
Shine Agency.
Hari turun dari mobilnya dengan cepat setelah membaca plang nama Agency tempat Patricia bernaung. Ada mobil Kaisar yang parkir tak jauh dari dari sedan merahnya. Dengan langkah lebar sembari membuka sunglasses hitamnya, Hari bergegas masuk ke dalam lobi kantor itu dan menemui resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan Direktur Agency ini!" ucap Hari begitu seorang resepsionis tersenyum menyapanya.
"Ada kepentingan apa, Pak?"
"Saya ingin menuntut salah satu model yang dinaungi oleh agency ini karena telah menyebarkan berita palsu!"
Wajah resepsionis itu berubah panik. "Tunggu sebentar, Pak. Akan saya hubungkan dengan--"
"Tunjukkan saja di mana ruangannya! Saya akan ke sana sekarang juga!" sela Hari serius.
"Tapi Pak Hans sedang tidak ada di tempat, Pak. Hanya ada Pak Jessen saat ini."
"Di mana ruangannya!" tekan Hari.
"Mari ikut saya."
Setelah berdebat sedikit, Hari mengikuti resepsionis itu masuk ke dalam lift. Di lantai 5, lift berhenti dan pintunya terbuka perlahan. Dari kejauhan, Hari melihat Kaisar nampak sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
"Ruangannya di pojok sebelah kiri, Pak," terang resepsionis itu sopan seraya menunjuk ke lorong yang berlawanan dengan tempat Kaisar berada.
"Baik, terima kasih!" Hari berlalu dari resepsionis tadi dan melewatinya dengan terburu-buru. Ia akan menghampiri Kaisar lebih dulu.
Saat merasa seseorang berjalan ke arahnya, Kaisar menoleh dengan penasaran. Sejak tadi ia sedang menunggu manajer Pat yang meeting di dalam ruangan di belakangnya.
"Hari?"
Bug.
Hari melayangkan tinjunya tepat di rahang Kaisar hingga membuat lelaki itu terpental ke belakang.
"Itu untuk Sabia! Karena kamu sudah menghianatinya!" rutuk Hari murka.
Kaisar menyeka darah yang mengecap di bibirnya, ia menatap Hari dengan tajam. Ia merapikan suitnya yang miring dan berdiri di hadapaan Hari tanpa rasa takut.
"Tahu darimana bila aku menghianati Sabia, huh? Tahu apa kamu!" Kaisar mendorong Hari hingga membuat adiknya mundur beberapa langkah.
"Kalo sampai berita ini didengar oleh Papa, tamatlah riwayatmu, Kak!"
"Aku tidak peduli, Hari. Aku tidak butuh warisan itu! Ambil saja untukmu! Aku lebih memilih untuk hidup tenang berdua dengan Sabia daripada bersama kalian!!" teriak Kaisar dengan keras sambil mencengkram erat kerah kemeja Hari.
Mendengar suara ribut di luar, Steven, manajer Patricia keluar dari ruangan dan mendapati Kaisar serta Hari saling bersitegang.
"Mas Kaisar, tenang, Mas!" pinta Steven sembari menarik lengan Kaisar agar melepaskan Hari.
Kaisar menoleh sekilas, ia melepaskan Hari dan berbalik menatap Steven dengan amarah meluap-luap.
__ADS_1
"Katakan di mana Pat bersembunyi?" todongnya penuh emosi.
Steven menggeleng, ia memang tak tahu di mana keberadaan Patricia karena sejak kemarin modelnya itu tidak bisa dihubungi. Terlebih setelah tersebar berita yang menghebohkan agencynya. Patricia seolah lenyap di telan bumi.
"Saya tidak tahu di mana Patricia! Saya serius, Mas Kai. Sejak pagi kami ditodong oleh banyak wartawan setelah Pat mengunggah foto kalian di media sosialnya. Mohon maaf, saya juga bingung mencari Pat!"
"Katakan padanya, aku akan menuntutnya hingga ke neraka! Aku tidak main-main, Steven! Aku akan mencarinya meski di lubang kuburan sekalipun!! Dia sudah membangunkan singa yang sedang tidur, dia salah sudah berani berurusan denganku!!" ancam Kaisar berapi-api.
Usai mengucapkan sumpah serapahnya, Kaisar berbalik dan pergi begitu saja. Dia tak mempedulikan tatapan kebingungan Hari atas perkataannya.
