
"Kamu mencintaiku?"
"Tidak."
"Bohong!"
"Untuk apa aku berbohong?"
"Mana aku tahu! Kamu selalu saja berbohong sejak dulu."
Kaisar mengecup pundak Sabia dengan gemas. Di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangg keduanya, Kaisar memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat. Setelah sekian lama menahan diri, akhirnya ia menyerah saat Sabia tiba-tiba mencium pipinya di mobil.
"Kamu mencintaiku, Kai. Kamu bahkan nggak rela kehilangan aku!"
"Siapa bilang?" goda Kaisar lirih seraya mengecup daun telinga Sabia.
"Buktinya daritadi kamu pelukin aku terus!"
Kaisar tergelak, ia membalik tubuh Sabia yang membelakanginya dan mengawasi dua mata indah itu dengan sendu.
"Kamu tahu kenapa aku lari dan menghilang darimu?"
Bia menggeleng cepat.
"Karena ini ..." Kaisar menyentuh dua mata Sabia dengan lembut. "Aku tidak berani mengakui semua perasaanku karena aku takut, Bia. Setiap kali menatapmu, ada tatapan Hari juga di situ."
Untuk sejenak, Sabia terhenyak. Jadi selama ini Kaisar menghindar karena itu??
"Aku merasa bersalah pada kalian berdua, pada King juga."
__ADS_1
"Kai, kepergian Hari bukan salahmu. Semua itu sudah takdir."
Kaisar menunduk sedih, ia sedang berelaksasi untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba down lagi.
"Jauh sebelum kecelakaan itu terjadi, Hari dan Mama Mira sudah menandatangani surat pernyataan sebagai calon pendonor mata. Hari juga pernah memintaku berjanji bila suatu saat ia meninggal dan aku masih belum bisa melihat, dia akan mendonorkan korneanya padaku," jelas Bia sembari membelai pipi Kaisar.
"Tapi tetap saja semua ini tidak akan terjadi bila Patricia tidak ada di antara kita," sesal Kaisar.
"Patricia adalah perantara Hari menuju takdirnya. Toh dia langsung mendapatkan balasannya bahkan jauh lebih menyakitkan dari kita. Meninggal dalam keadaan yang jauh lebih hina daripada Hari dan King."
Kaisar kembali memeluk Sabia dengan erat. Tubuh tanpa sehelai benang itu menyatu kembali. Namun kali ini Kaisar sedang tidak mood untuk melakukannya lagi setelah ia menghajar Bia tiga kali. Ia hanya ingin menikmati hangat tubuh istrinya itu tanpa nafsu apapun di antara keduanya. Kaisar butuh ketenangan yang selama ini tak pernah ia dapatkan.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Kai. Aku yakin Hari pasti sudah bahagia sekarang," lirih Bia sedih. Ia tak pernah tahu bila selama ini Kaisar ternyata serapuh ini.
"Apa kamu mau membantuku menyembuhkan rasa bersalahku ini pelan-pelan, Bia?"
Air mata Kaisar meleleh, kilas balik kejadian setahun lalu begitu membekas dan membuatnya sangat trauma. "Maafkan aku, Bia."
"Kamu nggak salah, Kai. Semua yang terjadi bukan karena salahmu." Sabia mendekat ke bibir Kaisar dan mengecupnya lembut.
"Aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan selain kehilanganmu, Bia. Dan aku tidak siap bila itu harus terjadi saat itu. Bagiku kamu lebih berharga dari apapun. Aku bisa hidup tanpa orang lain, tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu." Kaisar memeluk Bia dengan erat hingga membuat gadis mungil itu sesak tak bisa bernapas.
"Ya ya, aku tahu. Kamu memang sangat mencintaiku sejak dulu."
Kaisar tersenyum kesal mendengar istri kecilnya itu masih saja menggodanya.
"Ayo kita menikah secara resmi, Bia!"
"A-apa??" desis Bia syok. "Kita menikah lagi?"
__ADS_1
Kaisar mengangguk cepat dan pasti. "Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Mari kita membuat banyak King untuk dilahirkan, tidur berpelukan setiap malam seperti ini dan melakukan apapun bersama-sama selamanya!"
Air mata Bia menetes, kali ini karena bahagia dan terharu. "Tapi kamu harus menemui keluargamu dulu, Kai! Papa dan Mama sangat merindukanmu. Orang tuaku juga, Ayah dan Mama pasti senang melihatmu kembali."
"Apa kamu tidak ingat lelaki tukang ledeng yang tengah malam berada di Restoran Mama?"
Bia menerawang sejenak, ia lantas terbelalak setelah mengingat lelaki tukang ledeng yang bau bawang itu!!
"Apa itu kamu??" lirih Bia tak percaya.
Kaisar mengangguk dengan senyuman khasnya yang memabukkan.
"Aku rutin mengunjungi Mama sebulan sekali. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian dan tanpa makan sambel terong buatan mama."
"Iiiih, jahat!!!" Bia reflek mencubit perut Kaisar dengan gemas.
Kaisar tergelak kegelian, ia menahan tangan Bia yang secara bringas menghujaninya dengan cubitan. Hatinya menghangat, bahkan bercanda sederhana seperti ini sudah membuat Kaisar bahagia, tak perlu membelikan barang mewah, apartemen mahal, dan tas branded seperti saat bersama Pat dulu.
"Jangan-jangan kamu juga sengaja membuatku mual gara-gara bau bawang itu!"
Kaisar mengangguk. "Kamu sangat hafal aroma parfumku, Bia. Maka dari itu aku merelakan beberapa bagian tubuhku diluluri bumbu di kulkas mama!"
"Hahaha ... dasar kamu!!!"
****************************
Hai, Bestie!
Semakin mendekati ending, yuk mampir dan ramaikan juga di karya otor yang berjudul "(Bukan) Suami Pura-Pura". Ditunggu, ya! 🥰
__ADS_1