
Membutuhkan waktu hampir seminggu bagi Sabia untuk membuat patung wajah Hari. Meski hasilnya masih kasar, namun ia sangat bangga saat Mama Mira dan Bik Yati memuji hasil karya pertamanya. Hanya Hari saja yang merasa wajahnya tak mirip, ia masih berharap Sabia mengkoreksi bagian mata yang terlalu sipit baginya.
"Bagus kok, wajahmu kalo bangun tidur persis kaya gitu!" bela Mama Mira.
Bia mengangkat dagunya dengan pongah. "Tuh, kan!" sungutnya.
"Tapi tidak sesipit itu kali, Ma. Coba cek lagi!" keluh Hari keukeh. Ia menunjuk bagian mata yang menurutnya mirip orang sedang tidur.
"Nggak, udah bagus! Udah keren. Giliran Mama dong dibikinin patung, ya kan Bia?"
Bia mengangguk cepat. "Iya dong, Ma. Habis gitu Bik Yati!"
Hari menoleh pada Bik Yati yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. Wajahnya sontak berbinar bahagia mendengar Nonanya akan membuatkan patung wajah versi dirinya.
"Tuh, Bik. Coba lihat, wajahnya tidak mirip saya, kan?!" tanya Hari belum puas.
Bik Yati memperhatikan patung buatan Sabia dan wajah Hari secara bergantian, bagian hidung, bibir dan bentuk wajah sudah bagus, sih.
"Iya, kan? Matanya terlalu sipit, kan?" cecar Hari memaksa.
"Udah bagus kok, Tuan. Lumayan mirip. Ini memang patung versi Tuan Hari baru bangun tidur!"
"Pffff ..." Sabia menahan tawanya.
Hari semakin merengut tak terima. "Aku tidak mau tahu, pokoknya bikinin lagi patung wajahku yang lebih ganteng dari ini!"
"Dih, ganteng-ganteng maksa!" tukas Bia.
"Hari, sudahlah. Giliranmu sudah selesai. Sekarang giliran Mama. Ngalah kenapa!?" Mira menengahi.
"Iya nih, Tuan. Kapan giliran Bibik kalo Tuan Hari nggak mau gantian!" Bik Yati mengeluh.
Mendengar semua orang membela Sabia, pada akhirnya Hari hanya menghembuskan napasnya pasrah.
__ADS_1
"Ya sudah lah. Nanti aku minta bikinin ke Pak Jovan saja!"
"Yeee, ngambek! Iyaa, nanti aku bikinin lagi setelah punya Mama dan Bik Yati selesai. Sabar yaaa, Adikku Sayang!"
"Dih, Adik? Dasar bocil!"
"Hari, sudah, ah! Kalian lama-lama kaya Tom Jerry!" cicit Mira. "Yuk, Bia. Kita mulai sekarang!" Mira menarik sebuah kursi dan duduk di depan menantunya, bersiap untuk diraba.
Sabia menjulurkan lidahnya ke arah suara Hari dan berpaling pada Mira. Ia bersiap untuk meraba wajah mertuanya itu. Sambil memejamkan mata, Bia mulai memindai setiap inchi wajah Mira ke dalam memorinya. Dari rabaan sekilas, Mira mirip dengan Hari. Mereka sama-sama memiliki bentuk mata yang cenderung sipit, namun berbeda di bagian hidung yang kecil dan ramping, bibir atas yang tipis dan bibir bagian bawah yang ranum. Bia menghentikan tangannya untuk sesaat, Mira memiliki cekungan mata yang cukup dalam. Dalam benaknya, cekungan mata seperti itu mirip dengan orang yang sedang sakit.
"Apakah Mama sedang sakit?" tanya Bia spontan.
Mira tertegun, ia menoleh pada Hari dan Bik Yati. Lantas mengangkat jari telunjuknya ke hidung, mengkode mereka untuk diam.
"Memangnya kenapa, Bia?" Mira balik bertanya.
"Mama memiliki cekungan mata yang dalam. Kaya orang yang sedang sakit," jelas Sabia polos.
"Mama kecapean. Kurang tidur juga kayanya! Ya kan, Ma?" tukas Hari memotong.
"Sudah hafal belum dengan wajah Mama? Kalo sudah ayo kita makan siang dulu! Aku sudah lapar!"
..
..
Sementara itu, di rumah sederhana keluarga Darma.
Kaisar berkutat dengan adonan cake sejak dua jam yang lalu. Sejak kemarin, ia membantu Bu Darma membuat cake untuk Sabia. Setelah memperhatikan mertuanya membuat cake sebagai contoh, Kaisar akhirnya ingin membuat cake untuk Sabia dari tangannya sendiri.
Alhasil, ia harus beberapa kali trial and eror. Dan sejak dua jam yang lalu, ia sibuk sendiri di dapur yang tak begitu besar dan sangat sederhana. Ia sudah bersiap untuk menghias kue itu dengan cream.
"Mama tidak tertarik untuk pindah ke rumah yang lebih besar?" tanya Kaisar iseng.
__ADS_1
Bu Darma mengamati sekeliling rumahnya lantas menoleh pada Kaisar. "Memangnya rumah ini kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa, sih! Maksud saya memangnya Mama tidak mau pindah ke rumah yang lebih bagus gitu?!"
"Rumah ini jelek, ya?!"
Kaisar menghela napasnya panjang. Sepertinya pemikiran Sabia yang polos adalah turunan dari Bu Darma.
"Saya tidak bilang jelek. Bagus, kok!"
"Terus untuk apa Mama harus pindah kalo rumah begini saja sudah cukup?"
"Saya cuma pingin Mama dan Ayah tinggal di rumah yang nyaman. Ada ART yang melayani selama 24 jam. Memangnya Mama tidak mau?"
Bu Darma menghentikan tangannya yang sedang melipat kotak untuk pesanan kue besok lusa.
"Bukan nggak mau, Kai. Hanya saja hidup sederhana begini saja Mama sudah bahagia. Jadi untuk apa memaksakan diri hidup mewah."
"Kalo saya yang belikan rumahnya, Mama mau tidak?" Kaisar memaksa.
"Mending uangnya buat kamu beli rumahmu sendiri dan Sabia. Daripada kalian tinggal bersama di rumah besar itu! Mama jadi sungkan mau sering-sering jenguk Bia."
"Kenapa sungkan? Itu juga rumah Bia, kok!" sanggah Kaisar.
Bu Darma tak menyahut, ia kembali menyibukkan diri melipat tumpukan kotak-kotak itu.
"Jadi besok bagaimana rencana kita memberi surprise pada Bia?"
***************
Nggak pernah bosen otor ingetin untuk kasi jempol ya, Bestie.
Kenawhy??
__ADS_1
Biar otor tahu kalo kalian 'ada' dan menikmati karya receh ini. Serius deh, otor sedih kalo kalian pelit jempol 🥲. Yuk, ah, budayakan menghargai karya author siapapun dengan meninggalkan jejak berupa jempol dan ❤️.
Tilimikiciiii 🥰