
Setelah Sabia menghilang di balik pintu kamar, Kaisar perlahan bangkit dari sofa. Ia masih menatap tajam pada Hari seolah ingin menusukkan belati padanya.
"Ikut denganku, Hari!" perintah Kaisar dingin. Ia lebih dulu naik ke lantai dua menuju ruang kerja.
Hari yang telah mengira bila Kaisar pasti akan marah, tak banyak bertanya lagi. Ia mengikuti langkah kaki Kaisar yang lebar dan berat.
Setiba di ruang kerja, Kaisar menghela dan menghembuskan napasnya berkala, berharap amarahnya menguap seiring dengan karbondioksida yang ia hembuskan. Dadanya masih berdebar hebat, melihat Hari menuntun dan menyentuh Sabia tadi membuat aliran darah menuju jantungnya seketika tersendat.
Hari menutup pintu dengan pelan. Ia memperhatikan gelagat Kaisar yang seolah menahan amarah yang siap meluap. Kakaknya itu memunggungi Hari dan mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya.
"Dari mana saja kalian?" tanya Kaisar memecah sunyi.
"Nonton bioskop. Lalu makan malam," ungkap Hari jujur.
"Apa kamu tahu bila Sabia tak pantas keluar denganmu?" Kaisar berbalik, ia menatap tajam ke arah Hari.
Hari mengernyit heran. "Tidak pantas? Maksudnya bagaimana?"
"Kamu tahu kan kalo Sabia adalah istriku. Tidak sepatutnya kalian sering keluar berdua seperti ini. Orang akan berpikir yang tidak-tidak jika melihat kalian terlalu sering bersama!"
Hari tersenyum lirih, ia balik menantang tatapan Kaisar tak kalah tajam. "Kenapa kamu tiba-tiba mengkhawatirkan penilaian orang, Kak? Selama ini memangnya bagaimana?"
"Selama ini aku diam karena aku pikir kalian--"
"Pikiranmu tidak salah, Kak. Aku dan Bia hanya berteman, selayaknya saudara. Aku menghargai Bia karena dia adalah istri yang kamu sia-siakan, istri yang tidak pernah kamu pedulikan, bahkan mungkin kamu tidak sadar bila selama ini sudah memiliki istri di rumah ini."
"Tutup mulutmu, Hari. Kamu tidak tahu apa-apa tentangku!"
__ADS_1
"Aku tahu, Kak. Hanya saja selama ini aku selalu diam, bahkan menutupi kebusukanmu dari Sabia, hingga akhirnya dia mendengarnya sendiri dari salah satu karyawan kita yang sedang bergosip di pesta ulang tahun kantor!"
Kaisar tercekat, bibirnya seketika kelu. Letupan di dalam dadanya berganti gemuruh.
"Seluruh orang di kantor sudah tahu tentang gosipmu dan Patricia. Tidakkah kamu tahu tentang hal itu?"
"Aku dan Pat sudah putus. Kita sudah tidak berhubungan lagi!"
"Oh, jadi karena itukah akhirnya kamu jadi sangat overprotektif pada Sabia? Karena Patricia sudah mencampakkanmu?"
Tangan Kaisar terkepal, wajahnya merah padam menahan emosi.
"Aku yang memutuskan Pat!"
"Oh, baguslah! Jadi sekarang kamu sudah memilih Bia?"
Hari terhenyak, ia menghembuskan napasnya berat. "Kalo begitu tidak seharusnya kamu melarang Bia keluar denganku. Karena selama dia tidak dimiliki oleh siapapun, berarti dia bebas."
"Dia istriku, Hari!" bentak Kaisar murka. "Dia tidak boleh keluar dengan lelaki manapun selain aku."
"Bagaimana denganmu? Kamu suaminya, kan? Kenapa masih bebas keluar dengan wanita manapun dan tidur dengan mereka."
"Tutup mulutmu! Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan."
"Buktikan, Kak! Buktikan bila kamu tidak seburuk yang ada dipikiranku!" tantang Hari penuh emosi.
Kaisar menggemeretakkan gigi, rahangnya mengeras sempurna.
__ADS_1
"Pilihlah dengan tegas antara Sabia atau Patricia. Selama kamu belum memilih, aku menganggap Sabia bukanlah milikmu."
"Apa kamu akan merebutnya seperti Mamamu merebut Papaku?" todong Kaisar ketus.
Hari terbelalak, untuk beberapa saat napasnya seketika menjadi sesak. Setelah bisa menguasai diri, Hari merespon dengan senyuman lirih.
"Jadi karena inikah kamu membenciku selama bertahun-tahun?"
"Benar. Karena kalian telah merebut Papaku hingga membuat Mamaku putus asa dan meninggal karena depresi. Tidakkah kamu merasa bersalah akan hal ini?"
"Siapa yang mengatakan hal konyol macam itu?!"
"Kamu tidak perlu tahu siapa yang memberi tahuku." Kaisar menatap tajam pada Hari dan mendekatinya perlahan. "Menjauh, Hari. Menjauhlah dari Sabia. Dia milikku. Dan selamanya akan seperti itu meskipun aku harus mempertaruhkan semuanya!" kecam Kai sebelum kemudian pergi meninggalkan Hari.
Kaisar sengaja menyenggol bahu adiknya dengan kasar saat melewatinya, sebagai sinyal bahwa ia tak main-main.
"Apa kamu mencintai Sabia?" tanya Hari sebelum Kaisar sempat menyentuh pintu.
Hening, Kai tertegun untuk beberapa saat mendengar pertanyaan Hari. Pertanyaan yang sama dengan Ayah Darma kala itu. Dan ia sendiri tak berani menjawabnya.
"Kamu tidak mungkin seprotektif ini pada Bia bila tidak memiliki perasaan apapun padanya!" timpal Hari tak sabar, ia berbalik dan mengawasi Kaisar yang mematung di pintu.
Bukannya menjawab, tangan Kaisar yang telah menyentuh handle pintu perlahan bergerak menekannya ke bawah. Ia pergi tanpa menjawab pertanyaan itu dan meninggalkan Hari yang tergugu sendiri.
Ucapan Kaisar tadi telah melukai hatinya, lagi. Jadi inilah alasan mengapa Kaisar berubah sejak ia masuk SMA, karena mendengarkan gosip tak jelas tentang hubungan orang tuanya. Hari tersenyum kecut, ia bertekad untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
************************
__ADS_1
Bestie, jan lupa jempol, vote dan klik favoritnya ❤️