
Setelah Dokter visit, Sabia pun diperbolehkan untuk pindah ke ruangan rawat inap. Bia hanya perlu di kontrol selama 1x24. Kaisar menemani proses pemindahan Sabia hingga gadis itu ditempatkan di ruangan President Suite, namun Kai tetap menjaga jarak darinya.
"Apa ada lagi yang perlu dibantu, Pak?" Seorang perawat menghampiri Kaisar setelah memastikan Sabia telah nyaman berada di ranjang pasien.
Kaisar terbelalak, Sabia menoleh ke arah mereka berdua. Sial, jadi ketahuan kan kalo dia daritadi menemani gadis bocil itu!!
"Tidak ada, Sus. Terima kasih!" pungkas Kaisar akhirnya.
Perawat tersebut tersenyum ramah dan kemudian berlalu dari ruangan mewah langganan keluarga Mahaputra.
Wajah Bia masih terlihat suntuk dan tidak bersahabat, Kaisar pun enggan untuk mencari masalah dengannya. Akhirnya Kaisar memutuskan masuk ke dalam kamar mandi dan membilas tubuhnya di sana. Ia sangat gerah setelah dua hari ini tak sempat mandi gara-gara menemani Sabia.
Setelah di rasa Kaisar masuk ke sebuah ruangan lain, Sabia menghembuskan napasnya lega. Kenapa Kaisar masih menemaninya? Apa dia tidak ngantor? Biasanya dia selalu sibuk sendiri dengan pekerjaannya!
Bia meraba tangan kirinya yang dipasangi jarum infus, ini kali kedua ia dirawat di Rumah Sakit. Dan yang kali ini adalah gegara kesalahannya sendiri. Bia mendesah lelah, padahal tadinya ia pikir akan membuka mata di akhirat, tapi ternyata Tuhan masih ingin ia hidup.
Cklek.
Bia menoleh cepat ke arah pintu. Ia menajamkan telinganya untuk menangkap informasi dari derap langkah seseorang yang baru datang. Hari.
"Kamu sudah bangun?"
"Belum. Aku masih tidur!" sahut Bia terkekeh.
Terdengar suara tawa Hari tak jauh darinya. "Ke mana Kak Kai? Kenapa kamu sendiri?"
Bia menunjuk kamar mandi dengan dagunya. Ia mengira-ngira posisi kamar mandi itu setelah mendengar suara gemericik air shower dari sana.
"Aku bawakan baju ganti untukmu dan Kak Kai. Mama belum bisa kemari karena sedang ada acara." Hari meletakkan sebuah tas di meja.
"Terima kasih, Hari. Tapi besok aku sudah boleh pulang, kok!"
Ucapan Sabia terhenti saat pintu kamar mandi dibuka. Kaisar keluar dari sana dengan bertelanjang dada dan terkejut melihat Hari berada di dalam kamar.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Kaisar heran. Bukannya semalam Mama Mira sudah berjanji akan datang bersama Bik Yati.
"Iya. Mama sedang ada acara. Jadi aku yang membawakan baju ganti untuk kalian berdua." Hari menunjuk tas yang ia letakkan di meja.
__ADS_1
Kaisar berpaling, ia meraih tas itu dan mengeluarkan T-shirt-nya dari sana lantas mengenakannya. "Thanks!" lirih Kai tanpa menolehi Hari.
Hari mengangguk. Ia beralih memperhatikan Sabia. Wajah Kakak iparnya ini masih sedikit pucat dan redup. Entah apa yang terjadi padanya kemarin lusa hingga Sabia nekat menenggelamkan dirinya di bathtub kamar mandi. Hari ingin tahu, namun kehadiran Kaisar membuatnya tak bisa berkutik.
"Kamu tidak ngantor?" Kaisar mendekat ke ranjang Sabia dan duduk di sampingnya.
"Iya. Ini mau berangkat."
"Oh ya, tolong segera periksa pengajuan biaya untuk pembangunan minihotel di kawasan MH Stable. Aku membutuhkan ACC darimu secepatnya!" Kaisar menyela sebelum Hari berbalik.
Hari menghela dan menghembuskan napasnya berat. "Oke, Kak. Akan aku kabari pada Diki nanti siang!"
