
Gelap, tak terlihat apapun meski hanya secercah bias sinar. Bia berjalan menyusuri kegelapan itu seorang diri. Suasana yang tadinya hening sontak menggema oleh tangisan seseorang.
"Biaaa, huhuhu ..." jerit suara itu pilu.
Merasa terpanggil, Sabia mencoba mencari sumber suara yang menyayat hati tersebut.
"Bia, bangunlah!"
Bangun?
Bukankah saat ini dia tak sedang tidur? Apa maksudnya menyuruh dirinya bangun?
"Bia, maafkan aku."
Sebuah suara lelaki yang sangat ia kenal membuat langkah Sabia terhenti. Kaisar!
"Bangunlah, Bia. Kami mengkhawatirkanmu!" lirih suara Kaisar namun terdengar seperti petir yang menggelegar di sekitar Sabia.
Udara yang tadinya bisa ia hirup dengan bebas tiba-tiba raib, Bia merasa dadanya sesak seketika. Ia berusaha menggapai apapun yang berada di dekatnya, mencari oksigen untuk ia hirup, namun semakin Bia berusaha semakin tubuhnya lemas karena kesulitan mendapatkan udara dan bernapas. Ia mulai tersenggal.
"Bia!"
Pet.
Hhhhhh ...
Bia membuka mata, akhirnya udara itu kembali. Bia menghirupnya dalam-dalam hingga rongga dadanya penuh oleh oksigen. Tangannya yang tadinya menggapai-gapai sekitar kini mulai terkulai lemah dan eh, apa ini?
Bia menyentuh rambut seseorang di samping ranjangnya. Tunggu, di mana ia sekarang?
Karena tak bisa melihat apapun, Sabia hanya memindai sekitarnya melalui telinga dan hidung.
Bau obat yang cukup menyengat membuat Bia bergidik, pun telinganya menangkap suara berdesis yang aneh. Apakah ia tengah berada di Rumah Sakit?
Bia mencoba memutar kembali memorinya ke kejadian beberapa jam yang lalu. Ia baru pulang dari hotel dengan Kaisar, lalu Bik Yati menyiapkan air panas untuk mandi, Bia berendam, ia menangis dan deg! Jantung Sabia seolah terhenti kembali, ia mencoba untuk bunuh diri!
T-tapi, kenapa ia bisa berada di Rumah Sakit? Siapa yang menyelamatkannya?? Kaisar, kah?
Bia memejamkan matanya gusar, bila sampai Kaisar yang menyelamatkannya maka laki-laki itu menang telak dua kali melihat tubuh Bia telanjangg bulat. Ahhh, memalukan!!
__ADS_1
Sedikit ragu, Sabia menyentuh kembali kepala seseorang yang sedang menumpu di ranjangnya. Dari jenis rambutnya, Sabia tahu ini adalah Kaisar. Suara dengkuran halusnya juga sangat khas dan sudah ia hafal di luar kepala. Sentuhan Sabia turun ke bagian wajah Kaisar, ia meraba mata, hidung dan bibir tipis itu dengan lembut. Sambil memejamkan mata, Sabia mencoba membayangkan seperti apa wajah Kaisar. Hari benar, ia tak mirip dengan Kakaknya ini, hidung Kaisar jauh lebih tinggi dan mancung, rahangnya lebih kokoh dan berbulu halus.
"Akhhh, Biaa ...!" suara dessahan Kaisar malam itu terlintas diingatan Sabia.
Ia menarik tangannya yang masih menggerayangi seluruh wajah maskulin itu dengan cepat. Ia benci suara penuh kenikmatan itu! Ia benci menyentuh Kaisar!!
..
..
"Permisi, Pak. Kunjungan pagi!"
Suara seorang wanita yang beberapa kali terucap mau tak mau membuat Kaisar bergeming dari tidur lelapnya. Ia mengucek matanya yang masih terasa sepat dan menoleh pada seseorang yang berdiri di ujung ranjang Sabia.
"Ya, Sus?" tanya Kaisar linglung.
"Kami akan melakukan pengecekan kepada Ibu Sabia sebelum nanti siang Dokter visit kemari." Perawat itu tersenyum ramah.
Kaisar mengangguk pasrah, perawat itupun mulai mendekat ke arah Sabia. Ia mengecek dan mencatat beberapa hal ke lembaran kertas yang ia bawa.
"Apa Ibu Sabia belum bangun?" tanya Perawat itu pada Kaisar.
Perawat itu menahan tawa mendengar pertanyaan Kaisar. "Bukan tidak sadarkan diri, Pak. Tapi memang ada dosis yang membuat pasien jadi sering mengantuk."
