GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Dia Sangat Cantik


__ADS_3

Sejak pertengkaran malam itu, kondisi psikis Sabia semakin drop. Ia tak lagi bersemangat untuk melakukan apapun. Di usianya yang masih belia dan belum bisa berpikir jernih, keinginan Bia hanyalah bisa kabur dari rumah Mahaputra.


"Non, Bibik masuk ya?" Bik Yati berdiri di ambang pintu seraya melongok ke dalam kamar.


Sabia mengangguk. "Masuk saja, Bik!" sahutnya lirih.


Sambil membawa nampan berisi makan siang, Bik Yati berjalan cepat menuju sofa beludru di pojok ruangan.


"Bibik bawa makan siang punya Non Bia, tadi kan Non Bia nggak sarapan. Jadi makan siangnya Bibik bawa ke sini aja!"


Sabia merengut, ia sedang tidak berselera untuk makan. "Bibik aja yang makan, saya nggak laper!"


"Loh, Bibik juga bawa jatah makan siang punya Bibik, nih! Kita makan bareng, Non. Gimana?" usul Bik Yati bersemangat.


Sekali lagi Sabia bersungut dan berdecak, semua penghuni kediaman Mahaputra adalah pemaksa ulung.


Tak mendapat respon penolakan dari Nona mudanya, Bik Yati lantas meraih piring di nampan dan meletakkannya dipangkuan Sabia.


"Mau Bibik suapin?"


Sabia menggeleng cepat. "Katanya tadi Bibik mau makan juga?!"


"Iya dong. Ini piring Bibik dah penuh sana nasi dan sambel. Yuk kita mulai makan, bismillahirohmanirrohim."


Dengan lirih, Sabia pun membaca doa sebelum menyantap makan siangnya.


"Duh, baru kali ini Bibik makan ditemani sama Non Bia. Rasanya berbunga-bunga banget!" Bik Yati berseloroh sambil mengunyah makanannya.


"Bibik lebay! Emangnya kalo makan bareng saya rasa nasinya bisa berubah? Nggak, 'kan!"


"Emang rasa nasinya nggak berubah, Non. Tapi meskipun makan sama tempe berasa makan sama daging seteak kalo bareng Non Bia!"


"Daging apa tadi?" Sabia meletakkan sendoknya.


"Daging seteak, itu loh yang biasanya dimakan di restoran-restoran mahal!"


"Steak, Bik! Hahaha ..." tawa Sabia.


Bik Yati ikut tertawa menyadari kebodohan dan kenorakannya. "Iya, Mas Cef memang bilangnya steak! Tapi Bibik lebih seneng nyebut seteak!"


"Siapa lagi itu Mas Cef?" tanya Sabia bingung.


"Itu loh, Non. Yang tukang masak! Kan namanya Cef!"


"Hahaha ...." Tawa Sabia kembali pecah mendengar kelakar Bik Yati.


Setidaknya ia masih bisa mentertawai kepolosan Bik Yati daripada menertawai kebodohan dirinya atas perlakuan semena-mena Kaisar.

__ADS_1


"Non Bia jangan merengut terus dong! Ketawa gini lebih cantik loh! Bibik tuh ikut sedih kalo lihat Non Bia murung," keluh Bik Yati sendu.


"Masa sih? Tapi Bik Yati masih bisa ketawa-ketawa gitu meskipun saya lagi sedih."


"Ya kan tuntutan profesi, Non. Sebagai orang kepercayaan Nyonya besar masa Bibik harus merengut terus di depan beliau. Kan Bibik harus profesional!"


Sabia kembali tertawa. Profesional, ya? Baiklah, sepertinya Bia harus meniru prinsip Bik Yati mulai hari ini.


"Eh, Tuan Hari! Sejak kapan ada di situ?"


Sabia terkesiap, Hari ada di kamarnya?


"Barusan aja, denger suara tawa Bia bikin saya penasaran, kalian lagi bahas apa'an emangnya!?" Hari membuka lebar pintu kamar Sabia yang tak tertutup sejak tadi.


Bik Yati melirik keki pada Nona Mudanya yang mematung kaku. "Anu, Tuan. Ini barusan bahas seteak sama Non Bia."


"Seteak?"