"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" tanya Steven saat melihat Hari masih mematung di tempatnya.
Hari menoleh dan berdeham. "Saya akan menuntut agency ini karena telah menyebarkan foto CEO kami tanpa ijin. Tolong sampaikan pada artis kalian untuk menarik foto itu dan tidak berstatement apapun pada media!! Bila tidak ada itikad baik untuk menghapus foto-foto itu dalam 1x24 jam, siap-siap saja Agency kalian akan gulung tikar!!" kecam Hari.
Steven menelan salivanya gugup, ia mengangguk paham. "Baik, kami akan segera menindaklanjuti berita tak mengenakkan ini."
..
..
Dengan laju kecepatan penuh, Kaisar menginjak pedal gasnya dengan kalap. Ia sudah mendatangi apartemen Pat dan kantor agency-nya namun tak jua menemukan wanita jalangg itu. Kaisar mencoba mengingat-ingat di mana biasa Patricia menyepi, namun karena pikirannya kalut, ia jadi tak bisa menggali memorinya lebih dalam.
"Damnn you, Bitchhh!!" rutuk Kaisar marah sembari meninju setir mobilnya.
Buku-buku jarinya memerah setelah berulang-ulang Kaisar memukuli setir itu. Ia ingin melampiaskan semua amarahnya yang meletup-letup di dalam dada. Betapa bodohnya Kaisar lengah di saat ia pikir semua sudah baik-baik saja. Patricia justru meluncurkan serangan di saat ia dan Sabia baru saja merasakan kebahagiaan rumah tangga. Tak bisa ia bayangkan seandainya Papanya atau keluarga Sabia melihat fotonya yang sedang berciuman dengan Patricia, juga beberapa foto saat ia tertidur dipelukan wanita jalangg itu. Sepertinya Pat memanfaatkan situasi ketika Kaisar kehilangan kesadaran kemarin untuk membalas dendam. Karena sejak berhubungan dengan Patricia, tak sekalipun Kaisar memiliki foto berdua dengan mantan kekasihnya itu. Patricia selalu menolak dengan alasan takut privacy-nya ketahuan media, dan sekarang malah ia sendiri yang menyebar foto-foto itu tanpa rasa takut akan reputasinya.
Bingung harus ke mana, akhirnya Kaisar memutuskan untuk pulang ke rumah. Entahlah, ia jadi merindukan istri kecilnya yang semoga saja tak mendengar kabar apapun tentang Kaisar dan Patricia. Bila sampai Sabia tahu, bisa-bisa gadis labil itu akan kembali berbuat nekat seperti dulu!
Tiba di rumah Mahaputra, Kaisar mengernyit penasaran saat melihat sebuah mobil taksi berhenti di halaman rumahnya. Feelingnya mulai tak bagus, dengan cepat Kaisar memarkir mobilnya di sembarang tempat dan meloncat turun. Ia berlari masuk ke dalam rumah dengan dada bergemuruh hebat. Tidak, tidak, jangan sampai pikiran buruknya jadi kenyataan!!
"Ayo, pulang!"
Kaisar berhenti di pintu yang terbuka dengan napas terengah-engah, ia melihat Pak Darma tengah menarik tangan Sabia dan membawa tak jinjing besar.
"Nggak mau, Ayah! Aku mau nunggu Kaisar pulang! Aku nggak mau pergi tanpa Kaisar!"
"Dia bukan lagi suamimu! Lupakan laki-laki bajingann itu mulai sekarang!" teriak Pak Darma murka.
Kaisar mengawasi Mira dan Bik Yati yang berusaha menenangkan Pak Darma yang tengah emosi. Dengan langkah pasti, Kaisar mendekat ke kerumunan itu.
Pak Darma menoleh kaget, namun detik berikutnya ia menatap Kaisar dengan tajam.
Plak.
"Anak kurang ajar! Ayah sudah memperingatkanmu berkali-kali, dan Ayah kecewa sama kamu!"
"Ayah, saya mohon. Mari kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin," pinta Kaisar mengiba seraya bersujud di depan Ayah mertuanya. "Jangan bawa Sabia pergi, Ayah. Saya tidak bisa hidup tanpa Bia."
"Persetan! Mati saja sana sekalian! Ayah tidak mau punya memantu yang tidak tahu bersyukur seperti kamu! Mulai sekarang lupakan Bia. Ceraikan dia!"
