GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Terusir


__ADS_3

Dari kejauhan, Kaisar masih mengamati rumah keluarga Darma dengan penasaran. Setelah setengah jam menunggu, mobil yang ia hafal masuk ke dalam halaman rumah itu. Kaisar menghembuskan napasnya lega, kiriman es krim untuk Bia akhirnya tiba.


Dengan hati berdebar, Kaisar melihat supir turun sembari membawa sebuah box dan mengetuk pintu rumah Sabia. Pak Darma muncul dari balik pintu dan mengobrol cukup lama dengan supirnya. Senyum Kaisar merekah saat supir itu menyerahkan box es krim pada Pak Darma, namun sayangnya respon mertuanya itu di luar dugaan. Dia mengusir supir dan menyuruhnya membawa pulang es itu.


Kaisar menghembuskan napasnya gusar, ia tahu benar Sabia sangat menyukai es krim strawberry kirimannya dan tak mau es krim merk lainnya. Tapi bagaimana mungkin Pak Darma malah menolak es krim itu?!


Tanpa menunggu lebih lama, Kaisar turun dari mobilnya dan bergegas menyusul supir keluarganya yang kebingungan.


"Pak, ada apa?" tanya Kaisar penasaran.


Pak Tino, supir keluarga Mahaputra, tersentak kaget saat menyadari Tuannya datang.


"Anu, Tuan. Ini es krimnya ditolak, disuruh bawa pulang lagi."


"Kenapa?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Bapak tadi marah banget pas tahu kiriman ini dari Tuan Kaisar," sahut Pak Tino sopan.


Kaisar menghela napasnya berat. "Ya sudah, sini es krimnya. Biar saya yang kasi."


Pak Tino menyerahkan box yang bawa dengan sigap.


"Pak Tino boleh pulang sekarang!"


"B-baik, Tuan!" Pak Tino berbalik dan lekas masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil itu berlalu, Kaisar membawa box tadi dan mengetuk pintu rumah Sabia. Terdengar suara berisik di dalam, Kaisar kembali mengetuknya dengan tak sabar.


Cklik.


Tatapan tajam dari Pak Darma menyambut kedatangan Kaisar saat pintu itu dibuka. Kaisar menghembuskan napasnya gugup dan meraih tangan Pak Darma untuk bersalaman namun lelaki seusia Papanya itu menepisnya dengan kasar.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Pak Darma ketus. "Sabia bukan lagi istri kamu! Besok Ayah akan mengurus perceraian kalian."


"Ayah, tolong maafkan saya, Yah. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini," pinta Kaisar memelas.


Pak Darma berpaling, ia benci melihat sorot mata memilukan itu.

__ADS_1


"Sudah terlambat. Kesalahanmu sudah sangat fatal. Pergilah. Lupakan Sabia!"


"Tidak, Ayah. Sabia sedang mengandung anak saya, bagaimana bisa Ayah setega ini pada kami?" Kaisar menangkupkan kedua tangannya memohon belas kasihan.


"Bia tidak ingin melanjutkan pernikahan kalian. Apa semua itu belum jelas untukmu?"


"Ijinkan saya berbicara dengan Bia sekali saja, Yah. Saya akan menjelaskan semuanya pada Bia. Saya akan menyerahkan semua keputusan ditangan Bia setelah dia mendengar penjelasan saya," pinta Kaisar memohon.


Pak Darma menghembuskan napasnya berat, ia menoleh pada Sabia dan Memey yang berdiri di ruang tengah.


"Baiklah, bicaralah berdua. Tapi jangan pernah memaksa Bia bila dia tak ingin melanjutkan hubungan kalian lagi."


Kaisar tersenyum lega. "Baik, Ayah. Saya berjanji!"


Di bangku taman, di sore yang semakin mendung. Kaisar dan Sabia duduk berdua dengan wajah tegang. Mata Sabia yang bengkak dan sembab membuat Kaisar sedih, ia meraih tangan dingin istrinya itu dengan gugup.


"Bia, apa kamu sudah makan?"


Kaisar memejamkan matanya kesal, entah mengapa malah kalimat itu yang meluncur dari mulutnya! Padahal seharusnya dia lebih dulu meminta maaf.