"Iya, hehe. Ya sudah, Bibik keluar dulu ya, Non. Makan siangnya lanjut di temeni Tuan Hari saja, ya? Permisi."


Belum sempat Sabia bersuara, Bik Yati sudah lebih dulu bangkit dari kursinya dan bergegas pergi sebelum Hari bertanya macam-macam padanya.


Mimik wajah Sabia yang tadi terlihat ceria sontak berubah murung lagi. Hari yang menyadari perubahan itu semakin dibuat penasaran. Semalam sewaktu hendak mengambil minum di dapur, ia sempat melihat Kaisar naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya yang lama. Apakah mereka sedang ada masalah lagi?


"Boleh dilanjut makannya, kasian nasinya di anggurin." Hari mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku dan hening setelah Bik Yati pergi.


Bia tersentak, sedetik sebelumnya ia sempat melamun memikirkan kejadian semalam. Apakah Hari mendengar pertengkaran itu?


"Sok tahu!" sungut Sabia jengkel seraya meraih sendoknya dan kembali melahap makan siangnya.


"Tanya saja sama Dokter Alex kalo tidak percaya." Hari beringsut duduk di sofa dan memerhatikan kakak iparnya makan.


"Kamu pasti lagi liatin aku!"


"Memangnya tidak boleh?"


"Nggak boleh, lah!"


"Siapa yang ngelarang?!"


"Aku! Kaisar juga!" jawab Sabia ketus.


"Oh ya, Kaisar juga melarang? Tapi semalam aku melihat dia justru tidur di kamar atas tuh!"


Deg. Sabia kembali mematung. Jadi Hari melihatnya?


"Apa kamu mendengarnya?"

__ADS_1


"Mendengar apa?" tanya Hari bingung. Sepertinya dugaannya benar tentang pertengkaran itu.


"Ya sudah, lupakan!" Sabia mengibaskan tangannya dan kembali fokus makan.


"Apa kalian berantem lagi? Kenapa kalian berdua seperti Tom dan Jerry?"


"Tanyalah sana sama Kakakmu yang playboy itu!" sela Bia cepat.


Hari mengernyit. "Playboy? Setahuku Kak Kai hanya berhubungan denganmu!"


"Jangan bohong. Aku sudah tahu dia punya perempuan lain sebelum menikah denganku. Aku sudah membuktikannya, Hari!" Sabia kembali emosi mengingat hal itu.


Tak mampu berkata apa-apa lagi, Hari hanya bisa mendesah panjang. Jadi Sabia sudah mengetahuinya?


"Apakah dia cantik?"


"Siapa?"


"Perempuan itu! Siapa lagi!" Sabia benar-benar kehilangan kesabaran.


Hari terkekeh melihat kakak iparnya tersulut emosi. "Ooh, Patricia."


"Tuh, kan! Kamu selama ini pasti sudah tahu tapi sok-sok'an nggak tahu!"


"Aku juga baru tahu, Bia. Belum lama darimu."


"Cih. Bohong! Kalian memang sama. Aku benci laki-laki kaya kalian!"


"Aku tidak sama dengan Kak Kai, aku berbeda dengan dia."


"Apa bedanya? Kalian masih sedarah. Sifat kalian juga sama dinginnya! Hiiii, aku sampe merinding membayangkan wajah kalian pasti sangat mirip!" Sabia bergidik ngeri.


Meski hampir marah karena disamakan dengan kakaknya, namun Hari tersenyum melihat ekspresi Sabia saat bergidik barusan.


"Kamu akan tahu setelah mengenalku lebih lama. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai justru kamu terpesona padaku!"


"Cihh!! Terpesona? Memangnya kamu Indonesia? Sampe aku harus terpesona segala!"


Hari tertawa, menggoda Sabia membawa kepuasan batin tersendiri baginya.


"Jadi dia cantik nggak?! Susah amat jawab ginian doang!" keluh Sabia kembali ke topik.


Hari mengawasi wajah mungil Sabia dan menghembuskan napasnya berat. "Dia cantik, sangat cantik."



******************

__ADS_1


Jadi siapa yang cantik, Hari? Tolong diperjelas! Author cemburu loh ini!! 😒


Bestie, jan lupa jempol cantiknya, ya ❤️


__ADS_2