
Pagi sekali, Kaisar terbangun dari tidurnya yang hanya ia nikmati selama 4 jam saja. Semalam ia baru selesai menghias cake Bia sampai jam 12 malam, ia ingin semua terlihat sempurna meskipun harus mengorbankan waktu dan tenaga. Toh, tahun depan ia tak akan lagi menemani ulang tahun istrinya itu, bukan?
Hari ini adalah hari kelahiran Sabia yang sudah ia siapkan sejak seminggu yang lalu bersama mama mertua. Gadis labil yang selama beberapa bulan ini menjadi istrinya, yang selalu tidur di sebelahnya, teman berselisih dan bocil yang selalu menguji kesabarannya itu bertambah usia. Kaisar tersenyum lirih seraya menatap wajah Sabia yang masih rapat terpejam di sebelahnya. Wajah polos itu sangatlah cantik meski tak terpoles make-up apapun, dan Kaisar tak pernah bosan memandangnya.
"Happy birthday, Bia," lirih Kaisar seraya mengelus rambut istri kecilnya itu dengan lembut. "You deserve all the happiness in this world."
Bia menggeliat perlahan, membuat Kaisar sontak menarik tangannya dengan cepat. Semoga Bia tidak mendengar apa yang baru saja ia ucapkan!
Dengan gerakan yang sangat perlahan, Kaisar bangkit dari ranjang dan bergegas mandi. Ada beberapa urusan di kantor yang harus ia selesaikan dengan cepat sebelum nanti siang ia meluncur ke kediaman Darma.
..
..
Sementara itu, Sabia yang tak ingat bila hari ini adalah hari ulang tahunnya, malah sibuk di ruang galeri sejak pagi selepas sarapan. Ia tak mendengar suara ponselnya yang berdering nyaring di dalam kamar dan berbunyi berkali-kali, panggilan dari Mamanya.
Kali ini ia fokus membuat patung wajah Mira yang ternyata lebih sulit dibanding wajah Hari. Membuat patung wanita ternyata lebih kompleks, dan Bia butuh bimbingan Pak Jovan.
"Kak Bia masih ingat kan, kita perlu membuat dua lingkaran kecil untuk bagian cuping."
Bia mengangguk paham, ia mencuil clay dan membentuknya menyerupai bulatan kecil.
Tok tok tok.
Bia menghentikan tangannya untuk sejenak saat terdengar suara ketukan di pintu.
"Ya, masuk!" perintah Pak Jovan.
Bik Yati menekan handle pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam.
"Permisi, Non Bia, dipanggil Nyonya besar sebentar."
Bia meletakkan clay di tangannya dan berdiri. "Saya ijin sebentar ya, Pak?" pamitnya kemudian.
Pak Jovan mengangguk. "Baiklah. Silahkan!"
__ADS_1
Bik Yati lekas menghampiri Nonanya dan menggamit lengan Sabia, menuntunnya keluar untuk menemui Mira yang sudah menunggunya di ruang living room.
"Bia, barusan Papa dapat telefon dari Rumah Sakit. Ada stok kornea untukmu!" jelas Mira bahagia begitu melihat menantunya tiba.
Bia terbelalak. "Benarkah, Ma? Sekarang?"
"Iya. Cepatlah bersiap-siap. Untuk sementara waktu ijinlah pada Pak Jovan."
"Baik. Bia siap-siap dulu, Ma!"
..
..
Di perjalanan menuju Rumah Sakit, Bia tak henti-hentinya bersyukur dan tersenyum. Bik Yati sudah membawakan beberapa baju ganti seandainya hari ini akan dilangsungkan operasi.
"Kamu senang?" tanya Mira begitu mereka telah sampai di Rumah Sakit.
Bia mengangguk cepat. "Seneng banget, Ma. Akhirnya Bia bisa melihat lagi!" cicitnya riang.
Melihat kobaran semangat menantunya, tak ayal membuat Mira meneteskan air mata haru. Ia paham benar bagaimana perasaan Sabia selama ini. Diacuhkan dan diduakan oleh Kaisar pasti telah membuatnya sangat terluka, namun Bia selalu bisa menyembunyikan kesedihannya di depan siapapun.
"Apakah aku akan di operasi hari ini, Ma?" tanya Bia begitu ia berjalan bergandengan bersama Mira.
"Semoga saja begitu. Mama belum menghubungi orang tuamu, biar nanti kita kasi mereka surprise!" saran Mira berbinar.
Bia mengangguk setuju. "Betul. Jangan beritahu siapapun ya, Ma! Cukup kita bertiga saja yang tahu."
"Pasti, Sayang!" Mira mengelus pipi menantu kesayangannya.
Sesampai di lobi menuju ruangan Dokter Alex, Mira memperlambat langkahnya saat dari kejauhan ia melihat Dokter senior tersebut sedang menenangkan seorang lelaki yang menangis di depan pintu ruangannya.
"Ada apa, Ma?" tanya Bia curiga.
Mira menghela napasnya untuk sesaat, ia sendiri tak paham apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
"Tolong saya, Dokter! Saya ingin melihat putri saya untuk yang terakhir kali. Ijinkan saya di operasi lebih dahulu!"
Deg.
Sabia menghentikan langkahnya begitu mendengar raungan tangis seorang lelaki.
Mira melepas cekalannya pada Bia dan menghampiri Dokter Alex.
"Ada apa, Dokter?" tanyanya kebingungan saat tatapannya bertemu dengan Dokter Alex.
"Saya mohon, tolong saya, Dokter! Kasihanilah saya!" jerit Bapak tadi seraya bersimpuh di kaki Dokter Alex. Sementara itu seorang perempuan nampak menenangkan suaminya itu.
Bia tercekat, suasana hatinya mendadak sendu setelah mendengar raungan tangis yang menyayat hati itu.
...Credit pict : Pinterest...
"Begini, Bu Mira. Bapak ini meminta untuk dioperasi lebih dulu karena Putrinya sedang kritis. Beliau ingin melihat Putrinya untuk yang terakhir kali sebelum ..."
"Nyonya, saya mohon! Sudilah kiranya Nyonya mengasihani saya. Putri saya sedang koma dan kritis, saya akan menyesal seumur hidup seandainya tidak bisa melihat jasadnya dan menguburkannya sendiri! Saya mohon Nyonya, kasihanilah saya!" tangis Bapak itu mengiba.
Tanpa sadar, Bia juga ikut meneteskan air mata mendengar permohonannya. Ia memang ingin melihat, ia ingin dioperasi, namun setidaknya ia masih bisa menunggu sekali lagi, bukan?
Ia seketika teringat pada ayahnya sendiri.
"Baiklah, Dokter. Silahkan Bapak itu yang dioperasi lebih dahulu," putus Bia mantap.
Mira dan Dokter Alex terbelalak tak percaya. Bagaimana mungkin Sabia mengalah dengan mudah sementara stok kornea tidak selalu ada.
"Kamu yakin, Bia?" tanya Mira syok.
"Yakin, Ma. Bia masih bisa menunggu, sementara Bapak itu bisa saja kehilangan kesempatan untuk melihat putrinya kapan saja."
"Terimakasih, Nak! Terimakasih banyak!! Semoga Tuhan membalas kebaikanmu!"
__ADS_1
******************
Ahhh, otor jadi ikutan mellow nulis part ini. Jan lupa siapin tisu untuk bab-bab seterusnya ya, Bestie!