GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Ulang Tahun Papa


__ADS_3

Sejak pagi, Sabia sudah disibukkan dengan mencoba beberapa gaun yang akan ia kenakan nanti malam di acara ulang tahun Syailendra. Karena Mira belum sehat, jadi staf butiklah yang datang ke kediaman Mahaputra dengan membawa banyak gaun mewah nan mahal. Mira memilihkan gaun dengan potongan kerah rendah berwarna putih berbahan sifon. Ia tak ingin Sabia terlihat 'berlebihan' dengan gaun yang tak sesuai dengan usianya. Bia harus tetap terlihat cantik, polos dan mempesona.


Sementara itu di rumah keluarga Darma, Kaisar juga memerintahkan Diki untuk membawa mertuanya ke mall dan berbelanja semua keperluan yang akan dikenakan oleh mereka. Kaisar menitipkan  black card-nya pada Diki dan membebaskan mertuanya membeli apapun yang mereka inginkan. Alih-alih membeli gaun di butik mahal, Bu Darma justru memilih baju di Departement Store. Pak Darma pun tak kalah sederhana, ia membeli baju batik di sebuah toko batik di pinggir jalan, ia menolak keras saat Diki memaksa Pak Darma untuk membeli batik di sebuah butik mahal.


Menjelang sore, Mbak Jeje datang untuk merias Sabia. Kali ini Kaisar sengaja menunggu Bia hingga selesai di dandani dan berangkat bersama menuju lokasi. Beberapa kali Mbak Jeje berdecak kagum melihat Kaisar yang tampan dan maskulin dengan setelan suit hitamnya yang elegan. Sabia yang mendengar seribu satu pujian meluncur dari bibir Mbak Jeje hanya bisa mencibir dalam hati.


"Pasti seneng banget deh punya pasangan seganteng dia. Nggak akan bosen di rumah!" puji Mbak Jeje saat memoleskan lipstik di bibir Bia.


Bia tak menyahut, ia hanya menarik ujung bibirnya yang menganga kaku karena sedang dipoles lipstik.


Usai dimake-up dan hair do, Mbak Jeje mengantar Bia keluar dari kamar. Kaisar sudah menunggu istrinya itu sejak dua jam yang lalu, hampir saja ia tertidur di sofa sebelum kemudian pintu kamarnya yang terbuka perlahan sontak membuatnya tersadar. Seorang gadis bergaun putih selutut dengan potongan krah rendah dan rambut di tali ke belakang membuat Kaisar terpana hingga tanpa sadar menganga tak percaya. Sabia yang cantik alami semakin terlihat sempurna dengan make-up dan gaun yang indah yang sangat pas di tubuh mungilnya.



...Credit pict : Pinterest...


"Permisi, Mbak Bia sudah boleh di bawa loh, Pak!"


Eh, pak?


Kaisar menggaruk keningnya keki, apakah ia setua itu?


"Ah, iya. Terima kasih banyak, Bu!" balas Kaisar.


Mbak Jeje terbelalak untuk beberapa saat, ia menoleh pada customer cantiknya yang terpaku tak bergerak.


"Mbak Bia, nggak mau berangkat? Katanya acaranya dimulai jam 6? Ini sudah jam 5 loh!"

__ADS_1


"Iya benar!" Kaisar berapikan jasnya dan bergegas mendekat ke tempat Sabia. "Ayo, kita berangkat!"


Mau tak mau, karena tak ingin Mbak Jeje curiga, akhirnya Sabia membiarkan Kaisar menggenggam tangannya. Sambil bergandengan, mereka berdua bergegas berangkat ke hotel.


Di mobil, sesekali Kaisar mencuri pandang pada Sabia yang mematung di sebelahnya. Bibir mungil itu mengerucut sejak naik tadi tapi Kai tak peduli, yang penting Sabia aman bersamanya saat ini.


"Kamu cantik banget, Bia. Mama dan Ayah pasti pangling lihat kamu malam ini!" puji Kaisar berbinar.


Bia tak menyahut, ia tak menampik ada perasaan aneh yang menjalar di dalam hati ketika mendengar pujian itu terlontar dari mulut jahat Kaisar. Agar Kaisar tak melihatnya wajahnya yang merona, Bia membuang muka ke luar jendela. Sikap Kaisar memang banyak berubah beberapa minggu ini sejak meniduri Sabia, ia lebih lembut dan sering mengalah, tak pernah lagi mencari gara-gara.


Tiba di ballroom hotel mewah di tengah kota, Kaisar menyerahkan mobilnya pada petugas valet. Usai membantu Sabia turun, Kaisar menggamitkan tangan istrinya itu di lengannya.


"Tersenyumlah! Beberapa orang sedang memperhatikan kita," bisik Kaisar seraya menyurukkan kepalanya tepat di telinga Sabia.


Dengan terpaksa, Bia menarik kedua ujung bibirnya. Meski tatapannya kosong namun tak mengurangi aura kecantikan Sabia yang paripurna. Ia terlihat bak dewi yunani.


"Bia! Kaisar!" panggil Bu Darma seraya melambaikan tangan pada anak dan menantunya.


Pak Darma terpana takjub melihat putrinya yang sangat cantik malam ini. Berpasangan dengan Kaisar, mereka tampak sangat serasi.


Kaisar membawa Sabia menuju ke meja orang tuanya. Ia menyalami Pak Darma dan Bu Darma dengan hangat.


"Mama cantik sekali," puji Kaisar berbinar.


"Ah, kamu! Mama jadi malu!" Bu Darma mengibaskan tangannya sambil tersipu. "Oh ya, Kai. Terima kasih karena sudah membelikan kami pakaian yang indah untuk acara malam ini."


"Tidak perlu berterima kasih, Ma. Saya hanya melakukan kewajiban."

__ADS_1


"Tapi tetap saja, Mama dan Ayah jadi malu harus merepotkan Nak Diki seharian tadi. Ya kan, Yah?" Bu Darma menoleh pada suaminya.


"Benar, Kaisar."


"Aku cantik nggak, Yah?" sela Sabia karena sejak tadi kedua orang tuanya justru acuh dan lebih peduli pada Kaisar.


"Cantik banget anak Ayah dan Mama! Ya kan, Kai?" Bu Darma menoleh pada Kaisar.


Sontak Kaisar terbelalak begitu ditodong oleh mertuanya. Ia melirik keki pada Sabia.


"Iya, Bia cantik sekali malam ini," lirihnya malu-malu.


"Mr. Kaisar, is that you?"


Sebuah suara tak asing menyapa dan membuat Kaisar sontak menoleh.


"Oh, Mr. Tori!" sapanya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Mr. Tori menyambut tangan itu dengan hangat dan menoleh pada Sabia yang masih berdiri di sebelah Kaisar.


"Who is she?" tanyanya penasaran.


Kaisar menghela napasnya sekejap, ia menggenggam tangan Bia yang terkulai di lengannya.


"She's my wife, Mr. Tori!"


******************

__ADS_1


__ADS_2