
Setiap hari, Sabia terus berlatih dengan giat untuk membuat patung wajah. Objek pertamanya adalah Hari. Demi bisa mengabadikan wajah adik ipar kesayangannya itu, Sabia sampai merengek agar Hari mau bolos setengah hari. Ia ingin Hari bertemu dengan Pak Jovan.
"Jadi ini model pertama kita?" Pak Jovan mengangguk hormat pada Hari.
"Iya betul, Pak! Bisa kita segera mulai?!" sahut Bia bahagia.
Pak Jovan tersenyum keki, Hari adalah orang yang telah mempekerjakannya dan membayarnya, bagaimana mungkin ia bisa menyuruh Bia meraba wajah Hari.
"Tangan Kak Bia sudah bersih, kan?" tanya Pak Jovan seraya melirik tangan Bia.
Hari ikut memperhatikan tangan gadis itu dengan waspada.
"Sudah, tadi saya sudah cuci tangan!"
"Baiklah, kalo begitu pertama-tama, silahkan raba wajah objek dengan penuh perasaan," perintah Pak Jovan.
Hari terbelalak. Meraba? Wajahnya??!
"B-Bia kamu yakin?" Hari mulai panik.
Sabia mengangguk dan mangangkat kedua tangannya. "Aku kan nggak bisa ngeliat kamu, jadi satu-satunya cara ya meraba wajahmu!"
"Hei, tapi tanganmu kotor itu!"
Bia merengut. "Bersih! Tadi aku sudah cuci tangan, nih coba cium!!" tangan mungil itu terulur tepat di depan wajah Hari.
"Ehem, Pak Hari. Ini adalah salah satu prosesur yang harus di lewati apabila ingin membuat patung wajah," tutur Pak Jovan dengan halus.
Hari mendesah pasrah, pada akhirnya ia mengalah saat Bia kembali mengulurkan tangannya. Hari mendekatkan wajahnya ke telapak tangan kakak iparnya, membiarkan tangan mungil dan hangat meraba perlahan seluruh bagian wajahnya.
"Rasakan Kak Bia, matanya, alisnya, coba dibayangkan dan diingat dalam memori," lirih Pak Jovan seolah memberi sugesti.
...Credit Pict : Pinterest...
__ADS_1
Sambil memejamkan mata Bia tercekat, tangannya mulai menjelajahi setiap inchi wajah Hari, namun entah mengapa jantungnya jadi berdebar. Wajah hangat ini berbeda dengan milik Kaisar, Hari tak memiliki bulu halus di sepanjang rahangnya. Dalam benaknya, Sabia membayangkan wajah Hari, dia pasti sangat tampan dengan bibir tipis dan mata yang agak sipit. Dan oh, hidungnya sangat tinggi, Bia mendesah iri. Apalah dia yang memiliki hidung minimalis.
"Kenapa merengut?" tanya Hari heran saat mengintip Sabia dari celah matanya.
"Hidungmu mancung! Aku nggak suka," sungut Bia seraya tetap meraba wajah Hari.
"Hidung Kak Kai lebih mancung lagi. Kamu pasti akan lebih benci sama dia, haha ..."
"Sssttt, diam! Aku sedang berkonsentrasi!" rutuk Sabia kesal karena nama Kaisar disebut.
"Sudah, Kak Bia? Sudah dihafal?" Pak Jovan memastikan.
Bia menarik tangannya dari wajah Hari. "Sudah, Pak!"
"Bagus! Sekarang kita praktek seperti kemarin. Mari kita bentuk dulu bagian kepala."
Dengan sigap, Bia beralih menghadap mejanya. Ia membentuk bagian kepala dengan sangat hati-hati.
"Apakah tugasku sudah selesai? Aku harus segera ke kantor," bisik Hari sambil membungkuk di dekat Sabia.
Hari pun berpamitan pada Pak Jovan dan keluar dari ruang galeri dengan sedikit terburu-buru. Ia sudah terlambat untuk ikut briefing pagi bersama Papa dan Kakaknya.
..
..
..
Sementara itu di kantor, Kaisar memilih untuk sibuk dengan pekerjaan agar tak memiliki waktu lebih untuk melamun. Suasana hatinya memburuk sejak semalam. Berpisah dengan Pat dan diacuhkan oleh Sabia membuat pikirannya kacau. Namun begitu, Kaisar tak ingin larut dalam duka, ia ingin membuktikan pada Papanya bahwa ia bisa jadi anak yang berguna dan bisa diandalkan.
"Pak, untuk meeting dengan Mr. Bryan apakah jadi di reschedule?" Diki menyerahkan map yang harus di tandatangani oleh Kaisar.
"Tidak perlu. Teruskan saja."
"Tapi beliau meminta bertemu jam 7 malam nanti, Pak. Bukankah seharusnya Pak Kai sudah berada di rumah?" tanya Diki memastikan.
__ADS_1
Kaisar melirik sekretarisnya itu sekilas. "Tidak apa. Teruskan saja. Aku memiliki banyak waktu luang sekarang!"
Diki mengangguk. "Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada asisten Mr. Bryan."
Sepeninggal Diki dari ruangannya, Kaisar menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong.
Jadi Sabia sedang hobi membuat patung? Mengapa tiba-tiba sekali? Dan bukankah mematung butuh keahlian dan jam terbang tinggi?
Drrrttt ... drttt ....
Kaisar melirik ponselnya yang bergetar dengan suntuk. Tak ada yang ia harapkan untuk menghubungi nomornya.
Mama Asih is calling ...
Deretan nama di layar membuat Kai sontak meraih ponselnya cepat.
"Halo, Ma?" sapa Kaisar sopan.
"Kai, apa Mama mengganggumu?"
"Tidak, Ma. Ini kebetulan lagi santai. Ada apa, Ma?" Kaisar merenggangkan dasinya.
"Begini, minggu depan kan Sabia ulang tahun. Mama berencana untuk membuat pesta surprise kecil-kecilan," beber Bu Darma.
"Kenapa harus kecil-kecilan? Dirayakan besar-besaran aja sekalian, Ma," usul Kaisar.
"Kondisi Sabia belum memungkinkan, Kai. Kasihan kalo nanti dia malah jadi sedih."
Kaisar tercenung. Dialah yang berkontribusi banyak pada keadaan Sabia saat ini.
"Ya sudah, memangnya Mama mau bikin acara seperti apa? Biar nanti semuanya saya yang siapkan."
****************
Menikmati cerita ini? Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Bestie ❤️
__ADS_1