
Karena pameran tutup jam 9 malam, jadi Sabia dan Zefco bergantian standby mengawasi para staf. Malam ini giliran Bia yang berjaga hingga nanti jam 9 dan Zefco mendapat giliran besok.
Usai ngopi bersama Zefco tadi, Bia memutuskan membeli roti untuk mengganjal perut beberapa stafnya yang telah standby sejak pagi. Karena tak menemukan seorang pun staf di depan, akhirnya Bia membawa sepuluh kotak roti itu dengan menumpuknya di depan badan. Bia lupa tak meminta kresek tadi.
Dengan kewalahan, Bia membawa kotak itu ke dalam. Tubuhnya yang mungil dengan tumpukan kotak hingga menutupi hidung membuat jarak pandangnya sangat terbatas. Dan ketakutannya benar-benar terjadi! Dia jatuh setelah membentur seseorang di lorong yang memang di setting dengan lampu temaram.
Kotak roti yang berceceran, pantat yang nyut-nyutan serta kepala yang pening karena terjatuh secara paksa membuat emosi Sabia mulai terpancing. Ia menatap seorang lelaki berpakaian hitam di depannya yang juga ikut jatuh terjerembab.
"Hey, kamu!" rutuk Bia kesal. "Nggak liat apa kalo saya jalan bawa kotak segini banyak!!"
Lelaki itu menunduk dan menarik masker wajahnya hingga bawah mata. Sambil mendengus kesal, Bia berdiri perlahan.
"Sorry ..." lirih lelaki itu dengan aksen british english.
Bia semakin mendengus kesal, ia merasa percuma mengomel pada bule yang tak tahu bahasa Indonesia!
Bia pun menata kotak-kotak itu kembali dan mengangkatnya dengan hati-hati. Bukannya membantu, lelaki itu malah berlalu seolah tak melakukan dosa apapun barusan!
__ADS_1
"Dasar bule aneh!!" omel Bia sembari membawa kotaknya pergi.
"Oh, Bu Bia! Mari sini saya bantu!"
Bia melongok dari celah kotak, Voni nampak berlari menghampirinya dan membawakan separuh kotak itu hingga akhirnya pandangan Bia terbebas dari halangan.
"Mana yang lain, Von? Kenapa kamu sendiri?" tanya Bia penuh selidik.
"Teman-teman ada di dalam, Bu. Ini tadi saya keluar karena mau ke kamar mandi, tapi nggak jadi karena nemu objek bagus!"
Bia mengernyit. "Objek foto?"
Bia terhenyak. Menangisi patung Hari!? Siapa?
"Lelaki ato perempuan?" selidik Bia dengan dada berdebar.
"Lelaki, Bu. Ganteng banget! Untung sempet saya jepret."
__ADS_1
Bia lekas meletakkan kotak-kotak itu di meja.
"Coba saya lihat fotonya!" perintahnya seraya menadahkan tangan pada Voni.
"Sebentar, Bu." Voni ikut meletakkan kotak roti di meja dan menyalakan kameranya. Ia menggeser hingga foto terakhir dan menyerahkannya pada Sabia. "Ini, Bu."
Seorang lelaki berpakaian hitam nampak sedang terpaku di depan patung wajah Hari dengan air mata berlinang. Bia terhenyak, ini kan lelaki yang tadi menabraknya??
Sayangnya foto yang Voni jepret mengambil angle dari samping.
"Von, menurutmu mereka mirip, nggak?" Bia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan patung wajah Kaisar pada stafnya itu.
Voni memperhatikan patung itu dengan seksama. "Nah, lelaki ini yang tadi saya foto, Bu!"
Bia terbelalak tak percaya. Jadi, yang menabraknya tadi adalah Kaisar? Lelaki yang selama ini ia cari!!
Seolah mendapat energi, Sabia lekas berlari dengan cepat menuju lorong tadi. Jantungnya berdegup kencang, perutnya seketika melilit. Yang ia cari ke mana-mana justru berada di depannya namun Bia tak mengenalinya!
__ADS_1
"Tolong jangan pergi, Kai ..." lirih Bia sembari menerobos beberapa pengunjung yang memenuhi lorong. "Tunggu aku ..."
*************************