
Sementara itu di kediaman Mahaputra, Sabia menunggu kedatangan Kaisar sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Sesekali Bia ikut berdendang saat lagu yang ia sukai diputar. Ia sudah makan malam sejak satu jam yang lalu, beberapa baju gantinya dan Kaisar juga sudah ia siapkan sejak sore.
Lagu "A Whole New World" yang melantun nyaring tiba-tiba terhenti, ada panggilan masuk di ponsel Sabia.
"Mama telefon. Mama telefon!"
Bia lekas meraih ponsel yang ia letakkan di meja nakas dan memencet tombol kecil untuk mengangkat telefon itu.
"Halo, Ma?"
"Bia, apa kalian jadi menginap?" cerocos Bu Darma begitu Bia mengangkat telefon darinya.
"Iya jadi, Ma. Bia masih nunggu Kaisar pulang, sepertinya dia masih ada meeting."
"Tapi ini sudah jam 9 malam loh, Nak. Apa nggak besok pagi aja kalian kemari?"
Bia merenung sesaat, benarkah sudah jam 9 malam? Ia pikir ini masih jam 7 ...
"Iya deh, Ma. Biar besok pagi aja kami berangkat," putus Bia pasrah.
"Baiklah. Sarapan di sini ya besok! Mama akan masakin nasi goreng sosis kesukaanmu dan pecek terong kesukaan menantu Mama!"
Sabia terkekeh. "Itu semua makanan favoritku loh, Ma!"
"Tapi sekarang Mama punya dua anak, jadi biar adil akan Mama masakin kesukaan keduanya!"
"Ya sudahlah terserah Mama saja. Ayah ke mana, Ma?"
"Tau tuh! Ayahmu daritadi nungguin Kaisar di ayunan depan. Biar Mama panggil deh kalo kalian ke sininya besok pagi. Kamu tidurlah, Bia! Jangan tidur malam-malam!"
Bia tersenyum lirih mendengar perhatian dari mamanya. "Iya, Ma. Bentar lagi Bia tidur!"
__ADS_1
"Oke, sampai ketemu besok, Nak!"
"Bye, Ma!"
Bia meletakkan kembali ponselnya di meja nakas setelah ia mematikan MP3-nya. Perlahan ia pun mulai berebah. Tumben Kaisar pulang larut malam? Setelah sekian lama ia selalu pulang tepat waktu, saat pulang malam seperti ini entah mengapa malah membuat Sabia khawatir. Ia jadi teringat pada kebiasaan buruk Kaisar dulu.
"Aku berjanji, Bia. Aku akan memutuskan Patricia dan fokus pada perkembangan anak kita. Aku tidak mau kamu selalu berpikiran yang buruk tentangku."
Deg.
Ucapan Kaisar kemarin tiba-tiba melintas di ingatan Sabia. Apakah Kai menemui kekasihnya itu malam ini? Dia bilang akan memutuskan Patricia secepatnya.
Sabia menyentuh dadanya yang terasa nyeri tiap kali teringat pada hubungan Kaisar dan Patricia. Semoga saja ia salah, semoga Kaisar telat pulang karena meeting, bukan karena menemui perempuan itu!
Tanpa sadar Sabia menyentuh perutnya yang sejak kemarin sama sekali tak ia gubris. Ada sesuatu di dalam sini yang menyatukannya dan Kaisar. Yang membuat keduanya semakin terikat dan tak bisa berpaling lagi satu sama lain. Bia masih tak siap, ia masih takut untuk menjadi seorang ibu.
"Apakah kamu bisa mendengarku, Makhluk Kecil?" lirih Sabia sembari mengelus perutnya yang masih rata. "Bila kamu bisa mendengarku, apakah kamu juga bisa merasakan sentuhanku?" timpal Sabia.
..
..
Dingin, Kaisar membuka mata tepat di saat tubuhnya menggigil karena suhu yang menusuk tulang. Untuk sesaat ia mencerna suasana di sekitarnya yang temaram, hal yang pertama ia perhatikan adalah lampu di meja nakas yang nampak berbeda dengan yang biasa ia lihat di kamarnya.
Kaisar berbalik, namun sedetik kemudian ia tersentak. Ia tak mengenakan apapun! Ia sedang telanjangg bulat! Pantas saja ia kedinginan dan mengigil!
