
Hampir sebulan sudah usia pernikahan Kaisar dan Sabia. Tak ada kemajuan yang berarti pada hubungan keduanya. Kaisar kerap pulang larut malam setelah Sabia tidur dan kadang berangkat sebelum gadis itu bangun.
Pernah suatu hari Sabia bangun lebih dulu, namun Kaisar malah pergi di saat ia sedang mandi. Weekend pun demikian, Kai sibuk dengan dunianya sendiri entah itu golf atau berkuda. Mengobrol dengan Kaisar adalah kegiatan yang mononton, Sabia benci tiap kali keheningan selalu menyeruak di antara keduanya tiap kali bersama.
Kesal? Tentu saja, tapi ini adalah konsekuensi atas pilihan yang sudah Bia putuskan. Pangeran negeri dongengnya masih berwujud penyihir, ia harus bersabar menunggu hatinya melunak, entah kapan. Setidaknya Kaisar sudah mau pulang setiap hari dan tidur di kamar yang sama dengannya. Hal itu sudah cukup membuat Sabia bahagia.
Setiap pagi, terkadang Kaisar ikut sarapan bersama sesekali. Hanya untuk pencitraan pada Syailendra agar seolah-olah ia sudah berperan menjadi suami yang baik bagi Sabia. Padahal tanpa gadis itu ketahui, Kaisar selalu lebih dulu pulang ke apartemen Patricia sebelum pulang ke rumah megah Mahaputra. Makan malam, bermesraan dan bercumbu hingga tiba waktunya ia pulang ke neraka dunia.
Seperti misalnya pagi ini, Kaisar ikut sarapan saat Syailendra berada di meja yang sama. Nasi goreng sosis favorit Sabia sudah tersaji di depannya, sementara keluarga yang lain menyantap roti dan salad.
Sejak Kaisar duduk, tatapan tajam dan dingin Hariandi mulai mengusik ketenangannya. Tak biasanya adiknya itu menatapnya demikian. Meskipun selama ini interaksi keduanya tak cukup baik, namun Hari tak pernah menatap Kai seperti penjahat.
"Apa ada masalah, Hari?" Kaisar bertanya dengan suara sok bersahabat.
Semua mata sontak menoleh pada Hariandi, kecuali Sabia yang mematung tanpa ekspresi. Hari selalu duduk di samping Mira, tepat di hadapan Sabia. Sementara Kaisar berada di sisi kanan, tepat di samping istrinya.
Hari menggeleng, ia melanjutkan sarapannya tanpa berkata apa-apa lagi.
"Tatapanmu aneh sekali hari ini, apa aku dan Bia mengganggu ketenanganmu?"
"Tidak, Kak. Santai saja," sela Hari berusaha menutupi.
Syailendra memperhatikan tingkah kedua putranya yang tak pernah bisa akrab. Ia sendiri heran, di mana kesalahan yang sudah ia perbuat hingga Kaisar selalu saja berulah dan membangkang. Bukankan dulu dia adalah anak yang sangat penurut?
"Apa hari ini Papa ke kantor?" tanya Kaisar mengalihkan topik. Ia masih penasaran pada tingkah aneh Hari tapi baiknya ia akan bertanya tentang hal itu nanti saja di kantor.
"Sepertinya begitu. Ada beberapa hal yang harus Papa cek terkait pekerjaanmu dan Hari."
Kaisar mengangguk, ia akan menahan diri sampai tiba di kantor. Semoga saja ia bertemu Hari lagi dan bisa melabraknya.
Sabia yang merasa ada yang tidak beres dengan sikap Hari pun mulai dibuat penasaran. Memang sejak kemarin ia tak sempat mengobrol banyak dengan adik yang umurnya justru terpaut jauh di atas Bia. Padahal biasanya Hari sangat terbuka padanya. Apa mungkin Hari sedang ada masalah??
__ADS_1
..
..
Di kantor, saat meeting dengan semua direksi, tatapan Hari masih mengganggu konsentrasi Kaisar. Sejenis tatapan ingin membunuh dan menguliti seluruh tubuh Kai.
"Apa kau melihat keanehan padanya?" Kaisar memberi kode pada Diki agar memperhatikan Hari sambil berbisik dan meminta Sekretarisnya itu membungkuk.
Diki melihat ke arah Hari. Merasa sedang diawasi, Hari tersenyum kecut dan berpaling.
"Apa anda berulah lagi, Pak?" Diki menoleh pada atasannya.
Kaisar melotot, memangnya dia gangster! Kenapa semua orang menganggapnya suka membuat onar!!
Diki sontak menunduk takut dan kembali mundur. Ia stand by berdiri di belakang Kaisar selama rapat berlangsung. Hampir saja ia mengusik si singa jantan! Kenapa keluarga Mahaputra selalu menyeramkan saat sedang marah??