Air mata Bia menetes, ia menunduk sedih. Perhatian kecil dari Kaisar yang seperti ini yang justru membuatnya lemah.


"Katakan semua itu bohong, Kai! Katakan bahwa kamu ngga pernah menghianatiku setelah kamu meniduriku!" cecar Bia tak kuasa menahan kesedihan.


Kaisar tak menyahut, hanya helaan napas berat yang ia hembuskan sedari tadi.


"Kai, kenapa diam? Apa berita itu benar??"


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu diam??"


"Aku dijebak, Bia. Hari itu aku menemui Pat untuk memutuskan hubungan dengannya seperti yang sudah aku janjikan kepadamu. Dia memberiku minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang dan ..."


Bia menggelengkan kepalanya syok, air matanya kembali menetes tak terbendung. Rasa sakit di dadanya tersayat semakin dalam.


"Aku bersumpah, aku melakukannya bukan karena keinginanku, Bia. Aku dijebak. Aku minta maaf." Kaisar menggenggam tangan Sabia namun dengan cepat gadis itu menepisnya dengan kasar. "Bia, jangan begini. Aku minta maaf."

__ADS_1


"Diam kamu! Teganya kamu masih meniduriku setelah melakukannya dengan Patricia! Aku benci sama kamu, Kai!" kecam Sabia dengan suara bergetar.


Kaisar menunduk sedih, matanya sudah berkaca-kaca. "Aku sudah tidak mencintai Pat, Bia. Aku hanya mencintai kamu."


"Bohong! Kamu nggak mungkin melakukannya kalo nggak punya perasaan sama perempuan itu!!"


"Sudah aku bilang aku dijebak, Bia. Harus berapa kali aku jelaskan! Patrica mencampurkan obat ke dalam minumanku!" teriak Kaisar kesal, Bia sama sekali tak paham betapa dalamnya rasa bersalah yang ia rasakan usai menenggak minuman laknat itu.


Bia menyeka air matanya, ia berusaha untuk terlihat tegar di antara himpitan remuk redamnya perasaan yang saat ini menderanya.


"Kita berpisah saja, Kai. Aku nggak mau lagi bertemu denganmu."


"Tidak. Bia, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi. Kamu sedang mengandung, Bia. Bagaimana mungkin kamu tega seperti ini?"


"Justru karena aku mengandung, aku nggak sudi anakku memiliki ayah sepertimu! Aku jijik sama kamu!"


Jderrr.


Suara guntur tiba-tiba mengagetkan Kaisar dan Sabia yang bertengkar di sore itu. Dengan hati berdebar, Sabia menyentuh perutnya yang seketika terasa tegang. Kaisar pun tak kalah syok setelah mendengar perkataan Bia tadi.


Sebegitu hinanya kah dirinya di mata Sabia??


Apakah sudah tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan mereka?


"Pergilah! Jangan pernah datang lagi kemari. Aku membencimu. Sangat membencimu!!"


"Bia ..."


Sabia berdiri dan mengayunkan tongkatnya ke depan. Ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.


Pak Darma, Bu Darma dan Memey yang memperhatikan gadis kesayangan mereka masuk sembari berlinang air mata tak berani mendekat. Masih dengan tongkat mengayun lemah, Sabia masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu di luar, hujan mulai turun dengan derasnya. Kaisar masih terpaku di tempatnya berdiri. Tak ia hiraukan pakaiannya yang mulai basah, sesekali petir dan kilat menyambar namun tak menyiutkan nyali Kaisar untuk bergeming.


Ia menatap nanar pada pintu rumah yang tertutup rapat itu, hatinya sakit mendengar hinaan Sabia tadi, Kaisar terluka. Ia tak menyangka bila orang yang paling ia cintai justru yang paling dalam menusukkan belati. Air mata Kaisar menetes dan luruh bersama air hujan yang membuat basah kuyup seluruh tubuhnya.


Sementara itu dari dalam rumah, Pak Darma memperhatikan Kaisar dari balik jendela. Meskipun ia membenci menantunya itu, namun jiwa kemanusiaannya mulai tergelitik iba. Walau bagaimanapun Kaisar telah berbuat banyak hal untuk keluarganya.

__ADS_1


"Ayah, Bia pingsan!"


**************************


__ADS_2