GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Membalas Perlahan


__ADS_3

Sudah hampir sebulan berlalu, Kaisar sudah jauh lebih sehat dari terakhir kali saat Sabia mencampakkannya. Sejak hari itu, ia bertekad untuk melanjutkan hidupnya tanpa Sabia, tak apa meskipun gadis itu tak mau lagi berada di sisinya. Melihat Sabia dari jauh dan memastikan dia baik-baik saja sudah cukup bagi seorang Kaisar.


"Semua kartu ATM-nya sudah diblokir, Pak."


Kaisar tersentak kaget, ia menoleh pada Diki yang saat ini telah berdiri di samping kursinya.


"Kita hanya perlu menunggu dia kembali ke Indonesia untuk kemudian menuntutnya dan menghancurkan kariernya perlahan-lahan!" desis Kaisar geram.


Ia masih memantau pergerakan Patricia dari jauh. Beberapa orang suruhannya sudah mengawasi perempuan jalangg itu dan melaporkannya pada Kaisar secara berkala. Kaisar tak ingin mengotori tangannya, ia akan membalas dendam secara halus.


"Pak, bagaimana dengan pembelian lahan untuk restoran mertua anda? Si pemilik mendesak saya untuk segera melakukan pembayaran," keluh Diki serba salah.


"Tidak apa, Diki. Bayar saja. Aku sudah kadung berjanji akan membelikan lahan itu untuk Mama Asih."


"Anda yakin, Pak? Dengan harga tiga kali lipat?" tanya Diki terbelalak tak percaya.


Kaisar mengangguk pasti. Harga berapapun tak jadi masalah selama itu untuk keluarga Darma.


"Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan anda? Bila nanti Mbak Sabia menuntut cerai bagaimana?"


"Kami masih menikah secara agama, Diki. Bia tidak bisa mengajukan cerai sebelum aku yang menceraikan dia. Dan sampai matipun aku tidak akan menceraikan Sabia."


Diki mengangguk pasrah. Ia tahu bila bosnya sangat bucin pada istri kecilnya itu. Dan cinta telah mengalahkan logika seorang Kaisar yang tak bisa lagi berpikir realistis. Bayangkan saja, sebenarnya dia bisa membeli tiga lahan dengan harga pasaran, namun malah membeli satu lahan dengan harga tiga kali lipat! Bila Diki adalah Kaisar, lebih baik ia akan mencari lokasi lain daripada harus merogoh kocek dalam-dalam!!


"Apa jadwalku hari ini sudah selesai, Diki?" tanya Kaisar datar.


"Sudah, Pak. Apakah anda akan menemui istri anda lagi?"


Kaisar tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja! Aku tidak boleh melewatkan sore ini tanpa melihat istri dan calon anakku!"


Dan satu jam kemudian, mobil Kaisar berhenti di tempat biasa, beberapa blok dari rumah Sabia. Setiap sore Kaisar akan parkir mobil di sana untuk melihat Sabia yang duduk santai di ayunan hingga satu jam kedepan. Kaisar hanya berani melihat istrinya itu dari jauh, ia tak berani lagi mendekat karena takut Bia akan mencecar dan menyumpahinya lagi. Kaisar tidak siap mendengar semua itu, ia tidak mau mendengar kata-kata menyakitkan dari bibir Sabia.

__ADS_1


Terkadang, Sabia terlihat bersenandung sambil mengusap-usap perutnya. Kaisar hanya bisa melihat pemandangan indah itu dengan senyum pilu. Sudah sebulan lebih ia tak menyapa bayinya, Kaisar sangat rindu.


Saat sedang asyik menjepret Sabia dari jauh, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang semingguan ini rutin menghubunginya.


"Halo. Ya, Jack?" sapa Kaisar cepat.


"Pak, target terpantau sedang menuju bandara. Sepertinya dia akan kembali ke Indonesia."


Kaisar tersenyum smirk. "Bagus. Terus pantau dia. Aku menunggu kabar baik darimu."


"Siap, Pak Kaisar! Kami akan selalu mengupdate berita terbaru dari target Patricia!"


Tit.


