
Dengan langkah lebar, Kaisar segera turun dari podium dan berlari ke meja mereka. Namun terlambat, Bia sudah meneguk coctail itu hingga tandas.
"Ma, kenapa memberi minuman itu pada Bia?" protes Kaisar syok.
Bu Darma menoleh pada gelas di tangan putrinya yang sudah kosong. "Memangnya kenapa? Kamu mau juga?" tanyanya polos.
Kaisar menepuk keningnya dengan gemas. Ia melirik Pak Darma yang tak bergeming.
"Tadi Bia ngeluh haus, terus Mama lihat Mas itu bawa nampan isi es Strawberry, jadi Mama ambilin dua gelas buat Sabia. Gimana, enak kan, Bia?"
Bia mengangguk cepat. "Enak, Ma. Seger banget! Kaya ada sodanya gitu, nyes di tenggorokan!"
Kaisar menghembuskan napasnya frustasi, ia beringsut duduk di kursi dengan lemas. Sepertinya malam ini akan terasa panjang, berurusan dengan keluarga Darma yang polos membuat tenaganya terkuras habis.
"Itu minuman beralkohol, Ma," lirih Kaisar kesal pada dirinya sendiri. "Bukan es strawberry ..."
**********************
Pen ngakak tapi kasian 🤣
Darma sekeluarga polosnya nggak ketulungan!
__ADS_1