Kaisar mengangguk keki, ia memperhatikan Sabia yang masih terpejam. Sedikit aneh, mata itu seperti mengerjap sesekali dan tak benar-benar terlelap. Kaisar tersenyum simpul.
"Baiklah. Saya permisi dulu, Pak."
"Sus, apa istri saya sudah bisa dipindah ke ruangan rawat inap?" sela Kaisar sebelum perawat itu beranjak pergi.
"Kita tunggu Dokter yang memutuskan ya, Pak. Satu jam lagi Dokter akan visit kemari."
Kembali Kaisar mengangguk, ia pun pada akhirnya membiarkan perawat itu pergi. Hanya tinggal ia berdua dengan Sabia di ruangan ICU ini. Kaisar berdiri dan memperhatikan wajah Bia lebih dekat.
"Aku tahu kamu tidak sedang tidur. Bangunlah. Suster itu sudah pergi!"
"Ck!" Sabia berdecak, ia kesal karena ketahuan bila sedang berpura-pura. "Kenapa kamu di sini? Pergi sana!"
"Wah, terima kasih loh! Apakah ini pujian darimu setelah kemarin membuat heboh seluruh penghuni rumah?" Kaisar mencibir.
__ADS_1
"Aku nggak memintamu menyelamatkanku! Siapa suruh!" keluh Bia kesal. "Dan jangan pernah dekat-dekat denganku, Kaisar! Aku sudah memperingatkanmu, kan? Aku nggak main-main!"
Kaisar menghembuskan napasnya berat. "Cukup, Bia. Kamu boleh membenciku, merutukku bahkan memukuliku sekalipun. Tapi ingatlah, ada orang tuamu yang akan sangat kehilangan jika sampai terjadi apa-apa padamu. Tolonglah, jangan egois!"
Sabia terhenyak. Seketika amarahnya menguap.
"Baiklah jika memang kamu tidak ingin disentuh olehku, atau bertemu denganku. Aku tidak akan mengganggumu lagi seperti yang kamu inginkan!" putus Kaisar kesal.
Ia berbalik, rasa lelahnya setelah dua hari ini kurang tidur seolah lenyap berganti kesal pada sikap kekanakan Sabia. Kaisar memutuskan untuk menunggui Bia di luar ruang ICU, ia tidak ingin ribut lagi dengan gadis itu. Wajah tegang Kaisar perlahan melunak saat pandangannya tertuju pada sepasang sandal yang ia kenakan saat ini.
"Maaf, Ayah. Sepertinya saya tidak bisa menepati janji padamu."
************************
Hai, Bestie!
Otor punya karya baru loh, judulnya "(Bukan) SUAMI PURA-PURA".
Yuk, ramaikan juga karya baru otor, dijamin bakal bikin gamon sama karakter-karakternya di sana.
Nih, sinopsis singkatnya :
Menikah adalah penyatuan dua insan yang saling mencintai dalam ikatan pernikahan. Ikatan sakral yang disatukan atas nama Tuhan.
Tapi apa jadinya bila pernikahan itu dilakukan oleh dua insan yang tak saling mengenal satu sama lain?
Annastasia Caroline Winata, pewaris tunggal kerajaan bisnis Properti Winata Group terpaksa menikah dengan pria bernama Kiandro Bagaskara yang tiba-tiba saja dijodohkan padanya. Pria aneh dari kalangan jelata yang tak jelas asal usulnya.
Kekhawatiran akan hilangnya status sebagai pewaris tunggal Perusahaan Properti Winata Group membuat Ann terpaksa menyetujui pernikahan tersebut. Tentu saja, Ann yang workaholic, egois dan perfeksionis lebih dulu menyodorkan perjanjian pernikahan kontrak pada Kian sebelum mereka saling mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan.
Kontrak sakti yang berisi enam pasal, lengkap dengan surat perceraian yang sudah di tandatangani oleh Ann. Yang akhirnya membuat hidup Kian yang tenang, stabil dan bahagia tiba-tiba saja berubah penuh drama.
Lantas apakah mempermainkan janji pada Tuhan tidak mendapatkan balasan? Siapa sebenarnya sosok Kian hingga orang tua Ann bersikeras menikahkan lelaki itu dengan putrinya?
“Menjauh dariku atau kamu tidak akan bisa hidup tenang seumur hidupmu!” - Ann -
“Hidupku bahkan sudah hancur sejak aku belum bertemu denganmu.” - Kian -
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya, Bestie! Ditunggu jempol dan klik favoritnya di sana! 🥰