
Bila ada kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang lebih buruk dari kata hancur lebur, mungkin kata itu adalah perasaan yang Sabia rasakan saat ini. Ia lebih dari sekedar hancur, ia lebih dari sekedar terpuruk, bahkan mungkin mati tidak cukup untuk membuatnya merasa lebih baik. Begitu menutup pintu kamar, kepalanya terasa berat dan Bia roboh begitu saja.
Pak Darma sontak membopong putrinya setelah Bu Darma dan Memey berteriak minta tolong. Tubuh Bia yang mungil terasa semakin ringan. Seisi rumah seketika panik bukan kepalang.
Sementara itu di luar, Kaisar masih terdiam mematung tak sanggup bergerak. Hatinya sakit, ditolak saat sedang cinta-cintanya ternyata sangat menyakitkan. Dunia Kaisar seolah kelam seketika setelah Sabia mengatakan bila gadis itu jijik padanya. Sesakit ini ternyata rasanya dibuang dan tak berharga.
Di bawah guyuran hujan yang semakin deras, Kaisar masih mematung menatap pintu rumah itu. Berharap seseorang membukakan pintu dan memintanya masuk ke dalam, namun nyatanya hingga tubuhnya gemetar menahan dingin tak ada siapapun yang datang. Pada akhirnya Kaisar menyerah, ia memilih untuk pulang. Sepertinya pintu itu sudah tertutup rapat dan tak akan terbuka lagi untuk manusia menjijikkan seperti dirinya.
Memey yang menyaksikan kepergian Kaisar yang basah kuyup di tengah hujan hanya bisa menatapnya iba. Sabia sudah menemukan lelaki yang sangat mencintainya, hanya saja cobaan mereka berdua begitu berat untuk dijalani.
"Apa Kaisar masih belum pergi?" tanya Pak Darma mengagetkan Memey yang sedang mengintip dari celah gorden.
"Baru saja pulang, Om. Apa nggak sebaiknya kita membiarkan Kaisar masuk? Sepertinya Sabia membutuhkan dia."
Pak Darma menggeleng, Sabia sudah memilih untuk pergi dari Kaisar dan itu berarti segalanya sudah berakhir bagi mereka berdua.
"Biarkan mereka saling introspeksi dulu. Mereka butuh waktu untuk merenung," pungkas Pak Darma bijak. "Bia sudah bangun tuh, kamu temani dia, gih! Rayu dia agar mau makan meskipun sedikit."
Memey mengangguk. "Baik, Om," jawabnya seraya berbalik dan melangkah menuju kamar Sabia.
Di dalam kamar serba pink beraroma strawberry, Bia tergeletak lemah di ranjang sembari menatap kosong ke langit-langit kamar. Semua sudah berakhir, bukan? Dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri jadi seharusnya tak ada yang perlu disesali.
"Bia, gue nginep di sini ya malam ini?" Memey menghampiri ranjang sahabatnya dan duduk di pinggiran tempat tidur itu.
Bia tak menyahut, bibirnya masih kelu dan terasa berat untuk merespon. Ia hanya mengangguk lemah dan berbalik memunggungi Memey.
"Lu cinta banget sama si Kaisar itu, ya?" selidik Memey curiga.
Hening.
"Kalo lu cinta sama dia, harusnya lu percaya sama dia. Dengerin hati kecil lu, Bia."
Masih hening, Sabia tak merespon.
__ADS_1
"Tadinya gue pikir, cinta yang lu rasakan ini cuma cinta monyet yang salah. Apalagi suami lu playboy! Tapi setelah ngeliat kalian berdua sama-sama tersakiti kaya gini, mungkin ada baiknya salah satu mau mengalah dan memaafkan."
"Sok bijak lu!" sindir Bia terkekeh di antara isak tangisnya yang mulai menetes.
"Gue cuma nggak mau, anak lu kelak bernasib buruk kaya gue, Bia." Memey menunduk sedih. Hidup tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap itu menyakitkan.
