GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Pertama Kali


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sederhana keluarga Darma. Sejak dua jam yang lalu, Bu Darma nampak sibuk menata ruang tamu mungilnya dengan beberapa balon dan kertas warna-warni. Sesekali ia menoleh pada ponselnya yang ia geletakkan di meja, berharap ada panggilan masuk dari putrinya yang tak bisa ia hubungi sejak tadi pagi. Padahal ia dan Kaisar sudah merencanakan pesta kejutan untuknya, tapi bila Sabia susah dihubungi lantas bagaimana kelanjutan pesta sederhana ini?


Suara derum mobil di halaman membuat Bu Darma menghembuskan napasnya lega. Akhirnya Kaisar datang! Ia bergegas keluar menyambut menantu kesayangannya itu.


Begitu melihat Kai turun dari mobil sedan hitamnya, Bu Darma menyunggingkan senyum hangat nan lebar. Untuk sesaat, Kaisar merasakan sesuatu yang berbunga-bunga di dalam hatinya, sudah lama sekali ia tak pernah disambut oleh siapapun ketika baru pulang dari kantor.


"Ma," sapa Kaisar hangat seraya mencium punggung tangan Mertuanya dengan sopan.


"Kai, sudah makan? Mama masak pecek terong buat kamu! Yuk, sini buruan!" Bu Darma menarik lengan Kaisar agar segera masuk.


Pecek terong? Makanan apa itu?


Meski baru pertama kali mendengarnya, Kaisar menurut saja saat Bu Darma membawanya ke ruang makan dan menarikkan kursi untuknya.


"Nih, ini kesukaan Sabia! Dia nggak akan berhenti makan kalo udah ketemu sama pecekan terong dan tempe!" tutur Bu Darma seraya membuka tudung saji.


Kaisar memperhatikan cobek di meja dengan beberapa menu aneh di tengahnya, yang Kaisar pernah makan hanyalah tempe, dan telur selebihnya baru kali ini ia lihat.



"Kamu belum pernah makan terong?" tanya Bu Darma heran saat Kaisar hanya tertegun menatap cobeknya.


Kaisar menggeleng keki. "Belum, Ma. Baru ini sih lihat ikan beginian."


"Iih, ini bukan ikan! Ini masih sejenis sayuran, eh, sebentar buah apa sayur, ya? Ah, sebodo! Yang pasti ini bukan ikan, Kai!" Bu Darma gemas sendiri menyaksikan menantunya tak pernah menyantap terong. "Mama ambilin nasi, ya? Kamu cobain dulu, pasti setelah itu ketagihan juga!" keukehnya sembari mencentongkan nasi.


Kaisar hanya pasrah saat seporsi nasi di hidangkan oleh mertuanya. Ia lantas baru ingat bila belum melihat ayah mertuanya sedari tadi.


"Ayah belum pulang ya, Ma?"


"Katanya sih masih ada rapat sama orang Diknas, paling sebentar lagi datang! Sudah kamu makan dulu saja, jangan nunggu ayah!"

__ADS_1


Kaisar menurut, ia lantas menyendok tempe yang sudah penyet di tengah cobek. Baru kali ini konglomerat macam Kaisar makan langsung dari cobek, biasanya meski menyantap sambal, chef akan menempatkannya di mangkuk khusus.


"Terongnya di makan juga, dong!" saran Bu Darma memaksa.


Meski ragu, pada akhirnya Kaisar menuruti perintah mertuanya. Sesuatu yang lembek dengan banyak biji-biji kecil menempel di tengahnya membuat Kaisar sedikit bergidik ngeri. Sekilas terlihat seperti tentakel gurita namun yang ini lebih kompleks.


"Makanlah! Cobalah sedikit!" perintah Bu Darma begitu terong penyet bercampur sambal itu mendarat di piringnya.


Dengan sangat perlahan, Kaisar menyendok nasi, tempe dan terong itu lantas melahapnya sambil memejamkan mata. Sensasi rasa pedas, gurihnya tempe bercampur nasi dan benda lembek itu membuat Kaisar mengerjap takjub. Oh, waw, nikmat sekali makanan sederhana ini!


"Enak kan?" tanya Bu Darma memastikan saat Kaisar menoleh padanya.


"Enak, Ma!"


..


..


"Mama akan bebasin Bia belanja apaaaa aja yang Bia mau. Yuk!" Mira menggamit lengan menantunya dan membawa Sabia masuk ke dalam mall.


Bukan tanpa alasan Mira membawa Sabia berbelanja. Ia paham bila Sabia pasti sangat kecewa karena kejadian di Rumah Sakit tadi, maka dari itu Mira mengajak Bia jalan-jalan agar bisa menghibur sedikit rasa sedihnya.


Tadi sepulang dari Rumah Sakit, Hari menelefon Mira seperti biasanya. Ia selalu mengingatkan Mamanya untuk meminum obat yang sudah diresepkan oleh dokter. Mira akhirnya menceritakan pada Hari tentang kejadian di Rumah Sakit dan Hari berjanji akan menyusul mereka berdua ke mall setelah ia menyelesaikan meeting terakhirnya hari ini.


"Kita ke spa dulu yuk, sambil nunggu Hari datang!" usul Mira begitu melihat salon Helmi dari kejauhan.


Bia tersenyum dan mengangguk. "Boleh," sahutnya setuju.


Mira bergegas menggandeng Bia menuju salon langganannya. Helmi yang sedang mengobrol dengan seorang customer sontak terbelalak bahagia melihat Mira dan Sabia datang.


"Aaaay, Mamiiiii. Ah, rindunya eike sama Mamita!" jerit Helmi dari kejauhan seraya berlari kecil menghampiri Mira.

__ADS_1


Sabia tak bisa menahan senyumnya mendengar jeritan manja Helmi. Ia bahkan sudah lupa pada rasa sedih dan kecewanya beberapa jam yang lalu.


"Ah, Hel. Bisa spa untuk dua orang, kan?" tanya Mira tanpa basa-basi.


"Mami, jangan kan untuk dua orang, ye! Untuk semua anggota keluarga Mahaputra bisaaaa, Mamita!"


"Hihihi ..." Sabia mengikik di balik lengan Mira.


"Halo, Cantika Manjalita Sabia! Tentu masih ingat dengan Hellen, dongs?!"


Bia mengangguk malu, ia masih bersembunyi di balik lengan Mira.


"Yuk, ah, Hel, buruan! Saya cuma punya waktu sebentar. Takut Hari keburu nyusul kemari nanti."


"Aaaaah, tinta, Mamita! Ayang Hari on the way kemari? Aduh, kenapa tinta bicara dari tadi! Hellen belum dandan, Mamita!"


Mira menghembuskan napasnya lelah, Hellen selalu ganjen bila membahas Hari.


"Yuk, ah, Mamita. Kasindang tas-nya biar calon menantu Mami yang cantik jelita ini bantu simpankan di lemari!" Hellen menadahkan tangannya pada Mira dan Sabia untuk menyimpan tas mereka di lemari sementara mereka berdua spa.


"Buruan, Helmi. Keburu--"


"Hellen, Mami. Helmi sapose eike tak kenal!"


**********************


Ahhh, lihat sambel terong otor jadi laper.


Jan lupa sarapan, Bestie!


Jan lupa jempolnya juga ❤️

__ADS_1


__ADS_2