
Lengket, basah dan bau anyir tak membuat Kaisar mundur. Ia mengikuti brankar yang membawa tubuh lemah Sabia dengan hati hancur. Sabia sadar dan membuka mata saat dibawa oleh ambulans. Ia menangis kesakitan sejak tadi, Kaisar berkali-kali menenangkan gadis itu meski ia sendiri hancur lebur.
"Kai, selamatkan King! Selamatkan Anakku, Kai!" rintih Bia dengan berlinang air mata.
"Iya, Bia. Bertahanlah!"
"Berjanjilah Kai, aku mohon selamatkan dulu King daripada aku!"
Kaisar menghembuskan napasnya yang naik turun dengan sakit. "Iya, aku berjanji."
"Permisi, Pak. Silahkan tunggu di luar." Seorang perawat menahan tubuh Kaisar saat brankar Sabia dibawa masuk ke dalam ruang IGD.
Diki menahan tubuh bos-nya yang oleng saat perawat itu memintanya menunggu di luar. Wajah tampan Kaisar kini nampak menyeramkan dengan cipratan darah di beberapa bagian. Jiwanya terguncang hebat, ia terancam kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi.
"Bagaimana keadaan Hari?" tanya Kaisar lemah saat ia dan Diki sedang duduk di kursi panjang di depan IGD.
"Saya juga belum tahu, Pak. Tadi di ambulans beberapa kali paramedis mencoba menstimulasi detak jantungnya dengan Defibrillator."
"Lalu?" Kaisar menoleh pada Diki yang langsung menunduk sedih.
"Kita tunggu penjelasan Dokter saja, Pak."
Kaisar menghembuskan napasnya sedih. Ia pesimis namun sebisa mungkin masih berpikiran positif bila Hari pasti bisa diselamatkan.
"Apa kamu sudah menghubungi Papa dan orang tua Bia?" tanya Kaisar lagi memastikan.
"Sudah, Pak. Mereka sedang dalam perjalanan kemari."
Entah berapa lama Kaisar termenung, suara ribut di kejauhan membuatnya menoleh dengan lemah. Mertua dan orang tuanya datang di waktu yang hampir bersamaan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Bia?"
"Bagaimana keadaan Hari?"
Dua pertanyaan yang dilontarkan bersamaan itu membuat Kaisar bingung harus menjawab yang mana lebih dulu.
"Kami masih menunggu kabar dari Dokter, Pak, Bu!" jelas Diki menengahi. Ia paham bila Kaisar masih syok dan tidak sanggup berbicara banyak.
"Keluarga pasien Sabia?"
Kaisar sontak berdiri dengan sigap saat seorang Dokter membuka pintu IGD dan keluar, Pak Darma dan Bu Darma juga ikut berdiri dan menghampiri Dokter itu.
"Kami harus segera melakukan tindakan operasi karena janinnya semakin lemah dan kemungkinan tidak bisa bertahan, bilapun bisa tentu akan membahayakan bagi si ibu karena kondisi ibunya saat ini sangat lemah."
Kaisar menahan napasnya sedih.
"Selamatkan King, Kai!" permintaan Sabia terngiang kembali.
Pak Darma memperhatikan menantunya itu dengan perasaan campur aduk, terlihat jelas bila Kaisar sangat mencintai putrinya. Ia menarik Bu Darma mundur beberapa langkah. Ia membiarkan Kaisar yang mengambil keputusan atas Sabia.
"Baik, silahkan ikut saya untuk menandatangani surat pernyataan." Dokter itu kemudian berbalik masuk lagi ke dalam IGD.
Kaisar mengikuti Dokter itu dengan sigap. Ia pun menandatangani beberapa kertas sebelum kemudian diperbolehkan melihat Sabia sebentar di dalam bilik.
Di ranjang itu, Sabia nampak sedang menangis. Luka di keningnya sudah dijahit.
"Bia." Kaisar mendekat ke ranjang dan menggenggam tangan istri kecilnya.
"Aku benci kamu, Kai! Aku benci sama kamu!" rutuk Sabia sembari menepis tangan Kai dengan kasar.
__ADS_1
"Bia ..."
"Aku sudah bilang selamatkan King! Kenapa kamu malah menandatangani surat pernyataan itu!"
"Bia, kamu lebih berharga buatku."
"Dan King lebih berharga untukku dibanding kamu!!"
Kaisar mengusap wajahnya dengan sedih. Ia berbalik dan memutuskan untuk keluar sebelum ucapan-ucapan yang lebih menyakitkan keluar dari bibir tipis itu. Ia akan menerima konsekuensi apapun, asal bukan kehilangan Sabia.
Air mata Bia merembes semakin deras membasahi pipinya. Lebih baik ia mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan King daripada harus menyerah dan merelakannya. Bia sudah mencintai janin kecilnya, ia sudah terbiasa melalui hari dengan seonggok daging di dalam rahimnya. Membayangkan kehilangan janin itu membuat hati Sabia hancur. Ia tak lagi memiliki siapapun, peninggalan Kaisar yang sangat ia jaga dengan baik harus ia relakan pergi.
"Maafkan Mama, King. Maafkan Mama, Nak!" lirih Bia sembari mengelus perutnya dengan pilu.
Sementara itu di luar, suara tangisan yang tak kalah menyayat hati dari Mira, Bu Darma dan Papanya membuat Kaisar merasakan firasat buruk. Diki menghampiri bosnya itu dengan menunduk sedih.
"Ada apa, Diki!?" tanya Kaisar dengan tubuh gemetar saat Diki tak kunjung bersuara.
"Mas Hari ... tidak bisa diselamatkan, Pak."
***********************
😭😭 Hariiiiii ....
...Credit Pict : Instagram ...
Good bye, Hari ...
__ADS_1
Terima kasih sudah hadir dan menghibur kami semua. We love you, Hari!