__ADS_1
Kaisar menggeleng cepat, air mata sudah membasahi pipinya. Ia berusaha melepas cekalan Pak Darma di tangan Sabia namun cekalan itu sangat kuat.
Sabia tak kalah sedih, ia sudah menangis sejak Ayahnya tiba-tiba datang dan memaksanya untuk pulang. Bia tak paham mengapa ia harus berpisah dari Kaisar, padahal selama ini Kaisar sudah sangat baik padanya.
"Ayah, saya mohon. Jangan bawa Sabia pergi. Maafkan saya, Ayah. Saya berjanji ini terakhir kali saya mengecewakan Ayah."
"Pembohong kamu! Pantas saja selama ini kamu memperlakukan kami dengan sangat baik, ternyata itu semua untuk menutupi kebusukanmu! Ayo Bia, kita pulang ke rumah dan lupakan keluarga ini!"
Sabia menggeleng tak mau, ia meraih lengan Kaisar dan mencengkramnya dengan erat. "Aku nggak mau pergi, Kai. Selamatkan aku," pintanya memohon dengan air mata berlinang.
Dada Kaisar semakin sesak, disaat ia harusnya mendapatkan dukungan atas masalah yang menderanya, kini ia justru terancam kehilangan istri dan anaknya.
"Ayah, tolong kasihani kami. Saya dan Sabia tidak mau berpisah dengan cara seperti ini!" mohon Kaisar mengiba.
Mira dan Bik Yati hanya bisa menyaksikan pemandangan pilu itu dengan air mata berurai, keduanya saling berpegangan tangan untuk menguatkan satu sama lain.
"Oh ya? Kamu nggak mau berpisah dengan lelaki yang sudah menduakanmu? Lelaki yang sudah tidur dengan perempuan lain saat istrinya yang buta gara-gara ulahnya sedang menunggunya di rumah, benar begitu Bia??!" umpat Pak Darma emosi.
"A-apa, Yah?"
"Jadi kamu belum tahu bila suami yang kamu cintai ini menduakanmu, huh? Dia tidur dengan perempuan lain saat kamu menunggunya untuk pergi ke rumah orang tuamu?!!" jelas Pak Darma masih dengan suara meninggi.
Sabia menahan napasnya yang seketika terasa sangat sakit saat ia hembuskan. Air matanya terhenti untuk sesaat, ia melepas cekalannya di lengan Kaisar dengan lemah.
"Tidak, Bia. Jangan begini, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku dijebak Bia, Patricia menjebakku dan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku!" jelas Kaisar panik. Ia meraih tangan Sabia namun dengan cepat gadis itu menepisnya.
Kaisar mengusap wajahnya dengan frustasi, ia kembali mencoba meraih tangan itu namun Pak Darma lebih dulu menarik Sabia pergi.
"Ayah, jangan bawa Bia pergi, Ayah!" pinta Kaisar bersujud dan memegangi lutut Pak Darma dengan gesit.
Pak Darma menghela napasnya berat.
Bug.
Ia menendang tubuh kekar Kaisar hingga menantunya itu terjengkal.
Bik Yati dan Mira sontak berlari untuk membantu Kaisar bangkit. Namun Kaisar segera menepis tangan keduanya dan kembali mengejar Pak Darma yang sudah sampai di teras.
"Ayah, saya mohon." Kaisar hendak sujud kembali namun Pak Darma kembali menendangnya sebelum ia sempat menyentuhkan lututnya di lantai.
Sabia menangis tersedu-sedu, air matanya sudah membasahi seluruh wajahnya. Hatinya sakit sekali, terlebih saat mendengar suara jatuhnya Kaisar akibat tendangan ayahnya tadi. Entahlah, Bia tak bisa membedakan mana yang lebih menyakitkan di antara keduanya, apakah penghianatan Kaisar atau perpisahan mereka saat ini.
"Bia ..." lirih Kaisar menahan sakit karena tendangan Pak Darma tadi tepat mengenai dadanya. Ia tak sanggup lagi untuk bangkit.
Dengan tergesa-gesa, Pak Darma menyeret Sabia masuk ke dalam mobil. Kaisar masih bisa melihat tangis Sabia yang menyayat hatinya, ia bisa melihat kekecewaan istrinya itu namun ia tak bisa melakukan apapun untuk menahan kepergiannya.
"'Maafkan aku, Bia ..."
********************
__ADS_1
đź’” potek hati otor!