GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Curhat Tengah Malam


__ADS_3

Hari pertama di rumah keluarga Darma, Kaisar sejak siang membantu ibu mertuanya melipat kotak-kotak kue yang akan digunakan untuk pesanan besok lusa. Mereka berdua menyelesaikan pekerjaan itu menjelang sore sembari mengobrol ke sana ke mari.


Sementara itu, Sabia mengobrol dengan Memey hingga lupa waktu dan Ayah Darma membersihkan halaman dan tanaman-tanamannya.


Malam saat semua sudah tidur, Kaisar tak sekalipun bisa memejamkan mata. Mereka akan memberi tahu tentang berita kehamilan Sabia besok saat sarapan karena Bia tak ingin Ayah dan Mamanya nanti menyebarkan berita bahagia ini ke para tetangga. Bila itu terjadi, pasti tetangga sekitar akan beramai-ramai datang memberi selamat padanya, dan Bia tak suka kehebohan. Kaisar menoleh pada Sabia yang sudah terpejam sejak satu jam yang lalu, entah mengapa justru Kaisar yang tak bisa sekalipun menutup mata.


Karena bosan, Kaisar memutuskan untuk keluar dari kamar serba pink itu dan duduk bersantai di taman dekat ayunan. Ingin sekali rasanya Kaisar menghisap batang tembakaunya, apa daya Sabia sedang hamil dan Kai tak ingin membawa bau asap di tubuhnya. Akhirnya Kaisar memilih duduk merenung sembari menatap ke atas langit. Kerlap-kerlip bintang yang bertaburan di atas sana membuat Kaisar senyum lirih. Mungkinkah mendiang Mamanya menjelma menjadi salah satu bintang itu dan mengawasinya dari atas sana?


"Belum tidur, Kai?"


Sebuah suara bariton membuat Kaisar sontak menoleh kaget. Pak Darma sudah berdiri di sampingnya sembari bersedekap.


"Belum, Yah. Ayah sendiri kenapa belum tidur?"


Pak Darma menghela napas panjang dan duduk di samping menantunya. "Belum mengantuk. Kamu nggak capek seharian ini membantu Mama ngelipat kotak? Harusnya kamu istirahat sana!" perintah Pak Darma lugas.


Kaisar tersenyum dan menggeleng. "Tidak capek kok, Yah. Jangankan melipat dua ratus kotak, seribu kotak pun saya jabanin!"


Pak Darma terkekeh, ia menghembuskan napas berat dan mendongah ke atas langit.


"Kamu belum menjawab pertanyaan terakhir Ayah sewaktu di Rumah Sakit, Kai."


Deg.


Kaisar menunduk keki. Benar, saat itu ia tak sempat menjawab karena tiba-tiba dokter datang untuk memeriksa keadaan Sabia.


"Ternyata Ayah masih inget ..." gumam Kaisar lirih.


"Tentu saja! Ayah sangat penasaran dengan jawabanmu. Pernikahan kalian terjadi dalam waktu yang sangat singkat, bahkan kalian tak saling mengenal satu sama lain. Tidak salah kan kalo sekarang Ayah bertanya tentang perasaanmu pada putri kesayangan Ayah?"


"Tidak salah kok, Yah. Ayah sudah melakukan hal yang benar."

__ADS_1


"Lalu jawabanmu?" sela Pak Darma memaksa.


Untuk beberapa saat, Kaisar menghirup oksigen sebanyak-banyaknya hingga seluruh rongga dadanya terisi udara. "Saya mencintai Bia, Yah. Saya sangat mencintai Sabia. Untuk itulah saya rela memberikan apapun yang dia mau, saya akan membahagiakan dia dengan cara apapun."


Senyum lebar tersungging di wajah Pak Darma, ia menepuk bahu menantunya dengan puas.


"Sekarang Ayah lega, Kai. Jagalah Bia dengan baik. Kamu tahu dengan benar bila Sabia adalah permata hati kami, sekali saja kamu membuatnya sakit hati, maka kamu akan berurusan dengan Ayah!"


Kaisar mengangguk paham, ia akan mengingat pesan Ayah mertuanya ini seumur hidup.


"Ayah ingin Sabia dicintai oleh lelaki yang tepat, lelaki yang bisa menjaganya, yang membahagiakan dia. Seperti Ayah mencintai Mamanya. Sejak dulu sampai hari ini, Ayah selalu menjadikan Mama Asih satu-satunya wanita di hati."


"Ayah dan Mama berapa tahun pacaran?" tanya Kaisar mulai kepo. Ia penasaran bagaimana kisah mertuanya semasa muda dulu.


Pak Darma terkekeh sejenak, ia menerawang sembari menatap ke atas langit.


"Ayah nggak pacaran dengan Mamanya Sabia. Kami dulu dijodohkan. Usia kami terpaut cukup jauh, sekitar 10 tahun lebih!"


