GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Pelipur Lara


__ADS_3

"Nih!"


Bia tersentak dan mengawasi Zefco yang meletakkan segelas kopi di meja mereka. Saat ini Bia dan Zefco sedang beristirahat sebentar dan ngopi di cafe di sebelah gedung pameran.


Dengan santai, Zefco duduk di depan Sabia dan menyesap kopi hitamnya.


"Aku baru tahu ternyata kamu sedang kehilangan seseorang!" cetus Zefco sambil menatap wanita di depannya dengan teduh.


Bia tersenyum kecut, ia ikut menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap. Kopi adalah obat terbaik dikala lelah dan pikiran sedang buntu, slogan Zefco entah mengapa malah membuat Sabia juga ikut ketagihan pada rasa pahit legit minuman hitam itu.


"Dia suamiku, Zef. Dia menghilang setahun yang lalu."


"I see, sepertinya dia orang yang sangat berharga untukmu!"


"Sangat. Dia sangat berharga melebihi apapun," lirih Bia pilu.


"Kamu tidak berusaha mencarinya?"


Bia menggeleng lemah. "Aku sudah pernah mencoba, Zef. Tapi kini aku sudah berada di level pasrah."


"Jangan-jangan dia meninggal? Atau terjadi sesuatu dengan dia sehingga tidak bisa menemui kamu?"

__ADS_1


Bia menggeleng lemah. "Aku yakin dia masih hidup dan sedang mengawasiku di suatu tempat. Hanya saja dia terlalu takut untuk menemuiku."


"Kenapa mesti takut? Bila dia mencintaimu seharusnya dia tidak seegois itu, Bie!" potong Zefco berapi-api. Ia jadi ikut larut dalam pusaran kisah Sabia yang rumit.


"Cerita kami terlalu rumit, Zef. Aku belum bisa menceritakannya padamu saat ini."


.


.


Sementara itu, di balkon lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, Kaisar menatap tajam ke satu titik. Di sanalah acara Sabia sedang berlangsung. Semua keluarganya pasti berkumpul dan merayakan hari membanggakan ini dengan sukacita.


Kaisar tersenyum lirih. Sabia semakin cantik, ia nampak lebih dewasa dan menggoda. Dua kali hampir tepergok dengan gadis kecil yang masih menjadi istrinya itu membuat Kaisar semakin penasaran padanya. Andai saja bukan Hari yang mendonorkan matanya, mungkin Kaisar tak akan sepengecut ini lari dari Sabia.


Untuk sejenak Kaisar menundukkan kepala dengan sedih, penyesalan dan rasa bersalahnya terlampau besar. Hati kecilnya masih sangat menginginkan Sabia, namun bersama dengan istrinya itu seumur hidup pasti akan membuat Kaisar tersiksa tiapkali menatap matanya.


"Kenapa kamu menghukumku seperti ini, Hari!" lirih Kaisar sembari mendongah menatap langit di atasnya.


Langit yang mulai senja itu hanya dihiasi oleh awan putih yang mulai berarak mengikuti angin. Matahari mengintip di ufuk barat, membuat suasana sore semakin sendu.


Dering ponsel di saku celana Kaisar membuat tersentak dan lamunannya buyar seketika.

__ADS_1


Diki is calling ...


"Pak, suasana sudah sepi. Daritadi saya masuk dan keliling, saya tidak melihat Mbak Sabia sama sekali. Sepertinya sudah aman bila anda mau ke sini, Pak."


Kaisar menghela napas dan menghembuskannya berkala. "Apakah menurutmu aku masih pantas berada di sana, Dik?"


Hening.


"Apa maksud anda, Pak? Sepertinya anda mulai overthingking lagi."


"Aku hanya berusaha realistis, Dik."


"Pak, sejauh yang saya kenal anda adalah pribadi yang sangat percaya diri dan pantang menyerah. Saya selalu menjadikan anda sebagai role model, tolonglah sudahi keterpurukan anda, Pak Kaisar."


Hening kembali. Hanya suara angin yang terdengar karena Kaisar sedang berada di balkon.


"Baiklah. Aku mandi dulu."


"Pak, jangan pakai parfum! Hanya untuk berjaga-jaga saja takutnya anda bersisipan dengan Mbak Sabia."


"Oke!"

__ADS_1


***********************


__ADS_2