
"Bie, ada apa ini?
Kaisar dan Sabia menoleh bersamaan ke asal suara yang tiba-tiba menginterupsi keduanya. Seorang lelaki setinggi Kaisar, dengan tatapan teduh dan wajah oriental berdiri di samping Sabia.
"Zefco? Kenapa masih di sini?" tanya Bia kikuk, ia melepas cekalannya di lengan Kaisar dan menyeka pipinya yang basah oleh air mata.
Merasakan sebuah ancaman, Kaisar memindai penampilan lelaki bernama Zefco itu dengan teliti. Sepertinya dia bukan dari kalangan konglomerat, penampilannya sederhana namun entah mengapa auranya terlihat berbeda dan sangat dewasa.
"Ada barangku yang tertinggal. Siapa dia Bia? Apa dia mengganggumu?" Zefco membalas tatapan tajam Kaisar padanya.
Bia menggeleng cepat. "Nggak, Zef. Dia ... dia temanku!"
Kaisar menolehi Bia dengan kaget saat mendengar penjelasannya. Teman? Yang benar saja!
Siapa lelaki ini hingga Bia berani tak mengakui Kaisar sebagai suami!!
"Oh ya?" lirih Zefco tak percaya, ia mengawasi penampilan Kaisar dari atas hingga ke bawah.
Sementara dua lelaki itu saling menatap penuh waspada, Sabia malah sibuk mengatur ritme jantungnya yang berdebar keras. Ternyata Kaisar sangat tampan! Baru kali ini Bia melihat lelaki setampan suaminya ini. Ahhh, Bia memang tak salah pilih!
__ADS_1
Zefco pun mengulurkan tangan pada Kaisar untuk berkenalan. Kaisar tersenyum kecut dan membalas jabat tangan itu dengan angkuh.
"Zefco ..."
"Kaisar!!"
"Kaisar? Hmm, nama yang bagus!" gumam Zefco usai mereka bersalaman.
"Kai, bisa kita bicara empat mata sebentar saja?" pinta Bia memohon.
Kaisar menggeleng cepat. "Tidak bisa. Aku harus segera pergi. Ada urusan yang perlu aku selesaikan!"
Kaisar menghembuskan napasnya berat. "Tidak. Aku bawa motor."
"Kalo begitu kita naik mobilku! Yuk!" Bia menarik pergelangan tangan Kaisar tanpa menunggu responnya. "Zef, aku titip anak-anak, ya! Biar aku yang berjaga besok!"
Zefco mengangguk cepat seraya tetap mengawasi kepergian Sabia dan lelaki bernama Kaisar itu dengan penasaran.
Dengan pasrah akhirnya Kaisar mengikuti Sabia yang masih menariknya dengan riang. Niatnya untuk membuat citra buruk pada gadis itu sontak lenyap setelah melihat lelaki tadi. Setidaknya Kaisar harus mencari tahu dulu siapa lelaki itu!!
__ADS_1
Di sebuah mobil citycar berwarna pink, Sabia menyerahkan kunci mobilnya pada Kaisar.
"Kamu yang nyetir!" perintahnya sembari berlari ke kursi penumpang.
Kaisar menghela napasnya panjang dan berat, sebelum kemudian ia masuk dan duduk di balik kursi kemudi. Ia tahu mobil ini adalah hadiah dari Papanya untuk Bia di hari ulang tahunnya. Diki selalu menceritakan hal apapun sampai sedetail-detailnya setiap malam, kecuali bagian lelaki bernama Zefco itu! Sepertinya Diki sengaja menyembunyikannya.
"Kita mau ke mana?" tanya Kaisar bingung setelah ia menyalakan mesin mobil.
Bia yang sejak tadi tak lepas menatap wajah Kaisar dengan mata berbinar, tak merespon pertanyaan itu. Ia sibuk mengagumi setiap inchi wajah tampan suaminya yang baru kali ini ia lihat.
"Bia, kita mau ke mana?" ulang Kaisar lagi seraya melirik Sabia dengan keki.
"Terserah kamu saja. Aku akan ikut ke manapun kamu membawaku!"
Kaisar memberanikan diri menatap gadis yang masih berstatus istri kecilnya itu. "Apa kamu yakin?"
Bia mengangguk cepat. "I'll go wherever you will go, Kai."
Merasa diberi kesempatan, Kaisar pun perlahan menginjak pedal mobil matic itu dengan kalap. Tidak ada tempat lain yang bisa mereka kunjungi selain ...
__ADS_1
*********************