Kaisar menghembuskan napasnya lega. Beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan wanita jalangg si penghancur itu. Patricia harus mendapatkan balasan yang setimpal!


Tatapan tajam Kaisar beralih pada ayunan di taman yang sudah tak berpenghuni.


'Ke mana Sabia?' batin Kaisar bingung seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman yang tak seberapa luas itu namun ia tak menemukan siapapun lagi di sana.


Tanpa Kaisar ketahui, tepat di saat ia sedang mengobrol dengan Jack. Sabia masuk ke dalam rumah karena Bu Darma memanggilnya. Bu Darma lupa bila tadi ada kiriman paket dari Hari dan baru ingat saat ia hendak menyapu halaman.


Bia membuka isi paket itu dengan antusias. Ia sudah tahu apa isinya karena dialah yang meminta Hari untuk mengirimnya.


Selama sebulan lebih, Sabia merasa sekarat karena merindukan Kaisar. Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk tak memikirkan lelaki menyebalkan itu namun nyatanya setiap kali akan menutup mata, Sabia sangat merindukannya.


"Apa itu, Bia?" tanya Bu Darma heran saat dengan sangat hati-hati Sabia mengeluarkan patung setengah jadi yang belum sempat ia selesaikan.


"Patung, Ma. Bia belum nyelesaikan patung ini jadi semalam Bia nyuruh Hari ngirim ke sini!" jelas Bia seraya meraba patung itu dengan sumringah.


"Itu patung Kaisar ya??" Bu Darma mengamati patung bentuk kepala dengan bentuk wajah yang sekilas mirip menantunya.

__ADS_1


Bia terdiam, ia urung meraba patung wajah itu lebih jauh. "Bukan! Ini patung Prince Charming!"


"Siapa lagi itu Prince Charming? Sejak kapan kamu kenal banyak lelaki, Bia??"


"Aaah, Mama! Jangan cerewet deh! Bantu Bia bawain patung ini ke dalam kamar, Bia mau nyelesaikan ini sebelum besok!"


"Memangnya besok kamu mau ke mana?"


"Ke surga! Ah, Mama cerewet bangettt!" rutuk Bia gemas.


Bu Darma terkekeh, dengan sigap ia membantu putrinya membawa patung sebesar kepala manusia itu masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di meja.


"Nih, peralatannya juga Mama taruh di meja semua, jadi kamu nggak bingung meraba-raba!"


"Makasih Mamakuuu yang cantik!!" Bia merentangkan tangannya dengan senang.


Bu Darma berdecak, namun detik berikutnya ia tersenyum ge-er dan memeluk putri kesayangannya yang mulai ceria kembali.


Usai merajuk, Sabia menarik kursi di meja belajarnya dan fokus pada patung Kaisar yang teronggok di depannya. Hanya beberapa bagian mata dan mulut saja yang butuh di perhalus, selebihnya Sabia hanya perlu membentuk bagian rambut. Dengan sangat hati-hati, Bia memahat bagian mata Kaisar sembari memejamkan mata. Ia mencoba mengingat-ingat bentuk mata indah, teduh dan katanya tajam itu dalam memorinya.


Wajah Kaisar sangat sempurna. Hidung runcing, bibir tipis, rambut klimis dan alis yang tebal. Sayangnya Sabia tak bisa melihat wajah tampan itu dengan kedua matanya. Andai bisa melihat, orang yang pertama kali ingin ia lihat adalah Kaisar, karena ia yakin lelaki yang telah beberapa bulan ini jadi suaminya itu sangatlah sempurna bak dewa.


"King, nanti kalo kamu besar pasti mirip banget sama Papamu!" gumam Bia pada janinnya.


Sesekali ia mengelus perutnya yang masih rata itu dengan penuh kasih. Ia mulai terbiasa menyebut janin kecilnya dengan sebutan King. Padahal sejak awal Sabia justru menginginkan bayi perempuan.


"Hari telepon!! Hari telepon!!"


Sabia meraba ponselnya yang tadi ia geletakkan di meja.


"Halo, Hari!!"

__ADS_1


**************************


Yuhuu, jan lupa jempolnya, Bestie!


__ADS_2