"Justru karena gue sayang sama anak gue, Mey. Gue nggak pengin dia punya Papa kaya Kaisar!"
"Darimana lu tau anak lu nggak mau punya Papa kaya dia? Setiap orang punya hak untuk mendapatkan kesempatan kedua, Bia. Jangan terlalu kolot!"
Bia berbalik, dia menyeka air matanya dengan kesal. "Kenapa sekarang lu jadi belain dia? Bukannya tadi pagi lu masih benci banget sama dia?!"
"Gue cuma melihat dari sudut pandang anak yang nggak memiliki orang tua, Bia. Gue nggak membela siapapun. Cuma mungkin ada baiknya kalian mengobrol lagi saat kepala kalian sudah sama-sama dingin. Dua minggu lagi, mungkin??"
"Nggak! Gue nggak mau lagi ketemu sama dia! Penghianat pantasnya sama penghianat juga."
"Darimana lu yakin kalo dia berhianat?"
Sabia berdecak kesal. Kenapa Memey jadi berubah sikap begini, sih!?
"Gue nggak belain. Gue kan udah bilang tadi, gue cuma melihat dari sisi anak. Kalo gue jadi lu, gue akan mencari tahu kebenarannya dari dua sisi. Kaya yang dulu pernah lu lakuin pas nyuruh gue mata-matain dia!"
Bia termenung. Memey benar juga. Tapi bagaimana caranya mencari info itu?
"Sayangnya sekarang berita itu udah lenyap dari media. Kayanya keluarga Kaisar marah besar. Gue aja selisih satu jam udah nggak bisa akses berita itu lagi. Cuma Ayah lu yang sempet lihat foto-foto itu karena dia pas lagi online!"
"Emang fotonya kaya gimana sih, Mey?" Bia mulai penasaran.
"Kalo kata Om Darma sih, foto ciuman gitu sama pelukan. Mereka sama-sama telanjang cuma sebatas dada aja. Ada keterangan tanggalnya juga di foto itu."
"Tanggal berapa emang?"
"Sekitar seminggu yang lalu lah!"
__ADS_1
Bia berpikir sejenak. Seminggu yang lalu adalah saat ia menginap di rumah ini bersama Kaisar. Pantas saja Ayahnya marah bukan kepalang saat di rumah Kaisar, dia pasti merasa sangat terhianati.
"Lu mau gue bergerak nyari info, nggak? Kali aja lu masih yakin dia nggak bersalah."
Bia menggeleng lemah.
"Mau cari info bagaimanapun, dia tetap salah karena sudah tidur dengan perempuan itu di belakang gue, Mey. Itu yang nggak bisa gue tolerir!"
"Kalo dia dijebak gimana?" selidik Memey keukeh.
Bia kembali menggeleng. "Mau dijebak atau apapun, intinya dia sudah tidur dengan perempuan itu."
Memey menghembuskan napasnya panjang. Susah sekali meruntuhkan ego dan pemikiran Sabia.
"Ya sudah lah, terserah lu aja. Yang menjalani hubungan itu kan kalian berdua. Gue sebagai sahabat cuma bisa mendukung lu dan menyadarkan lu!"
Senyum Sabia tersungging lirih, senyum pertama yang Memey lihat di hari yang kelam ini.
"Gue tahu lu kuat, Bia!"
"Makasi ya, Mey. Gue bersyukur banget punya kalian."
"Iyalah! Lu harus bersyukur punya sahabat sebaik, setulus, segentle dan sekeren gue!"
Kepedean Memey membuat Sabia sekilas teringat pada Kaisar. Ia kembali tersenyum pahit.
"Makan yuk, Bia! Gue laper! Tante kayanya masak enak banget deh hari ini. Lu nggak laper emangnya seharian nggak makan?"
Bia mengelus perutnya yang rata dengan lemah. "Yaudah, yuk makan!"
**************************
Hai, Bestie!
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk support like, komen dan vote dari kalian.
Happy weekend!