Melihat gelagat Hari yang nampak tak bersemangat, feeling Kaisar mulai tak nyaman.
"Aku balik dulu ya, Kak Bia! Sampai jumpa di rumah besok!"
"Bye, Hari. Hati-hati di jalan!" Sabia melambaikan tangannya dengan begitu manis.
Kaisar melirik mereka berdua dengan heran, Bia tak pernah mengatakan hal sejenis itu padanya! Jangankan mengatakan hati-hati dijalan, bermuka manis dan tersenyum ramah saja tidak pernah! Kaisar mendengus iri.
Hari berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan Bia. Kaisar beringsut dan menyusul adiknya itu dengan curiga.
Hari menoleh dan menghentikan langkahnya. "Ada apa, Kak?"
"Apakah terjadi sesuatu dengan Mama?" selidiknya curiga.
Hari tak menyahut, napasnya yang naik turun membuat Kaisar tahu jawaban atas pertanyannya.
"Apa Mama baik-baik saja?"
"Mama ada di ruangan sebelah sejak semalam, Kak. Tolong jangan beri tahu Kak Bia tentang kondisi Mama," pinta Hari memohon.
Kaisar mengusap wajahnya dengan sedih. Ia sudah mengira bila kondisi Mira akan semakin menurun dari hari ke hari bila tak segera radiasi dan melakukan transplantasi.
"Baiklah. Nanti aku akan menengok Mama setelah Bia tidur!"
Hari mengangguk setuju. Ia pun berbalik dan menghilang di lift.
__ADS_1
Kaisar pun kembali masuk ke ruangan Bia dan menemukan gadis itu sedang melamun. Andai ia bisa mengobrol dan berteman baik dengannya ...
"Bia! Kaisar!"
Kaisar tersentak, ia sontak menoleh ke arah pintu. Bu Darma melongok dan tersenyum lebar saat tatapannya bertemu dengan menantu kesayangannya.
"Mama! Kenapa tidak langsung masuk saja?" Kaisar urung duduk di sofa dan beralih membukakan pintu lebih lebar untuk mertuanya.
Bu Darma yang membawa dua buah rantang nampak sangat kerepotan. Kaisar mengambil alih rantang-rantang itu dan meletakkannya di meja.
"Kalian belum makan, kan? Mama bawain makanan kesukaan kalian!" Bu Darma menghampiri ranjang Sabia dan mengelus pipi putri kesayangannya.
"Makanan kesukaan kalian?" Sabia mengernyit bingung.
"Iya. Sekarang Kaisar juga doyan makan pecek terong, Bia! Tempo hari pas acara ulang tahunmu yang gagal itu, Mama masakin pecek terong dan tempe kesukaanmu!" jelas Bu Darma begitu jujur.
Kaisar menyembunyikan wajahnya di tumpukan bantal sofa. Sabia pasti akan menertawainya!
"Oh ya? Seleranya sudah turun level ya sekarang?" olok Sabia sinis.
Bu Darma menoleh pada Kaisar yang masih menelungkupkan wajahnya di sofa.
"Memangnya makan terong bikin level kita turun, ya? Mama baru tahu," lirihnya heran.
"Kaisar juga membuatkan cake khusus untukmu, Bia! Sayang sekali kita nggak bisa tiup lilin bareng-bareng!"
Bruak.
Kaisar menenggelamkan wajahnya semakin dalam. Ia malu, sangat malu. Mama mertuanya sudah menurunkan harkat dan martabatnya di depan bocil keras kepala itu!
"Oh ya, pasti kuenya jelek banget kaya yang buat!" olok Bia lagi.
"Bia! Kok ngomongnya begitu sih, sejak kapan anak mama mulutnya pedes kaya gini, hah?!" bentak Bu Darma terkejut.
Sabia mendengus jengkel. Bela saja terus si Kaisar itu! Dia tak akan lagi peduli dan iba padanya!
Kaisar yang melihat ketegangan di antara keduanya sontak berdiri dengan keki. "Ma, bisa kita makan sekarang? Saya sudah lapar."
__ADS_1
*********************
Bestie, jan lupa jempol, vote dan favoritnya ❤️