"Yaaa, karena itulah kadang Ayah berpikir kalian mirip dengan kami." Pak Darma kembali terkekeh. Ia bersandar di bangku taman buatannya sendiri.


"Dulu Mamanya Bia masih SMA waktu dijodohkan dengan Ayah. Semasa dia masih seneng-senengnya main, malah harus nikah sama guru honor yang gajinya nggak seberapa."


"Apa dulu mama sudah mencintai Ayah sewaktu kalian menikah?"


"Hmm, siapa bilang! Mamanya Bia tuh judesnya minta ampun, lemot pula. Kami baru saling mencintai setelah setahun pernikahan, itupun karena Ayah kecelakaan. Di sana Mamanya Bia mulai sadar dan nggak mau kehilangan Ayah, hahaha ..." tawa Pak Darma menggelegar.


Kaisar ikut tertawa mendengar kisah mertuanya. Dia seperti berkaca, karena kisahnya dan Bia juga menikah karena terpaksa.


"Bia lahir setelah kami menikah 3 tahun. Itupun selama hamil Bia, Mamanya selalu saja cari gara-gara. Ngidamnya aneh-aneh, kalo nggak dituruti nangis! Untungnya Ayah cinta, jadi sesulit apapun Ayah jabanin demi mereka berdua!" Tatapan Pak Darma berubah sendu.


"Sejak Bia lahir, rejeki kami semakin lancar. Mamamu yang memang hobi bikin kue mulai ada pesanan sedikit demi sedikit, Ayah diterima menjadi PNS dan akhirnya bisa beli rumah ini meski nyicil!"

__ADS_1


Kaisar melirik Pak Darma yang menarik napasnya dalam. "Pantas saja mama menolak pas saya tawarin untuk pindah ke rumah yang lebih besar. Ternyata rumah ini punya sejarah."


"Hahaha ... benarkah? Padahal kalo lagi ngomel, Mamamu selalu saja bilang pengen pindah ke rumah yang gede dan jauh dari tetangga yang usil!"


"Iya, benar, Yah! Saya pernah nawarin sama mama beberapa bulan yang lalu, tapi mama malah nyuruh saya belikan rumah buat Bia!"


Pak Darma menepuk pundak Kaisar dua kali. "Tapi mama benar, Kaisar. Kalian harus memiliki rumah tinggal sendiri agar bisa semakin dekat. Ayah perhatikan, Sabia masih menjaga jarak denganmu!"


Kaisar tersenyum kecut, bukan hanya menjaga jarak, Sabia juga menutup pintu hatinya rapat-rapat. "Saya sudah berencana untuk memboyong Bia ke apartemen, Yah. Doakan saja semoga bisa segera terlaksana."


"Amin. Ayah selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Bertahanlah sedikit lagi, Kai. Sabia anak yang baik dan penurut, dia pasti akan mencintaimu pelan-pelan suatu hari nanti."


Kaisar mengangguk lemah, ia akan menunggu hingga kapanpun.


"Kamu lihat ayunan itu?" Pak Darma menunjuk ayunan di sisi halaman yang lain.


Kaisar mengangguk lagi. Sebuah ayunan sederhana yang hanya ditopang oleh dua batang kayu.


"Usianya sama seperti Bia. Tapi anehnya kayunya nggak pernah lapuk. Ayah juga heran!" sambung Pak Darma tertawa. "Ajaib sekali ayunan itu, semoga dia tetap kuat hingga Sabia punya anak dan bermain di sana juga seperti mamanya!"


Kaisar tersenyum tipis, dalam waktu beberapa bulan lagi, Bia pasti bisa bermain di ayunan itu dengan buah hatinya.


"Kelak bila kalian punya anak, jangan terlalu melimpahinya dengan kemewahan meskipun kamu bisa melakukannya, Kai. Tetap ajarkan dia untuk hidup sederhana. Besarkan dia dengan kasih sayang yang utuh."


Wejangan dari Pak Darma membuat Kaisar terhenyak. Hatinya seperti dicubit, kenyataan bila ia akan berpisah setelah bayi itu lahir kembali membuatnya sesak. Mungkin ia bisa mengajarkan untuk hidup sederhana, tapi ia tak akan bisa memberi keluarga yang utuh untuk anaknya.


"Kenapa diam? Kamu ngantuk?" seloroh Pak Darma terkekeh.


"Tidak, Ayah. Saya tidak ngantuk. Saya suka mengobrol seperti ini dengan Ayah," elak Kaisar cepat. "Keluarga ini membuat saya bisa merasakan memiliki keluarga yang hangat dan utuh. Saya merasa sangat spesial di antara Ayah dan Mama. Sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan di rumah saya sendiri."


************************

__ADS_1


__ADS_2