
Usai nyalon, nonton dan makan malam, Sabia, Hari dan Mira pulang saat jam sudah menunjuk angka 9. Bia benar-benar terhibur seharian ini, Mira dan Hari memanjakannya seperti bagian keluarga mereka sendiri.
"Minggu depan kita jadwalkan nonton film lagi," usul Hari saat mobilnya telah masuk ke halaman rumah megah Mahaputra.
"Boleh! Tapi kita nonton film romance aja ya, aku nggak suka nonton film action kaya tadi. Udah nggak bisa lihat, masih ngerasa berisik sama bunyi tembak-tembakannya!" keluh Bia memprotes.
Mira tertawa di kursi belakang. "Iya nih, Hari. Berasa kita nemenin Hari nonton, Mama juga tidak suka nonton film action tadi."
Hari memicingkan mata saat melihat mobil Diki terparkir di carport. Tumben?
Usai mematikan mesin mobil, Mira lebih dulu turun lantas beralih membantu Bia.
Diki yang telah menunggu sejak sore, sontak menghampiri bos kecilnya.
"Ada apa, Mas Diki?" tanya Hari heran.
"Saya diperintah oleh Pak Kai untuk menjemput Mbak Sabia," jelas Diki sopan.
"Menjemput? Ke mana?" selidik Hari penasaran.
Diki tersenyum kikuk, tak mungkin ia menjelaskan bila Kaisar menyuruhnya membawa Bia ke penthouse.
"Pak Kai sudah berada di rumah keluarga Darma sejak siang."
Hari mengernyit, ia melirik Sabia yang terdiam tanpa ekspresi.
"Kamu mau ke sana?" tanya Hari kemudian.
"Ke mana?" Bia balik bertanya.
__ADS_1
"Ke rumah orang tuamu. Kak Kai menunggumu di sana."
Bia mengernyit juga, tumben?
"Apa yang Kaisar lakukan di rumahku?" tanyanya pada Diki.
"Mmmm, untuk itu biar Pak Kai sendiri yang menjelaskan. Bukan kuasa saya untuk membocorkan." Diki menolak untuk berkata jujur.
Merasa aneh, Hari tak serta merta membiarkan Sabia ikut. Ia mengeluarkan ponselnya yang tadi sempat ketinggalan di mobil saat jalan-jalan ke mall. Melihat ada 10 panggilan tak terjawab dari Kaisar, Hari mulai curiga. Ia menghubungi nomor itu dengan sigap. Terdengar nada sambung.
"Halo!" sapa suara Kaisar dingin.
"Halo, Kak. Maaf tadi ponselku ketinggalan di mobil. Apa benar Diki kemari untuk menjemput Kak Bia?" cecar Hari.
"Iya. Aku sudah menyuruh Diki menjemputnya sejak 6 jam yang lalu."
"Ini sudah malam, sudah jam 9 lewat, apa kamu yakin masih akan membawa Bia ke rumah orang tuanya?"
Hari menghembuskan napasnya berat. Ia menoleh pada Sabia yang masih diam terpaku.
"Pergilah bersama Mas Diki. Kak Kai sudah menunggumu."
"Kamu nggak ikut?" tanya Bia khawatir.
"Tidak. Pergilah. Sampaikan salamku pada Om dan Tante," tolak Hari.
Bia mengangguk, Mira melepas genggamannya pada Sabia dan mundur selangkah.
"Hati-hati, Bia. Salam juga untuk Mama dan Ayahmu, ya?"
__ADS_1
"Iya, Ma. Bia pergi dulu, ya. By the way, terima kasih banyak untuk hari ini." Sabia tersenyum riang dengan mata berbinar.
Hari dan Mira membalas senyuman itu sebelum kemudian Diki mempersilahkan Sabia untuk ikut dengannya.
..
..
Di sebuah Penthouse dua lantai, lengkap dengan skyview dan cityview, Kaisar keluar dari lift privat dengan wajah tegang. Penthouse ini ia beli dua tahun yang lalu, tidak ada yang mengetahuinya selain Diki, bahkan Patricia sekalipun. Hanya sesekali Kaisar kemari bila sedang suntuk di rumah dan bertengkar dengan Pat. Ia akan menyendiri di sini sampai perasaannya membaik.
Dengan derap langkah lebar, Kaisar merengangkan dasinya dan meletakkan box cake buatannya di meja makan. Napasnya masih terasa sesak bila mengingat semua pengorbanannya hari ini jadi sia-sia. Berjam-jam ia menunggu Sabia yang ternyata justru keluar berduaan dengan Hari. Dasar gadis murahan! Bahkan Hari yang merupakan adiknya juga diembat, betapa memalukan!
Suasana penthouse yang temaram dan hanya disinari oleh bias cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela kaca membuat hati Kaisar semakin sendu. Ia menatap jauh ke luar jendela, pemandangan lampu-lampu kota di malam hari membuatnya semakin merasa kesepian di antara hiruk pikuknya keramaian. Ada ruang kosong di bilik hatinya yang tak pernah bisa terisi oleh siapapun.
Kenyataan bila Papanya dulu menikah dengan Mira karena wanita itu adalah mantan kekasih papanya semasa kuliah di Jepang membuat Kaisar terpuruk. Terlebih setelah ia tahu bila Papanya menikah dengan mendiang Mama kandungnya karena perjodohan, Kaisar semakin hancur. Jadi selama ini ia terlahir bukan karena cinta, ia terlahir hanya karena sebuah keterpaksaan di antara kedua orang tuanya.
Kaisar tersenyum kecut. Betapa hidup telah tidak adil pada dirinya. Terlahir tanpa cinta, ditinggal wafat oleh Mamanya, lantas memiliki Ibu sambung yang merupakan wanita dari masa lalu Papanya.
Drrttt ... drtttt ...
Ponsel di saku celana Kaisar bergetar dengan intens. Ia merogoh benda pipih itu dan membaca nama yang muncul di layar.
Diki is calling ...
"Ya, Dik?"
"Pak, saya sudah sampai."
Senyuman Kaisar tersungging licik. "Oke, bawa dia masuk."
__ADS_1
*****************
TBL TBL TBL 🫣