
Kaisar tiba di kediaman Mahaputra tepat jam 12 malam. Dengan langkah berat, ia masuk ke dalam kamarnya yang telah temaram. Kedua lututnya masih terasa lemas, entah karena terlalu bersemangat saat bercinnta dengan Pat tadi atau karena rasa bersalah yang menghantuinya. Kaisar benci bila mengingat betapa ia sangat bodoh karena telah terjebak oleh kelicikan Patricia.
Kaisar menoleh ke ranjang, begitu melihat Sabia telah tertidur, ia lekas masuk ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya yang kotor karena telah terjamah oleh Patricia. Sambil memejamkan matanya lelah, Kaisar mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah ia lakukan bersama Pat tadi. Sekelebat ingatan saat Patricia mendesah di atas tubuhnya, saat sesuatu yang basah menghimpit juniornya, saat Kaisar dengan beringas mendorong junior berkali-kali sambil menyebut nama Sabia.
Kaisar terhenyak. Dia menyebut nama Sabia saat bercinnta dengan Pat??
Jadi tadi Patricia tidak berbohong saat mengumpat padanya?
Kaisar tersenyum sumbang. Jauh di bawah alam sadarnya, keinginan untuk merasakan kenikmatan bersama Sabia itu seolah membuncah saat ia bercinnta dengan Patricia, hingga tanpa sadar berulang kali ia menyebut nama gadis bocil itu. Pantas saja Pat murka, ternyata Kaisar membayangkan Sabia saat tengah bercinnta dengannya!
"Hahaha ..." tawa Kaisar puas.
Usai menyikat gigi, Kaisar bergegas keluar dan mengenakan piyama tidurnya. Ia beringsut naik ke atas ranjang dan merapat ke tubuh Sabia. Dengan gerakan perlahan, Kaisar menyentuh perut istrinya itu untuk menyapa jagoan kecilnya.
"Hai, Jagoan! Apa kamu sudah tidur, Boy?" lirih Kaisar berbisik di perut Sabia. "Maaf, Papa baru pulang. Papa janji ini terakhir kali Papa pulang terlambat." Kaisar mencium perut rata itu dengan sangat hati-hati, ia takut Sabia terbangun.
"Besok kita main ke rumah Oma dan Opa, ya! Sekarang kita istirahat dulu, oke?" Kaisar mengangkat tangannya seolah sedang mengajak tos. "Sip, yuk kita tidur! Selamat malam, Jagoan!" bisik Kai seraya mencium perut Bia dengan lembut.
Perlahan Kaisar bergerak naik ke bantalnya yang empuk, ia menatap wajah Sabia yang terpejam dengan sangat damai. Cukup lama Kaisar memperhatikan wajah mungil itu sebelum kemudian ia mendekat ke kening Sabia dan mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Selamat malam, Bia. Maafkan aku."
..
..
Entah berapa jam ia tertidur, sebuah sentuhan hangat di wajahnya membuat Kaisar geli dan membuka mata. Sabia nampak sedang meraba setiap inchi wajahnya seolah sedang memindainya. Kaisar membiarkan jemari mungil itu bergerilya di seluruh wajahnya, dari atas turun ke bawah, lalu naik lagi berulang kali.
Saat menyentuh hidung Kaisar yang mancung, bibir Sabia nampak mengerucut kesal. Ia menyentuh ujung hidung itu dengan penuh perasaan, mengingatnya dalam memori sebaik mungkin.
"Ha ... Hachiu!!"
Sentuhan jemari Sabia membuat hidung Kaisar geli hingga secara reflek ia bersin.
"Hihihi ..."
Bia menahan tawanya dengan kedua tangannya. Membuat Kaisar gemas dan sontak memeluk gadis yang menghadap ke arahnya itu dengan gesit.
"Nakal ya! Gangguin orang lagi tidur!" rutuk Kaisar pura-pura kesal.
__ADS_1
"Hahaha ... lepasin, Kai! Kamu membuatku sesak!"
"Biarin, kamu sudah membuat tidurku terganggu, jadi aku akan membalasmu!" sahut Kaisar acuh sembari tetap memeluk Sabia dengan erat dan menciumi lehernya dengan gemas.
Sabia tertawa semakin keras, ia memukul bahu Kaisar agar melepaskannya namun pelukan itu semakin erat hingga membuat tubuh mungilnya tergencet.
"Hentikan Kai, kamu menyakiti bayimu!"