Rapat yang berlangsung selama dua jam terasa berjalan sangat lambat bagi Kaisar. Ia sungguh penasaran pada Hari, ingin rasanya memberi sedikit jotosan kecil di pipinya sebagai kenang-kenangan agar tak bertingkah aneh lagi. Apakah Hari mengetahui hubungannya dengan Pat?? Tidak, tidak, bukankah hanya Papanya saja yang mencurigai hubungan mereka? Tidak mungkin Papanya ember dan menceritakan aibnya pada Hari, bukan?
Berbagai pertanyaan di benak Kai membuatnya frustasi dan tak bisa menyimak rapat dengan baik. Sumpah, ingin rasanya ia menco-lok tatapan dingin itu!!
Saat dirasa Hari sudah tiba di ruangannya, Kaisar berdiri dan lekas berjalan menyusul ke sana. Bertengkar di depan karyawannya tidak asyik, nantinya ia akan menjadi pihak yang salah di mata mereka, hanya karena penampilan Kai yang nampak lebih sangar dibanding Hari.
Brak.
Kaisar membanting pintu ruangan Hari dengan emosi yang tak bisa lagi ditahan. Sejak pagi hingga siang ia sudah menahan diri dengan tingkah aneh adiknya ini. Diki yang hampir saja membentur pintu itu akhirnya memilih untuk menunggu atasannya di luar. Tak berapa lama, Suzan, Sekretaris Hari, keluar juga dari dalam ruangan dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa, Kak?" tanya Hari seraya menutup map dan meletakkan bolpoin di tangannya.
Kaisar melangkah mendekati meja kerja Hari, ruangan ini sama besarnya dengan ruangan kerja miliknya.
"Bisa kamu jelaskan kenapa sejak pagi kamu menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Menatap yang bagaimana? Memangnya ada yang salah dengan tatapanku?" sela Hari acuh, rupanya rasa bencinya pada Kaisar nampak melalui sorot matanya.
Brak.
Kaisar menggebrak meja Hari hingga membuat adiknya itu sontak terkejut.
"Bila ada masalah, katakan padaku, Hari! Jangan bertingkah sok polos seperti gadis buta itu!!"
"Gadis buta itu istrimu, Kak!"
"Bulshit! Aku menikah dengannya hanya untuk menyelamatkan dia dari rasa malu karena cacat! Setelah dia bisa melihat lagi, kami akan bercerai." Kaisar menatap tajam pada Hari. Menelisik setiap perubahan ekspresi adiknya itu dengan geram. "Atau kamu mau menggantikanku? Bukankah kalian sangat akrab? Dan sepertinya kamu juga sering berduaan dengannya di kamarku."
"Tidak pernah! Jangan membuat fitnah! Aku dan Bia selalu mengobrol di halaman belakang. Tidak pernah sembunyi-sembunyi apalagi di kamar kalian!" elak Hari kesal.
"Siapa yang peduli? Aku tidak peduli meskipun kamu mau mengobrol di hotel sekalipun dengannya!"
"Perlakukan dia dengan baik, Kak. Sabia bahkan sudah mengorbankan masa depannya demi menikah denganmu!"
"Lalu aku harus bilang Wow, gitu? Keren sekali, aku terharu, begitu?? Hahaha ...." Kaisar tertawa keras mendengar perkataannya sendiri yang menggelikan.
Hari sudah dalam posisi siaga berdiri tak jauh dari Kaisar. Semakin Kaisar menghina Sabia, entah mengapa justru dia semakin terluka. Padahal jelas-jelas Kaisarlah suami gadis itu!
"Oh iya, kamu ulang tahun ‘kan bulan lalu? Bagaimana kalo aku memberimu hadiah?" Kaisar mempunyai ide cemerlang.
Hari membuang muka jengah, sudah sebulan berlalu dan Kakaknya baru ingat! Shittt!
"Aku memberikan Sabia sebagai kado ulang tahunmu! Bagaimana? Aku baik hati, bukan?? Hahaha ..." tawa Kaisar pecah lagi, melihat ekspresi Hari yang suram membuatnya bahagia.
Hari tak menyahut, ada rasa sakit yang tiba-tiba ia rasakan saat Kaisar mengucapkan kalimat tadi. Apakah Sabia hanya dianggap sebagai barang tak berharga?? Serendah itu Kaisar menilai istri yang sudah ia celakai.
"Baiklah. Aku terima hadiah darimu, Kak. Aku harap kamu tidak menyesali apa yang sudah kamu buang hari ini!"
__ADS_1
*************
Yuk, jangan lupa klik ❤️ dan jempolnya agar author semakin semangat update!