Dengan jantung berdebar keras, Kaisar melirik wanita yang sedang tidur memunggunginya. Dari rambutnya yang tergerai indah dan bentuk tubuh yang sintal berisi, Kaisar sadar bila ia sudah membuat kesalahan besar yang tak bisa ditolerir lagi.
Bayangan wajah Sabia sontak melintas dan membuat mata Kaisar terasa perih, setetes air mata lolos namun dengan cepat ia menyekanya. Patricia keparattt! Ia sengaja menjebak Kaisar dengan minuman itu agar mereka bisa bercinnta malam ini.
Malam?
__ADS_1
Kaisar meraih jam tangannya yang tergeletak di meja nakas, jam 11 malam.
Sialll! Dia sudah berjanji pada Sabia akan membawanya menginap di rumah keluarganya. Kaisar mendengus kesal, ia turun dari ranjang dan bergegas memungut pakaiannya yang berceceran di lantai. Dengan tangan gemetaran, Kaisar memasang kancing kemejanya terburu-buru.
Patricia yang mendengar suara berisik pun mulai terusik, ia membuka mata dan terbelalak kaget saat melihat Kaisar sudah mengenakan separuh pakaiannya. Ia beringsut duduk dan mengawasi Kaisar penuh benci.
"Aku bersumpah akan membuat hidupmu sengsara begitu keluar dari apartemen ini, Kai!" rutuk Pat murka.
Kaisar menatapnya sesaat, namun detik berikutnya ia fokus mengenakan pakaiannya kembali.
"Aku juga bersumpah akan membalasnya bila sampai kamu berani mengusik keluargaku, Pat!" rutuk Kaisar tak kalah murka.
Patricia tersenyum kecut. "Kamu mencintai gadis buta itu, bukan? Berkali-kali kamu menyebut nama gadis menjijikkan itu saat kita bercinta dengan sangat liar tadi."
"Ya. Aku mencintainya. Karena itulah aku memutuskan hubunganku denganmu, Pat! Karena aku tahu, Sabia jauh lebih berharga dibanding wanita sepertimu!" ungkap Kaisar jujur.
Ia telah mengenakan semua pakaiannya, kini Kaisar mendekat ke ranjang dan menatap Patricia dengan tajam.
"Dengarkan aku baik-baik, Pat. Ini terakhir kali aku menemuimu." Kaisar mengeluarkan secarik cek dari saku suitnya dan melemparkannya tepat di wajah Patricia. "Tulislah berapapun nominal yang kamu mau. Aku juga telah menghadiahkan apartemen dan mobil untukmu. Jadi jangan pernah lagi menggangguku, Pat. Hubungan kita berakhir mulai malam ini!"
Kaisar berbalik usai mengucapkan kalimat perpisahan itu. Ia berjalan keluar dari kamar Patricia tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Aku bersumpah akan menghancurkanmu, Kai! Aku akan memisahkan kalian! Aku akan membuatmu kembali padaku!!" jerit Pat sekuat tenaga. Ia meraih cek yang Kaisar lemparkan tadi, merobeknya menjadi bagian-bagian kecil lantas melemparnya hingga berserakan di lantai.
"Aku tidak akan tinggal diam sebelum kalian hancur! Tunggu saja pembalasanku! Kamu sudah menarik tuas bom waktu yang akan meledak beberapa saat lagi!" ancam Pat seraya tersenyum licik.
Kaisar bisa mendengar dengan jelas semua ancaman dan umpatan Patricia yang terlontar untuknya. Namun tak sedikitpun hal itu membuat Kai gentar, ia justru semakin bersemangat untuk membuat benteng pertahanan yang kokoh di antara ia dan Sabia. Terlebih setelah kini ada janin kecil yang ia miliki bersama, Kaisar tak akan lagi goyah. Patricia hanyalah masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Kekhilafan di malam ini cukup membuat Kaisar paham wanita macam apa si Patricia itu.
"Kamu boleh menghancurkanku, Pat. Tapi tidak dengan istri dan calon anakku. Aku bersumpah akan membalasmu seandainya kamu berani sedikit saja menyentuh mereka berdua!"
********************
__ADS_1