GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Hancur


__ADS_3

Air mata Sabia masih tak berhenti sejak tadi, ia meratapi nasibnya yang malang. Sejak masuk ke dalam mobil taksi yang mereka tumpangi, tak sekalipun Pak Darma membuka mulut lagi. Bibirnya masih terkatup rapat, ia sangat kecewa dan sakit hati pada perbuatan menantu yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Dengan kejinya Kaisar tega menduakan putrinya dan tidur dengan wanita model itu!


Bila dibandingkan dengan Sabia, tentu anaknya kalah jauh dengan model itu. Pantas saja Kaisar berpaling dan berselingkuh dengannya, model itu lebih segala-galanya dibanding anaknya yang polos dan lugu.


Pak Darma menghembuskan napasnya berat. Ia menoleh pada putrinya yang masih saja menangis tiada henti. Hatinya sakit, ia terluka, mentang-mentang mereka kaya lalu mereka bisa berbuat seenaknya? Cih! Meskipun miskin namun Pak Darma masih punya harga diri!!


"Berhentilah menangis, Bia. Dia tidak pantas untukmu!" cetus Pak Darma kesal.


Bia tak merespon, ia menyeka air matanya perlahan. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, rasanya ia ingin mati saja saat ini. Ia baru saja merasakan bahagia, namun secepat kilat semua berubah menjadi duka.


Taksi tiba di rumah sederhana keluarga Darma setengah jam kemudian. Pak Darma menuntun Sabia turun dengan hati-hati. Ia lantas membayar ongkos taksi dan membawa putrinya masuk ke dalam rumah.


Bu Darma yang sejak tadi menunggu kedatangan keduanya di ruang tamu sontak berdiri dan menghampiri putrinya yang kusut dan berantakan.


"Bia ..." Bu Darma memeluk putrinya dengan erat, ia menangis lagi.


Sabia yang lelah hanya mematung tanpa ekspresi, air matanya sudah tak lagi menetes, ia justru ingin tidur.


"Aku ingin istirahat, Ma," pintanya sambil mengurai pelukan Bu Darma perlahan.


Bu Darma menyeka air matanya dan menuntun Sabia ke kamar. Ia membantu putrinya tiduran di ranjang dan menyelimutinya.


"Istirahatlah, Nak. Panggil Mama jika kamu butuh sesuatu, ya?"


Bia mengangguk datar, Bu Darma menyeka air matanya yang sempat menetes lagi dan lekas beranjak keluar dari kamar.

__ADS_1


Sepeninggal Mamanya, Sabia berbalik dan memejamkan mata. Ia tidur dibantal yang biasa digunakan Kaisar bila menginap di rumah ini, aroma parfumnya yang tertinggal membuat dada Sabia kembali sesak.


"Kai ..." tangis Bia kembali pecah. Ia menciumi bantal itu dengan penuh rasa rindu.


Harus beginikah akhir dari kisah mereka? Lalu bagaimana dengan janin yang Bia kandung? Dia adalah harta satu-satunya yang Bia miliki saat ini, peninggalan Kaisar yang pernah sangat ia cintai.


"Maaf ya, Teman. Kamu harus merasakan kesedihan ini untuk beberapa hari ke depan. Tapi aku janji, setelah ini kita pasti bisa melewatinya berdua!" Sabia mengelus perutnya dengan pilu.


Entah karena kelelahan setelah seharian menangis, Sabia akhirnya terpejam dan tenggelam di dunia mimpi.


..


..


Sementara itu di kediaman Mahaputra, Mira dan Bik Yati sibuk mondar-mandir untuk merawat Kaisar yang mengalami memar di bagian dada. Mira memberikan handuk dingin untuk mengompres memar itu.


Kaisar menggeleng lemah, hatinya jauh lebih sakit dibanding memar yang tak seberapa ini. Ujian yang menimpanya sekaligus membuat Kaisar sangat syok, kehilangan Sabia adalah mimpi buruk yang akhirnya menjadi kenyataan. Ia tak menyangka bila mereka akan berpisah secepat ini, bahkan semalam mereka masih bermesraan!


"Mana anak kurang ajar itu!!"


Teriakan Syailendra di teras membuat Mira dan Kaisar tersentak kaget. Dengan sigap Mira berdiri dan melindungi Kaisar yang tergeletak lemas di sofa.


Syailendra masuk saat pelayan membukakan pintu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan terpaku menatap Mira yang berada di ruang tengah.


"Mana Kaisar?!" seru Syailendra murka sembari menghampiri istrinya.

__ADS_1


Mira masih tak bergeming menutupi putra sulungnya, ia bersiap-siap seandainya Syailendra kalap. Dan benar saja, saat melihat Kaisar berada di balik tubuh Mira, Syailendra sontak mempercepat langkahnya dengan tangan terangkat ke atas bersiap untuk memukuli putranya.


"Papa, sudah cukup! Kaisar sudah mendapat hukuman hari ini!" bela Mira menahan suaminya sekuat tenaga.


Kaisar tak bergeming, ia tak takut seandainya Syailendra akan membunuhnya kali ini. Toh, mati lebih baik daripada ia harus kehilangan Sabia dan calon anaknya seperti ini.


"Jangan bela dia, Ma! Anak durhaka ini harus mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi!" Syailendra menunjuk wajah Kaisar dengan marah.


"Tidak. Sudah cukup, Pa. Kaisar sudah babak belur seperti itu, apa Papa tega lihat dia lebih hancur lagi?" sentak Mira terisak.


Syailendra menurunkan tangannya yang terangkat ke atas, Kaisar melirik tangan itu dengan kecewa, padahal tadinya ia sudah berharap pukulan yang jauh lebih menyakitkan dari tendangan Pak Darma akan membunuhnya kali ini.


"Sabar, Pa. Ini ujian buat kita. Yang Kaisar butuhkan adalah support dari kita! Siapa lagi yang akan mendampinginya bila semua orang menghujat dia, Pa. Kasihan, Kai!" rutuk Mira tak kuasa menahan kesedihan.


Syailendra melirik Kaisar yang masih tak bergeming, ada rasa kecewa, amarah dan kesal menjadi satu. Namun melihat ekspresi Kaisar yang sendu, rasa iba itu tiba-tiba saja muncul. Akhirnya Syailendra duduk tak jauh dari putranya dan menatap tajam padanya.


"Katakan, apa maksud Patricia mengunggah foto-foto kalian?? Di mana perempuan itu sekarang?!"


Kaisar menggeleng tak tahu, dadanya masih terasa sesak dan sakit setiap kali ia menghembuskan napas.


"Dia marah karena aku memutuskan hubungan dengannya. Dia sudah mengancam akan menghancurkanku, tapi aku tidak menyangka dia benar-benar melakukannya!" jelas Kaisar menahan geram.


"Lalu di mana dia sekarang?!"


"Aku tidak tahu, Pa. Aku sudah mencarinya di apartemennya, di kantor agencynya juga. Tapi tidak ada yang tahu di mana keberadaan Pat!"

__ADS_1


"Wanita jalangg!! Beraninya dia berurusan dengan keluarga Mahaputra!" decit Syailendra dengan kilatan mata penuh amarah. "Cari dia bagaimana pun caranya! Papa akan buat perhitungan dengannya!"


**********************


__ADS_2