Kaisar menghentikan gerakan kepalanya yang mulai turun ke dada Sabia. Bayimu?
Dengan ragu Kaisar melepas pelukannya dan menatap Sabia lekat-lekat.
"Bayimu?" ulangnya keki.
Sabia mengangguk cepat. "Bukankah dia bayimu? Kan kamu sendiri yang bilang akan merawatnya dengan baik!"
Tersenyum kecut, Kaisar merasakan sesuatu yang sakit mencubit di hatinya. Jadi Bia masih ingin berpisah darinya?
"Iya, dia bayiku," desis Kai terluka. Ia mundur dan beringsut duduk. "Ayo mandi, kita berangkat ke rumah Ayah dan Mama sebentar lagi."
Bia mengangguk dan bergegas turun dari ranjang. Dengan langkah teratur dan tangan terulur, Sabia tiba di kamar mandi dengan mulus.
"Bayimu ..." lirih Kaisar tersenyum kecut.
Ia lantas turun dari ranjang dan membuka gorden agar sinar matahari bisa masuk dan menerangi seluruh sudut kamarnya.
Usai Bia mandi, Kaisar berganti masuk dan membilas tubuhnya. Satu jam kemudian keduanya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah keluarga Darma dan menghabiskan weekend di sana.
"Kamu sudah membawa foto bayiku?" tanya Kaisar seraya memberi sedikit penekanan pada kata terakhirnya.
Sabia mengangguk cepat. "Sudah dong! Aku sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin siang. Kamu pulang jam berapa semalam?"
Dada Kaisar sontak berdebar dua kali lebih cepat mendengar pertanyaan Sabia.
"Jam dua belas."
"Hmm, kenapa sampai malam sekali? Memangnya meetingnya sangat penting ya sampai menghabiskan waktu hingga larut malam?"
"Penting, lah! Kalo tidak penting untuk apa aku pulang ke rumah sambil menahan kantuk!"
__ADS_1
"Ya ya ya, Tuan Muda Kaisar yang Maha Agung dan Sempurna memang sangat sibuk!" sindir Bia terkekeh.
Kaisar tersenyum datar, ia melirik perut Sabia dan mengulurkan tangannya ke sana.
"Hei, Jagoan! Kita lagi on the way ke rumah Opa dan Oma, nih! Jangan rewel ya selama di sana!" gumam Kai.
"Kenapa kamu selalu memanggilnya jagoan? Bagaimana kalo ternyata dia perempuan?" keluh Sabia risih.
"Dia kan bayiku, suka-suka aku mau manggil dia jagoan atau princess!"
"Tapi aku ingin anak perempuan, Kai."
"Ya sana hamil lagi kalo ingin punya anak perempuan!" sosor Kaisar tak mau kalah.
"Dih, enak aja kamu bilang hamil lagi! Sudah cukup aku hamil anakmu ini, aku nggak mau hamil-hamil lagi!!"
"Yakin? Kamu akan menyesal loh kalo sudah tahu enaknya bikin anak!
"Cih! Menyesal apanya!! Yang ada aku kesakitan sepanjang waktu."
"Itu karena kamu tidak rileks, Bia! Cobalah untuk lebih rileks dan menerima setiap serangan dariku," saran Kai lembut. Jujur saja, junior mulai bereaksi meskipun ia hanya mengobrol sekilas tentang hal mesum ini.
Sabia terkekeh. "Emangnya lagi perang? Pake serangan segala! Sudah ah, aku malas membahas hal itu denganmu!"
"Kenapa memangnya?"
"Karena kamu mesum, kamu pasti sudah membayangkan hal yang nggak-nggak sekarang! Iya, kan?!"
"Memangnya kenapa? Aku kan suamimu??"
"Hentikan, Kai. Kamu membuat seluruh bulu kudukku merinding setiap kali mengatakan kata suamiku."
Kaisar tertawa keras. "Memangnya aku hantu! Asal kamu tahu, Bia, jangankan bulu kuduk, semua bagian di tubuhmu pasti akan merinding bila tahu enaknya bercinnta denganku!"
"Cih! Dasar mesum! Fokuslah menyetir, dasar orang tua!"
Tawa Kaisar semakin menggelegar, menggoda Sabia ternyata sangat menyenangkan dan memuaskan! Wajahnya selalu merona merah bila kalah berdebat, dan Kaisar sangat menyukainya.
"Kita akan buktikan nanti di rumah Ayah, bagaimana?"
__ADS_1
************************